Ads Top


Gravitasi Selamatkan Alam Semesta Setelah Big Bang

Tim fisikawan dari Eropa bulan ini mengeluarkan pernyataan mengejutkan, mereka menjelaskan mengapa alam semesta tidak runtuh setelah Big Bang. Para ilmuwa menyarankan bahwa hasil analisa partikel Higgs selama ekspansi telah mempercepat alam semesta awal (inflasi) menyebabkan ketidakstabilan dan keruntuhan.

Tim ilmuwan yang tergabung merupakan sekelompok pisikawan dari Imperial College London, Universitas Kopenhagen dan Helsinki. Penelitian ini didanai oleh Science and Technology Facilities Council yang bekerjasama bersama dengan Villum Foundation Denmark, dan Academy of Finland. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters, dimana tim ilmuwan menggambarkan bagaimana kelengkungan ruang-waktu berlaku pada gravitasi, memberikan stabilitas yang diperlukan bagi alam semesta untuk mempertahankan perkembangannya di periode awal. 

Alam Semesta Tak Runtuh Karena Gravitasi


Studi ini dikerjakan dengan menggunakan partikel Higgs, fasilitas CERN yang dibuka sejak tahun 2012 untuk meneliti massa semua partikel. Ilmuwan yang terlibat meneliti interaksi antara partikel Higgs dan gravitasi dengan mempertimbangkan bagaimana semua ini berbeda dengan energi. Tim ilmuwan mencoba menganalisis penyebab dan mengapa hal ini tidak terjadi di alam semesta. Berdasarkan pada teori fisika modern seharusnya mampu menjelaskan asal-usul alam semesta yang sampai saat ini belum terpecahkan. 

Galactic Hearts of Glass, gravitasi alam semesta

Mereka menjelaskan bahwa bahkan interaksi kecil dianggap sudah cukup untuk menstabilkan alam semesta dan mempertahankan keruntuhan. Menurut Profesor Arttu Rajantie dari Imperial College London, model Standar fisika partikel yang digunakan untuk menjelaskan partikel elementer dan interaksi, sejauh ini tidak memberikan jawaban 'mengapa alam semesta tidak runtuh setelah Big Bang?'.
Penelitian parameter yang tidak diketahui terakhir kali menggunakan model standar fisika partikel, analisa interaksi antara partikel Higgs dan gravitasi. Kedua parameter tidak terukur dalam eksperimen akselerator partikel, tetapi memiliki efek besar pada ketidakstabilan Higgs selama inflasi. Bahkan nilai yang diperoleh relatif kecil, cukup untuk menjelaskan kelangsungan hidup alam semesta tanpa model standar fisika baru.

Tim ilmuwan berencana melanjutkan penelitian ini menggunakan pengamatan kosmologis untuk melihat interaksi secara lebih rinci, dan menjelaskan efek apa saja yang akan terjadi pada perkembangan alam semesta awal. Dalam hal ini, mereka akan menggunakan data yang berhasil dihimpun, berharap misi Badan Antariksa Eropa akan mengukur latar belakang radiasi gelombang mikro dan gelombang gravitasi.

Profesor Rajantie menegaskan bahwa analisa ini bertujuan untuk mengukur interaksi antara gravitasi dan medan Higgs menggunakan data kosmologis. Jika mereka mampu melakukan semua rencana itu, dunia fisika akan mendapatkan titik akhir yang sampai saat ini belum diketahui dalam Model Standar fisika partikel, serta lebih dekat dengan jawaban teka-teki tentang bagaimana kehidupan terbentuk.

Referensi


Gravity may have saved the universe after the Big Bang, say researchers, 18 November 2014, by Imperial College London. Galactic Hearts of Glass (Artist Concept), image courtesy of JPL/NASA.
Journal Ref: Spacetime Curvature and the Higgs Stability During Inflation. Physical Review Letters, 2014; 113 (21) DOI: 10.1103/PhysRevLett.113.211102

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.