Ads Top


Enlil Dan Enki, Dewa Mesopotamia Yang Berebut Tahta

Sejarah Mesopotamia diawali dengan tumbuhnya sebuah peradaban, yang diyakini sebagai pusat peradaban tertua di dunia yang dihuni oleh bangsa Sumeria. Bangsa Sumeria membangun beberapa kota kuno yang terkenal, yaitu Dinasti Uruk, Ereck, Kish, dan lainnya. EnLil dianggap sosok yang terkuat setelah Dewa utama, dia disebut-sebut sebagai anak pertama Anu. Namanya diartikan sebagai penguasa angakasa, Enlil lahir ditempat ayahnya, Kediaman Surgawi, tetapi beberapa titik dimasa sebelumnya dia turun ke bumi dan memimpin wilayah Langit dan Bumi. 

Enlil pernah memimpin pertemuan bersama ayahnya, ketika para dewa bertemu dalam suatu majelis di Bumi. Mereka bertemu di pengadilan di Nippur, kota yang didedikasikan untuk Enlil dan situs kuil yang disebut EKur (rumah seperti gunung). 
Kisah ini menunjukkan bahwa manusia tidak sendirian di tata surya, namun dapat meningkatkan keyakinan tanpa harus mengurangi iman dalam ke-Mahakuasaan Universal, jika Nefilim menciptakan manusia di bumi maka mereka mungkin telah memenuhi sandiwara Sang Pencipta (New York, Februari 1977, Zecharia Sitchin).
Tidak hanya Mesopotamia, tetapi dewa Sumeria menganggap Enlil tertinggi dan memanggilnya sebagai Penguasa Semua daratan. Di Surga, dia dianggap Pangeran, di bumi dia dianggap pemimpin para dewa yang membuat langit gemetar dan bumi berguncang. Menurut kepercayaan peradaban Mesopotamia, Enlil tiba di Bumi sebelum ada yang menetap dan beradab. 

Legenda Enlil Dan Enki Dalam Teks Kuno Mesopotamia


Sebuah Hymne yang menceritakan Enlil menyatakan, Sang dewa bermurah hati menceritakan beberapa aspek masyarakat dan peradaban, dimana mereka tak akan ada jika bukan karena instruksi Enlil untuk mengeksekusi perintah Anu, jauh dan luas. Teks Mesopotamia menyatakan bahwa Enlil tiba di Bumi sebelum adanya orang-orang berkepala hitam. Seperti masa pra-manusia, Enlil mendirikan Nippur sebagai pusat pemerintahan di langit dan Bumi yang terhubung melalui beberapa ikatan. Teks-teks Sumeria yang disebut DurAnKi.

Pada awalnya, ketika dewa menghuni Nippur dan manusia belum diciptakan Enlil bertemu Dewi yang akan menjadi istrinya, Sud, yang diartikn sebagai perawat. Setelah dia menjadi istri, Enlil memberikan nama yang disebut NinLil, diartikan sebagai nyonya penguasa angkasa. Selain sebagai kepala para dewa, Enlil juga dianggap tertinggi dalam jajaran Dewa Sumeria, terkadang disebut Penguasa Daratan dan pemimpin orang-orang hitam. Hal ini membuat bangsa Sumeria menghormati Enlil dengan rasa takut dan syukur.

Enki, enlil

EnKi adalah anak lain dari Anu dimana dia melahirkan dua nama yaitu Ea dan Enki. Seperti saudaranya Enlil, Enki juga bagian dari dewa langit dan bumi, awalnya dari langit yang turun ke bumi. Ea (rumah air) adalah seorang insinyur menguasai, merencanakan, dan mengawasi pembangunan kanal sungai, serta pengeringan rawa. Seperti namanya, air dilambangkan sebagai rumahnya dimana dia membangun rumah besar di kota tepi rawa, sebuah kota yang disebut HaAKi artinya tempat ikan, kota ini juga dikenal sebagai ERiDu yang artinya rumah jauh.

Silinder Sumeria paling awal menggambarkan Ea sebagai dewa yang dikelilingi sungai mengalir, terkadang tergambar ikan. Gambar lautan terkait Ea dengan Bulan yang ditunjukkan dengan sabi, sebuah asosiasi yang berasal dari fakta bahwa Bulan menyebabkan pasang surut laut. Tidak diragukan lagi semua ini mengacu seperti pada gambar astral bahwa Ea diberi julukan NinIgiKu, artinya tuan bermata terang.

Beralih ke lahan kering, Ea mengklaim bahwa dialah yang mengajarkan cara membajak, membuka pengairan, membangun perdagangan, mendirikan peternakan. Teks adulatory menghubungkan dewa yang membawa seni dan pembuatan batu bata, konstruksi tempat tinggal dan kota, metalurgi dan sebagainya. Dewa diceritakan sebagai dermawan terbesar umat manusia, dewa yang membawa peradaban, banyak teks juga menggambarkan Ea sebagai pemimpin protagonis umat manusia di dewan para dewa. Mesopotamia dan teks Deluge Akkadia, menceritakan Ea sebagai dewa yang bertentangan dengan keputusan Majelis Para Dewa untuk menghindari bencana.

Budaya peradaban Mesopotamia dan teks Akkadia seperti Perjanjian Lama berpegang pada keyakinan bahwa dewa menciptakan manusia melalui tindakan sadar dan terencana, menguraikan metode dan proses dimana manusia yang akan dibuat. Dengan afinitas tersebut penciptaan atau munculnya manusia terlaksana, tidak mengherankan bahwa Ea dipandu Adapa (model manusia yang diciptakan oleh Ea) untuk hidup bersama Anu dilangit.
Enlil, dengan semua catatan menyebutkan dirinya sebagai putra Anu dan Antu permaisurinya, dia adalah anak sulung, tapi teriakan derita Enki mengatakan bahwa dirinya berasal dari benih yang subur, anak Anu yang pertama dilahirkan. Apakah Anu menikah dengan dewi lainnya yang kedudukannya hanya selir? Meskipun Enki tampaknya telah menerima hak prerogatif suksesi Enlil, beberapa sejarawan melihat bukti menunjukkan perebutan kekuasaan terus-menerus terjadi antara dewa Enlil dan Enki.
Tampaknya, Enki memutuskan bahwa tidak ada pemikiran dalam perjuangannya mengambil alih takhta Pencipta, dia menempatkan usaha dalam membuat putra dewa (bukan anak Enlil) sebagai penerus generasi ketiga. Dia berusaha untuk mencapai tujuan utama dengan bantuan adiknya, Nin.Hur.Sag (NinHursag). Dia juga seorang putri Anu, tapi jelas bukan dari Antu dan di dalamnya meletakkan aturan lain dalam suksesi tersebut. Tapi Enki memiliki seorang putri, bukan anak laki-laki dari Ninhursag.

Menurut teks kuno Sumeria, manusia diciptakan Ninhursag melalui proses dan formula yang dibuat Enki. Dia dianggap sebagai pemimpin dalam hal biologi dan medis, peran dewi itu disebut NinTi atau wanita yang memberi kehidupan. Sebagai pemberi kehidupan kepada para dewa dan manusia, Ninhursag dijuluki sebagai Ibu Dewi. Mammu, cikal bakal dari manusia atau 'ibu' dimana simbolnya adalah 'pemotong' atau alat yang digunakan oleh bidan peradaban Mesopotamia untuk memotong tali pusar setelah bayi dilahirkan.

Referensi


  • Twelfth Planet: Book I of the Earth Chronicles, by Zecharia Sitchin, 2007.
  • A Dictionary of Ancient Near Eastern Mythology, by Gwendolyn Leick, 1998.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.