Ads Top


Kualitas Tanaman Pangan Menurun, Manusia Kurang Nutrisi?

Bagaimana kualitas tanaman pangan dunia dalam beberapa tahun terakhir? Untuk pertama kalinya sebuah uji coba lapangan menunjukkan hasil mengejutkan, bahwa karbon dioksida telah menghambat asimilasi nitrat menjadi protein sehingga kualitas nutrisi tanaman pangan menurun mengiktui perubahan iklim.

Dalam studi yang dipimpin oleh seorang ilmuwan tanaman  University of California - Davis, Profesor Arnold Bloom, ilmuwan telah menguji kualitas tanaman pangan pada pertanian gandum dan menemukan penurunan nutrisi didalamnya. Hasil studi kualitas nutrisi tanaman pangan dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change edisi 06 April 2014.

Studi Nutrisi Makanan Dan Kualitas Tanaman Pangan


Menurut Profesor Arnold Bloom, kualitas tanaman pangan telah menurun disebabkan peningkatan karbon dioksida atmosfer yang saat ini tengah terjadi. beberapa penjelasan penurunan telah dianalisa, tapi hal ini merupakan studi pertama kali yang membuktikan bahwa karbon dioksida tingkat tinggi telah menghambat konversi nitrat menjadi protein dalam pertumbuhan tanaman pangan.

Asimilasi (pengolahan) nitrogen memainkan peran sangat penting dalam pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Dalam kasus tanaman pangan, hal ini sangat penting karena tanaman menggunakan nitrogen untuk memproduksi protein penting untuk kebutuhan gizi manusia. Seperti gandum yang menyediakan hampir seperempat protein yang dibutuhkan tubuh manusia.

nutrisi pangan, kualitas tanaman pangan

Dalam penelitian sebelumnya, ilmuwan lain juga telah membuktikan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer bumi telah menghambat asimilasi nitrat pada daun tanaman gandum dan Non-Leguminosa. Tetapi belum ada bukti dan verifikasi pada tanaman pangan yang tumbuh di lahan pertanian, dan pada saat ini Profesor Bloom telah membuktikan analisis dengan hasil yang sama.

Ilmuwan telah memeriksa sampel gandum yang tumbuh pada tahun 1996 dan 1997 di Maricopa Agricultural Center - Arizona, untuk mengamati respon gandum dengan berbagai tingkat karbon dioksida atmosfer. Saat itu, tingkat karbon dioksida masih ringan di atmosfer. Material daun tanaman pangan diuji dengan berbagai tes, kemudian dikeringkan dalam oven dan disimpan dalam vakum (segel).

Setelah lebih dari satu dekade, tim Bloom manganalisis kimia yang tidak tersedia pada saat eksperimen tanaman pangan dipanen. Mereka menemukan tiga perbedaan yang seharusnya ada seperti pada analisis daun kering tersegel tahun 1997. Hal ini menegaskan bahwa kadar karbon dioksida atmosfer telah menghambat asimilasi nitrat menjadi protein dalam tanaman pangan sangat ini.
Konsentrasi protein dalam biji gandum, beras, serta umbi kentang, telah mengalami penurunan rata-rata sekitar 8 persen disebabkan peningkatan kadar karbon dioksida atmosfer.
Penurunan nutrisi tanaman pangan akan mempengaruhi konsumsi manusia, sementara tingkat karbon dioksida atmosfer beberapa tahun terakhir terus meningkat signifikan dan akan terus terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Bukan tidak mungkin manusia akan mengkonsumsi makanan tanpa nutrisi tinggi, perubahan fisik dan ukuran tubuh, jika peningkatan karbon dioksida tidak ditanggapi sejak dini.

Dalam studi lainnya telah disebutkan bahwa hasil panen dunia akan menurun, hal ini juga disebabkan peningkatan kadar karbon dioksida. Penggunaan pupuk nitrogen mungkin akan mengkompensasi penurunan pada kualitas tanaman pangan. Tetapi juga memiliki konsekuensi tinggi termasuk biaya lebih mahal, sementara nitrat dalam tanah justru akan meningkatkan emisi gas rumah kaca atau karbon dioksida.

Referensi


University of California - Davis. Journal ref: Arnold J. Bloom, Martin Burger, Bruce A. Kimball, Paul J. Pinter, Jr. Nitrate assimilation is inhibited by elevated CO2 in field-grown wheat. Nature Climate Change, 2014. Paddy in Bogor, image courtesy of Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.