Ads Top


Benua Antartika Berubah Dingin Sejak Periode Miosen

Ketika benua Antartika berkembang dengan ukuran terbesar saat ini, perubahan iklim telah dimulai sejak periode Miosen, 14 juta tahun lalu, dimana saat itu tidak ada suhu dingin dibelahan bumi manapun dan wilayah diseluruh permukaan bumi bersuhu hangat. Secara perlahan, perluasan lapisan es benua Antartika telah memicu perubahan angin, arus laut dan lautan es di Samudera Selatan yang pada akhirnya menyebabkan perkembangan iklim bertentangan.

Hasil penelitian ilmuwan dari  Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar dan Marine Research (AWI), diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience edisi April 2014. Mereka mencoba memecahkan misteri awal paradoks perubahan iklim bumi telah terjadi sejak periode Miosen, 14 juta tahun lalu

Perubahan Iklim Benua Antartika Terjadi Sejak Periode Miosen


Benua Antarktika merupakan kutub selatan sekaligus tempat terdingin di Bumi dengan suhu mencapai -85 dan -90 derajat Celsius di musim dingin, dan 30 derajat lebih tinggi di musim panas. Bagian tengah benua terasa dingin dan kering serta sedikit curah hujan. Salju turun di bagian pesisir dengan catatan tertinggi 48 inchi dalam 48 jam. Hampir seluruh benua ini diselimuti es setebal rata-rata 2,5 kilometer. Sejak kapan benua Antartika diselimuti es dan berubah menjadi wilayah dingin?

Benua Antartika Periode Miosen

Dalam sudut pandang geologi, lapisan es benua Antartika dianggap masih relatif muda, ilmuwan menduga hal ini dari sampel sedimen berkapur dan kerang Foraminifera, dimana benua Antartika berukuran sama seperti saat ini sekitar 14 juta tahun lalu, periode Miosen. Disaat itu suhu permukaan Samudera Selatan meningkat hingga 3 derajat celcius, perkembangan yang sangat bertentangan dimana para ilmuwan tidak mampu menjelaskan secara logis apa yang telah terjadi.

Menurut penelitian sebelumnya, lapisan es benua Antartika berkembang dengan ukuran yang sama seperti saat ini sejak periode 100,000 tahun lalu. Proses perubahan iklim diatur selama periode waktu itu dan meningkatkan efek pendinginan. Lapisan es benua Antartika yang diperluas semakin banyak melepaskan energi matahari ke ruang angkasa. Hal ini diakibatkan udara diatas benua dingin dan angin lepas pantai yang kuat berhembus diatas lautan, kemudian air menjadi dingin dan menciptakan lautan es.
Tetapi hasil analisa Dr Gregor Knorr dan rekan tim lainnya mengungkapkan bahwa kondisi iklim awal saat itu suhu udara diatas benua sebenarnya menurun hingga 22 derajat Celcius ketika lapisan es mulai terbentuk yang menyebabkan pendinginan dibeberapa daerah Samudera Selatan. Disaat yang sama suhu permukaan di laut Weddell meningkat hingga 6 derajat Celcius.
Hasil penelitian menunjukkan pemahaman proses iklim melalui model untuk menggambarkan sejarah iklim pada periode Miosen, dan menegaskan bahwa mekanisme umpan balik antara faktor iklim individu secara substansial lebih kompleks daripada penelitian sebelumnya.

Model yang digunakan tidak secara langsung mensimulasikan skenario perubahan iklim selama 100 tahun, dimana analisis ini sebenarnya memberi gambaran lebih halus dan perubahan iklim benua Antartika tidak diperhitungkan secara detil. Hal ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang iklim sebenarnya yang telah terjadi sejak periode Miosen, 14 juta tahun lalu.

Referensi


AWI researchers decipher climate paradox from the Miocene: growth of Antarctic ice sheet triggered warming in the Southern Ocean, 08 April 2014, by Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar and Marine Research. Journal Ref: Climate warming during Antarctic ice sheet expansion at the Middle Miocene transition. Nature Geoscience, 2014. Antarctica Without Ice Sheet, image courtesy of wikimedia commons.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.