Ads Top


Misteri Sembilan Planet Dalam Teks Sumeria Kuno

Galaksi Bima Sakti, sekitar 150,000 tahun cahaya terlihat seperti sebuah titik kecil, bahkan nyaris tak terlihat jika diilustrasikan dalam sebuah proyeksi komputer pengamatan ruang angkasa. Tetapi yang paling menarik dari struktur alam semesta, semua itu terdiri dari berbagai filamen String yang mengatur sendiri dalam garis paralel dan kadang-kadang berpotongan disebuah 'Node' yang mengelilingi lubang kosong. Bahkan beberapa ilmuwan menggambarkan alam semesta tak beda dengan Keju Swiss.

Tentunya hal itu merupakan pandangan baru, bagaimana alam semesta terbentuk dan telah mengusik/menentang teori ilmu pengetahuan sebelumnya. Hal ini bertentangan dengan model alam semesta yang diprediksi oleh fisikawan abad ke-17, Isaac Newton, dimana gravitasi merupakan dasar dari segala sesuatu. Berdasarkan teori ini, tentunya juga sulit untuk membayangkan dimana titik awal ledakan Teori Big Bang, dan mengapa struktur Bumi berbeda? Teks Sumeria kuno telah menjawab bagaimana terbentuknya planet tata surya.

Misteri Sembilan Planet Teks Enuma Elish


Dalam teks Enuma Elish Sumeria, Epic Of Creation 1500 SM, yang diperoleh dari Perpustakaan kuno Ashurbanipal Niniwe di Irak utara, sebuah tablet menceritakan pertempuran Epik antara dewa matahari Marduk dan naga langit Tiamat. Teks ini ditemukan dalam reruntuhan Nineveh di akhir abad ke-19 Masehi, dimana terjemahannya menceritakan peristiwa surgawi yang berkaitan dengan pembentukan planet bumi dan bencana besar disebabkan planet mendekati satu sama lain, melepaskan energi listrik seperti teori alam semesta listrik. 

Enuma Elish Sumeria, Epic Of Creation
Muncul dari Luar Angkasa, "Marduk" masih planet yang baru lahir... sendawa api dan memancarkan radiasi... Sebagai "Marduk" dia mendekati planet lain... berpakaian halo... sepuluh Dewa.
Pendekatannya... telah menimbulkan... listrik dan emisi lainnya... dari benda lain dari tata surya. Sepuluh tubuh langit menantinya... Matahari dan hanya sembilan planet lain yang patut.
Para Dewa telah menetapkan takdir Marduk, mengkombinasikan tarikan gravitasi mereka... sekarang... menentukan... jalur orbit Marduk ini, sehingga dia bisa pergi... tapi salah satu... menuju "Pertempuran", tabrakan dengan Tiamat!
Pembuangan energi listrik... sebagai akibatnya dua planet berkumpul, tarikan gravitasi (bersih), dari satu atas lainnya... 

Bukti ini menunjukkan bahwa, pada satu waktu, Venus mendekati Bumi seperti menunjukkan ekor komet di langit. Busur listrik terlihat diantara planet saat mendekati satu sama lain yang menyebabkan luka dalam dan kawah serta puing-puing yang pernah menghujani permukaan bumi. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah manusia sebagai Epos para Dewa Langit yang berbentuk representasi artistik kuno, dapat ditemukan di Mesir. 

Pertempuran Dewa Matahari Dan Naga Langit


Gambar di sebelah kanan telah diambil dari belakang tahta Tutankhamun yang menggambarkan istri raja Tut, Ankhesenamun. Terlihat sang ratu mengenakan mahkota yang sangat khas terdiri dari bola dan dua bulu yang tinggi. Hiasan kepala tidak biasa ini merupakan fitur menonjol dalam seni Mesir, meskipun bentuk sebenarnya terdapat beberapa varian warna. Disk atau bola itu didominasi warna merah tua tradisional Mesir, tanduk disampingnya biasanya berwarna hitam sedangkan bulu berwarna emas atau biru dan tanpa filamen.

sembilan planet

Bola itu melambangkan Venus, tanduk melambangkan busur yang membuang angin surya ke permukaan Venus, membungkus tubuhnya karena kurangnya medan magnet intrinsik. Kedua bulu besar mewakili magnetosfer yang terbelah dua dan mengalir setidaknya sepanjang tiga kali diameter Venus. Sebuah lonjakan listrik pada filamen akan menyebabkan benda angkasa bercahaya, dan Venus akan terlihat seperti komet di langit. 


Video ini setidaknya menggambarkan pertempuran Dewa dan Naga Langit yang menyemburkan api. Simbolisme yang tercantum dalam teks Sumeria kuno dan seni Mesir tampaknya masih dapat dibuktikan dengan fenomena alam semesta, seperti dalam kasus komet Neat.

dewa ra, dewa matahari

Dewa Ra dalam seni Mesir dihiasi dengan bola pada setiap monumen, makam, dan dinding candi di seluruh Mesir, bahkan dimasukkan ke dalam perhiasan Mesir. Matahari menyilaukan, berwarna kuning emas dengan sinar yang memancar. tetapi orang-orang Mesair menggambarkan matahari dengan warna merah, bukan warna kuning emas. Situasi yang membingungkan, terutama ketika mempertimbangkan bahwa emas adalah daging Dewa Ra, dewa Matahari sebagaimana ditunjukkan oleh firaun dalam karya seni Mesir. 

Anggapan bahwa kebudayaan kuno Mesir hanya merasakan matahari merah sangat menarik. Tidak sedikit fakta yang menjelaskan bahwa matahari merah berarti tidak ada silau sehingga mereka mampu melihat langsung matahari, tidak seperti saat ini yang bisa membutakan mata jika melihat matahari kuning emas dengan mata telanjang. Aspek pertempuran Matahari juga tergambar dalam segel silinder Mesopotamia, dimana Dewa Matahari Utu/Shamesh digambarkan dengan sinar berapi-api di bahunya. Dia juga memegang pemotong, memotong jalan melalui ufuk timur untuk kembali bangkit.  

Referensi

  • Enuma Elish Vol 1 & 2: The Seven Tablets of Creation; The Babylonian and Assyrian Legends Concerning the Creation of the World and of Mankind, by L. W. King, July 1999
  • Imentet and Ra from the tomb of Nefertari, 13th century BC, image courtesy of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.