Ads Top


Perang Suci Mahdi Akan Invasi Shambhala Di Akhir Zaman

Beberapa kontroversi yang masih menjadi topik pembicaraan saat ini adalah teks perang suci yang tercantum dalam Tantra Kalacakra, sebuah catatan yang ditulis Raja Kalki sekitar delapan ratus tahun sebelum munculnya Islam. Didalamnya disebutkan bahwa ajaran yang dibawa oleh para guru besar tersebut akan membawa bencana, dimana salah satu pemimpinnya yang disebut 'Mahdi' akan melakukan invasi ke Shambhala di akhir zaman.

Sekitar 800 tahun sebelum kelahiran Islam, telah disebutkan nubuat dalam Tantra Kalacakra Ringkas ayat I.154:
Adam, Nuh, Abraham, dan lima lainnya – Musa, Yesus/Isa, dan Ia yang Berpakaian Putih, Muhammad, dan Mahdi – dengan tamas, berkasta asura-naga. Kelak, yang kedelapan ialah ia yang buta. Yang ketujuh akan menjelma tiba di kota Baghdad di tanah Mekah, (tempat) di dunia ini dimana sebagian dari (kasta) asura akan mengambil bentuk sebagai kaum mleccha yang berdaya dan tak kenal ampun. (Tib. bsDus-rgyud, Skt. Laghu Tantra Kalacakra) 

Benarkah akan ada penyerangan ke Tibet? Bagaimana penjelasan sebenarnya tentang metafora raja Kalki Shambala tentang perang suci Mahdi? Untuk menghindari kesalahan dalam penerjemahan teks, maka penjelasan berikut akan membuka wawasan baru tentang pemimpin ataupun Mahdi yang dimaksud.

Perang Suci Mahdi Dan Invasi Ke Shambhala


Dalam memahami konsep perang suci, masih banyak yang menganggapnya dengan konotasi negatif yang terkadang mengubahnya dengan cara kekerasan. Seperti halnya Perang Salib, tetapi dalam hal ini berbeda dalam tradisi Buddha yang tidak memiliki istilah 'Perang Suci' secara teknis. Tetapi sangat disayangkan, beberapa ahli tafsir salah dalam mengartikan metafora yang tertulis dalam kebanyakan naskah, salah satunya Kalki.

Dalam teks Buddhis, terutama literatur Tantra Kalachakra, mengungkap tingkat eksternal dan internal pertempuran yang dapat dipahami sebagai perang suci. Dalam hal yang sama, kedua pemimpin agama dapat memanfaatkan dimensi eksternal adanya perang suci untuk kepentingan politik, ekonomi, atau bahkan pribadi, menggunakannya untuk membangkitkan pasukan tempur. Tetapi, pemahaman pada kedua agama ternyata lebih menekankan pada peperangan rohani (internal) yang melawan kebodohan sendiri.

Metafora Kalki Tentang Mahdi Dan Perang Suci


Shakyamuni Buddha dilahirkan dalam kasta prajurit India dan sering digunakan sebagai citra yang menggambarkan perjalanan spiritual. Dia adalah 'Triumphant One' yang mengalahkan kekuatan jahat (Mara) dari ketidaksadaran, terdistorsi pandangan, gangguan emosi, dan perilaku karma impulsif. 

Pada abad kedelapan, Shantideva mengutarakan metafora perang berulang kali dalam Bodhisattva, dinyatakan bahwa musuh nyata yang harus dikalahkan adalah gangguan emosi dan sikap yang tersembunyi didalam pikiran. Dan di Tibet, mereka menerjemahkan 'Arhat' dalam bahasa Sansekerta yang berarti makhluk terbebaskan, penghancur musuh, seseorang yang telah menghancurkan musuh batin. Gambaran ini menjelaskan bahwa dalam Buddhisme, panggilan perang suci adalah murni merupakan masalah spiritual dalam diri manusia.

Dalam versi Kalachakra, perang memiliki makna simbolis. Kalki Kedua, (Pundarika) menjelaskan bahwa pertarungan dengan orang-orang Non-India Mleccha bukanlah perang yang sebenarnya, karena pertempuran sesungguhnya berada dalam tubuh manusia. Sejarah menjelaskan, pada abad ke-15, Kaydrubjey menjelaskan bahwa: 
Kata-kata Manjushri Yashas tidak menyarankan untuk membunuh para pengikut agama Non-India. Kalki Pertama menggambarkan rincian perang adalah untuk memberikan metafora pertempuran batin yang mendalam dari kekosongan terhadap ketidaksadaran dan perilaku destruktif.

Kalki Kedua menyebutkan simbolisme tersembunyi, Raudrachakrin mewakili pikiran Vajra, yaitu cahaya terang dalam pikiran. Shambhala mewakili kesenangan di mana pikiran Vajra berdiam, memiliki tingkat kesadaran sempurna yang mendalam. Raudrachakrin menyebutkan dua pemimpin yaitu Rudra dan Hanuman, keduanya mendukung kesadaran yang mendalam dari Pratyekabuddha dan Shravaka. Pasukan Non-India mewakili pikiran kekuatan karma negatif. Muhammad merupakan jalur perilaku destruktif, Mahdi melambangkan ketidaksadaran sebab perilaku dan efek dan kehampaan. Empat tentara Mahdi menggambarkan kebencian, kedengkian, kebencian, dan prasangka, yang akan melawan angkatan bersenjata Shambhala.

Bagaimana dengan pemahaman Islam sebenarnya tentang Mahdi dan perang suci? Sufisme, dalam sejarah telah banyak melahirkan para Wali dan pemimpin umat, tentunya pemahaman Mahdi menurut mereka jauh berbeda. Dalam hadits qudsi disebutkan:
Allah berfirman: "Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali Allah memberikan Taufiq HidayahNya".
Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. (Abu Yazid al Busthami )

Hadits Qudsi diperuntukkan untuk muslim yang ahlinya, tidak semua muslim bisa memahami terlebih meyakininya. Tetapi Hadits Qudsi tetaplah perkataan Rasulullah dan semua perkataan Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu.

Dari teks-teks yang dijelaskan bahwa seorang utusan termasuk Mahdi, tidak dikenal bahkan lebih banyak dijauhi daripada orang-orang yang mengikutinya. Seperti halnya kisah para nabi yang banyak diusir, dianiaya, bahkan dibunuh, tetapi ketika mereka telah pergi maka orang-orang baru menyadari bahwa mereka adalah utusan Tuhan. Dengan kata lain bahwa, seorang Wali ataupun Mahdi, tidak akan menyebut dirinya Wali/Mahdi dan bahkan menyangkalnya.

Mahdi yang muncul di akhir zaman, dia akan menyatukan umat Islam dan diikuti umat Nasrani, begitu pula umat lainnya akan mengikuti dan mendukungnya dalam menegakkan kebenaran. Tindakannya bukan membanjiri Bumi dengan darah, melainkan dengan cinta dan damai, tidak ada kepentingan golongan dan politik. Bukan seperti yang diceritakan dalam sejarah tentang Mahdi yang mementingkan golongan dengan memaksa orang lain mengakui dirinya sebagai utusan, bahkan hal ini masih terjadi hingga sekarang.

Siapakah Mahdi, Mesias Yang Dimaksud Raja Kalki?


Mani dikenal pada abad ke-3 di Persia yang mendirikan agama Manichaeisme, seperti agama Iran sebelumnya yang dikenal Zoroastrianisme, yang menekankan perjuangan antara kekuatan baik dan jahat. Mani diterima sebagai nabi oleh sekte sesat 'Islam Manichaean' yang ditemukan diantara beberapa pejabat pengadilan Abbasad di Baghdad.

Khalifah Abbasad dianiaya pengikutnya, Mahdi diprediksi akan menjadi Mesias masa depan, seorang keturunan dari Muhammad yang akan memimpin umat beriman ke Yerusalem, memulihkan hukum Quran dan menatanya, menyatukan para pengikut Islam dalam keadaan politik tunggal sebelum kiamat mengakhiri dunia. Konsep Mahdi sangat menonjol selama periode Abbasad awal, dianggap sebagai Mesias, tetapi tetap tidak muncul sampai akhir abad ke-9.

Manjusri Yashas, Raja Kalki

Manjusri Yashas memprediksi munculnya Islam Manichaean, atau sastra Kalachakra yang pernah ditulis oleh Buddha pada saat itu menjelaskan informasi tentang perkembangan Islam dimulai dari Abbasiyah awal. Kemungkinan sastra ini berasal dari biara-biara Buddha di wilayah Kabul Afghanistan yang berkembang pada waktu itu. Banyak biara yang memiliki motif arsitektur mirip dengan yang ada di Kalachakra Mandala. Kemungkinan juga memiliki kontak dengan Tantra Buddhisme di Kashmir, dimana umumnya sering dicampur dengan Tantra Hindu. Dalam sejarah, Kabul disebutkan telah dihuni oleh populasi Hindu cukup besar pada saat itu.

Prediksi yang tertulis dalam Kalki Pertama menyebutkan bahwa: para pengikut agama Non-India akan memerintah India selama beberapa hari. Dari Delhi, raja Krinmati akan mencoba menaklukan Shambhala pada tahun 2424 Masehi. Teks ini menunjukkan bahwa Krinmati akan diakui sebagai Mahdi, Mesias yang dinantikan. 
Dalam Kalki 25 disebutkan: Rudra Chakrin akan menyerang India dan mengalahkan Non-India dalam perang besar. Kemenangannya akan menandai akhir dari Kaliyuga, dimana praktik Dharma juga akan turun drastis. Setelah itu, zaman keemasan akan muncul mengikuti ajaran berkembang, terutama dari Kalachakra.

Gagasan perang antara kekuatan baik dan jahat, berakhir dengan pertempuran apokaliptik yang dipimpin oleh Mesias, pertama kali muncul di era Zoroastrianisme yang didirikan pada abad ke-6 SM, beberapa dekade sebelum Buddha lahir. Ini juga termasuk Yudaisme, selang beberapa waktu berkembang antara abad ke-2 SM hingga abad ke-2 Masehi. Selanjutnya muncul Kristen Awal dan Manichaeism, dan kemudian Islam.

Tema Apokaliptik juga muncul dalam agama Hindu, tercantum dalam Wisnu Purana sekitar abad ke-4 M. Teks ini menjelaskan bahwa di Akhir Kaliyuga, Wisnu akan muncul dalam inkarnasi terakhirnya sebagai Kalki yang akan lahir di desa Shambhala sebagai putra brahmana Wisnu Yashas. Disebutkan, dia akan mengalahkan agama Non-India dan akan membangunkan kembali pikiran manusia. Setelah itu, sesuai dengan konsep waktu siklus India maka zaman keemasan akan muncul, tetapi bukan akhir dunia. Sulit menentukan, Wisnu Purana berasal dari pengaruh asing dan disesuaikan dengan mentalitas India, atau muncul secara independen.

Sesuai dengan ajaran Buddha tentang Tantra Kalachakra, juga menggunakan nama dan gambar dari Wisnu Purana. Nama-nama yang tercantum tidak hanya mencakup Shambhala, Kalki, Kaliyuga, Wisnu Yashas, ​​Manjusri Yashas, ​​tetapi juga Mleccha yang ditujukan untuk agama Non-India.

Kesalahan Dalam Menerjemahkan Kalki


Meskipun secara tekstual banyak golongan yang menyerukan perang suci, implikasinya disini jelas sangat membakar dam menyulut tindakan negatif, secara tak langsung menyatakan bahwa: 
Islam adalah agama yang kejam, ditandai dengan kebencian, kedengkian, dan perilaku destruktif, yang dapat dengan mudah digunakan sebagai bukti untuk mendukung bahwa Buddhisme adalah Anti-Muslim. 

Umat Buddha di masa lalu sebenarnya memiliki bias dan maksud dari kata-kata ini, dan beberapa umat Buddha saat ini juga berpegang pada pandangan sektarian. Penggunaan Islam untuk mewakili kekuatan yang mengancam dan merusak, semua ini dapat dipahami ketika memeriksa jejak sejarah periode Abbasad awal di wilayah Kabul Afghanistan.

Kelompok Syiah menyadari ramalan Kalacakra, bahwa Raudrachakrin, dimana Kalki Shambhala menyebutkan akan mengalahkan Mahdi, dan hal ini telah membuat mereka tersinggung dengan penerjemahannya. Selama berabad-abad sebuah efek dari keyakinan ini mulai menyebar, misalnya di Balistan menyebutkan bahwa Dajjal, Sang Ratu Adil palsu, dia tak lain adalah Raudrachakrin, sang Kalki Buddha. Akan tetapi, penyamaan seperti itu amat sangat jarang dan terbatas hanya pada beberapa kelompok kecil.

Hubungan umat Buddha dan Muslim di Tibet, tempat ajaran Kalacakra berkembang tetap selalu damai. Pada pertengahan abad ke-17 M, setelah satu setengah abad perang saudara, Dalai Lama Ke-5 mengeluarkan sebuah kebijakan untuk menyatukan berbagai faksi dan kelompok keagamaan yang ada di Tibet ke dalam sebuah masyarakat bersatu. Kebijakannya yang terbuka dan waktu itu terjadi kelaparan hebat di Kashmir, dimana banyak umat Muslim Kashmir pindah ke Tibet. Dalai Lama memberi hak-hak istimewa seperti pemberian lahan, pembebasan pajak, dan mengizinkan untuk mengikuti agama mereka dan menyelesaikan urusan-urusan mereka dengan dewan para pemimpin dan hukum Syariah mereka sendiri. Ia melakukan hal ini tanpa mengumpulkan mereka ke dalam sebuah Kalacakra Mandala dan tanpa menganugerahkan pembayatan Kalacakra pada mereka.

Dalam memahami teks Kalki, para penyerbu Non-India dalam Kalacakra bukan seluruhnya merupakan bangsa Arab Abbasiyyah sendiri atau keseluruhan umat muslim. Para penyerbu itu adalah para pengikut aliran Mesianis Islam, aliran sesat, dimana Islam itu tebagi menjadi 70 golongan (setelah Muhammad) yang masing-masing menganggap kelompoknya benar. Semua peperangan ini dimulai pada saat pemerintahan Kekaisaran Abbasiyyah, dan kebanyakan golongan/sekte/aliran berniat untuk menetapkan Mahdi mereka sebagai penguasa dunia. Aliran-aliran Islam yang mengakui Mahdi dari kelompoknya pada waktu itu telah memulai peperangan, semua untuk kepentingan golongan bahkan politik.

Banyak pemimpin yang telah menyelewengkan dan memanfaatkan konsep jihad atau perang suci demi kekuasaaan dan pencapaian, hal sama juga berlaku pada Shambhala tentang perang melawan pasukan asing. Agvan Dorjiev, asisten Dalai Lama Ke-13 yang berasal dari Buryat Mongol, menyatakan bahwa diakhir abad ke-19, Rusia adalah Shambhala dan Kaisar Rusia adalah seorang Kalki. Dia berupaya meyakinkan Dalai Lama Ke-13 untuk bergabung dengan Rusia melawan orang Inggris 'mleccha' dalam perjuangan menguasai Asia Tengah. Konsep ini juga terlihat mangatas-namakan perang suci demi tujuan tertentu. Jadi, kata 'mleccha' sebenarnya bukan ditujukan untuk 'Mekkah' melainkan bahasa yang tidak dimengerti Kalki pada waktu itu.

Kalachakra Thangka

Di lain pihak, beberapa penafsir tidak memahami titik waktu yang diramalkan Kalacakra secara harfiah dan menganggapnya sebagai titik waktu yang mengacu pada awal abad ke-21. Penafsiran ini mungkin saja berlandaskan pada ramalan Nostradamus atau pandangan Milenarian, bahwa 2000 tahun setelah Kristus merupakan angka tahun yang bermakna.

Menurut penghitungan yang diberikan di dalam naskah Tantra, pertempuran antara Kalki Raudrachakrin dan Mahdi di Akhir Kaliyuga tidak akan segera terjadi. Kalacakra meramalkan pertempuran akhir zaman akan dimulai sekitar tahun 2017 hingga 2424 Masehi. Setelah itu ajaran Kalacakra akan tumbuh subur selama 12 kurun waktu sepanjang 1800 tahun, dimana setiap kurun waktu akan berlaku disetiap 12 pembagian wilayah Benua Selatan. Dalam teks Kalacakra, 1800 adalah angka bermakna yang muncul berulang kali di seluruh ajaran Kalacakra dengan beberapa makna ilmu angkasa, ilmu fa’al dan meditasi.

Referensi

  • Taking the Kalachakra Initiation, by Alexander Berzin, 1997
  • Introduction to the Kalachakra Initiation, by Alexander Berzin, 2011
  • Kalachakra thangka from Sera Monastery, Manjusrikirti King of Shambhala, image courtesey of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.