Ads Top


Kisah Khwaja Khizr, Darah Raja Persia Menjadi Batu Delima

Khwaja Khizr atau Khadir, legenda ini dikenal sebagai Pir Badar, atau Raja Kidar, dikenal secara umum bagi kaum Muslim dan Hindu di India. Kuil utama berada di Indus dekat Bakhar, dimana sosok ini dikenal secara kultus tersebar di Bihar dan Benggala. Kisah tentang Khadir di negeri India dan Persia cukup berbeda dan menarik dalam literatur yang sempat terlukis dalam seni Mughal. Melewati negeri tanpa sinar matahari, dimana Khadir disebutkan menemukan Air Kehidupan, mengubah darah raja Persia menjadi batu delima berharga, dan membangkitkan raja yang telah mati.

Dalam kultus Hindu, Khwaja disembah dengan menyajikan lampu dan memberi makan Brahmana di sumur, salah satunya mengapungkan perahu kecil diisi lampu di kolam atau sungai. Khwaja Khizr digambarkan sebagai sosok pria tua, seorang fakir, berpakaian hijau, dan bergerak di perairan dengan menggunakan ikan sebagai kendaraannya.

Kisah Khwaja Khizr Di India Dan Persia


Dalam legenda India, Niwal Dai dikisahkan tersebar di Panjab, dia adalah putri dari Vasuki, pemimpin dari Ular. Arya Pandawa Raja Pariksit telah bertemu dengan Vasuki dan memaksa untuk berjanji menikahi putrinya, meskipun kondisi Vasuki cukup memalukan. Vasuki kemudian terserang kusta, karena kutukan yang diucapkan oleh Imam Siji karena sapi-nya telah digigit oleh Ular. Kemudian Niwal Dai menyanggupi permintaan mendapatkan Air Kehidupan (Amrta) untuk kesembuhannya. Sumber air itu berasal dari sumur tertutup diwilayah Raja Pariksit, dan hanya dirinya yang dapat membuka. 

Khwaja Khizr

Ketika dia menemukan sumur yang ditutupi oleh bebatuan berat, dia menggesernya dengan kekuatan sihir, dan air itu jauh diluar jangkauan. Hal ini karena guru mereka (Khwaja Khizr) tidak akan melepaskannya hingga sampai kepada Niwal Dai. Ketika Niwal Dai menunjukkan dirinya, maka Khwaja Khizr memberikan air yang bergelumbung. Raja Pariksit menuju ke sumur, meskipun Niwal Dai menyembunyikan dirinya dalam bentuk ular, tetapi dia memaksa untuk berubah ke bentuk manusia.

Legenda ini terkenal melalui lukisan Mughal, digambarkan seorang pangeran berada diatas kuda dekat sumur, dimana seorang wanita menerima air. Motif kisah ini dari dinasti yang berasal pernikahan Raja manusia dengan Nagini, telah lama tersebar di India dan dalam analisis terakhir merujuk kepada bidadari dengan penguasa kegelapan. Niwal Dai tidak pernah melihat matahari atau bulan, dan bersembunyi di pusaran air (Bhaunri) hingga muncul kembali untuk mengungkap Nah di Akhir Dunia. Dia diasumsikan berbentuk setengah manusia, sama halnya dengan kisah putri duyung atau putri seorang penyihir, menikahi seorang pahlawan dari kalangan manusia.

Khwaja Khizr Menghidupkan Raja Yang Telah Mati


Khwaja Khizr juga dikisahkan dalam versi lain cerita rakyat India, Kisah Pangeran Mahbub. Dalam legenda, Raja Persia mempunyai pangeran dari anak seorang selir, tidak ada keturunan lain, sehingga dia menjadi ahli waris. Tetapi kemudian sang Ratu hamil, pangeran pertama takut bahwa dia akan tersaingi, kemudian menyerang kerajaan dan membunuh ayahnya, serta merampas takhta. Sementara itu Ratu melarikan dan dirawat oleh petani, anak yang dikandungnya lahir dan disebut Mahbub. Ketika dewasa, Mahbub pergi sendirian ke pertandingan pemanah dan menjadi pemenang, orang-orang mengenali rupanya mirip dengan sang Raja terdahulu.

Setibanya di rumah, ibunya mengatakan tentang kelahiran Mahbub dan mereka pindah untuk menghindari kecurigaan raja yang telah merampas tahta sang ayah. Mereka mencapai tanah gurun dimana terdapat sebuah masjid, disamping gunung mereka bertemu seorang fakir, sosok orang tua yang memberi mereka roti dan air yang tak habis-habisnya, dan dua potong kayu, salah satunya dapat berfungsi sebagai obor. Pemberian lainnya berbentuk kebajikan, dimana disebutkan bahwa dalam radius empat belas hasta dari tempat itu terdapat laut yang bisa diarungi, dan kedalamannya tidak lebih dari satu hasta. Mereka kemudian mengarungi laut setinggi lutut dan menemukan bongkahan rubi, batu delima.

Mereka menyeberangi laut dan mencapai India, dimana mereka menjual salah satu batu rubi dengan harga yang tinggi. Berita terdengar sampai ketelinga Raja negara itu, dia berusaha menemui Mahbub untuk mencari batu delima untuk membangun sebuah istana baru dan besar di tepi laut. Mahbub menyanggupi untuk mendapatkan lebih banyak batu delima. Dia membawa lampu senter untuk memasuki dunia yang gelap dan batang kayu untuk melintasi laut mencapai tempat ditemukannya batu delima. Dia mengikutinya sampai menemukan sumbernya di pusaran air, melompat dan jatuh ke bawah lorong berasap berair hitam sampai menyentuh tanah padat dan menemukan air yang mengalir keluar dari saluran gerbang besi.

Dia melewati sebuah taman yang indah, sebuah istana, di istana ini ditemukan sebuah ruangan dimana terdapat potongan kepala putus. Tetesan darah jatuh ke dalam baskom dan membentuk batu delima, jatuh melalui saluran dan menuju ke pusaran air sampai ke laut. Dua belas imam kemudian muncul, mengambil kepala, meletakkan potongan tubuh lainnya bersama-sama, dan membakar lilin untuk melakukan tarian berputar yang begitu cepat sehingga Mahbub hanya melihat lingkaran cahaya. Kemudian berhenti di atas tempat tidur, mereka meratap seraya berkata;
"Berapa lama, ya Tuhan, berapa lama?... Ketika harapan matahari akan muncul di kegelapan keputusasaan kita? Bangkitlah, Oh Raja, muncul, berapa lama kau akan tetap berada dalam kematian ini?"

Kemudian dari lantai istana, bangkit sosok berbentuk fakir persis seperti yang ditemui sebelumnya. Tapi sekarang dalam kondisi berpakaian cahaya, dimana para imam sujud kepadanya dan berkata; "Khwaja Khizr, yang menguasai waktu telah datang?" 
Khizr menjelaskan kepada Mahbub bahwa mayat itu adalah ayahnya, yang dibunuh oleh Kassab, perampas tahta. Semua terkubur di istana bawah laut, namun tidak ada yang melakukan ritual pemakaman. 

Mahbub berdoa kepada Allah atas nama jiwa ayahnya, setelah kepala bergabung dengan tubuh, Raja itu bangkit dari kematian. Khizr lenyap, dan Mahbub kembali ke India dengan ayahnya dan bersatu kembali dengan Ratu. Ketika Raja India datang untuk meminta batu delima (rubi), Mahbub menusuk jarinya sendiri, tetesan darah jatuh kedalam cangkir yang kemudian menjadi rubi. Mahbub sekarang memahami, bahwa setiap tetes darah yang mengalir dalam pembuluh darah Raja-raja Persia lebih berharga dari batu rubi. Dia menyerang Persia, mengambil kembali tahta yang direbut Kassab, dan kepala Kassab diambil dan digantung di istana bawah tanah, tetapi setiap tetes darah yang mengalir justru menjadi katak. 

Referensi

  • Legends of the Punjab, by R.C. Temple
  • Folk-tales of Hindustan, by Vasu, Srisa Chandra, 1861-1918
  • Manuscript of the Khamsa, image courtesy of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.