Ads Top

Simbolis Teratai, Air, Gambaran Kerajaan Maha Pencipta?


Dalam naskah dan teks sejarah, simbolis teratai, air, ular, dan pohon kehidupan, diyakini telah berkembang sejak munculnya peradaban kuno awal. Seperti dalam agama Hindu, Dewa Wisnu dikenal sebagai Maha Pencipta, secara religius digambarkan sedang berbaring diatas gulungan tujuh ular raksasa (Ananta-Sesha) di tengah-tengah lautan semesta. Dewa Wisnu dan Ananta-Sesha dan makhluk abadi muncul dalam siklus alam semesta, periodik penciptaan dan kehancuran semesta. Wisnu Purana menyatakan bahwa pada akhir waktu yang disebut 'Hari Brahma', ketika seluruh ciptaan telah dihancurkan dan dunia telah diubah menjadi satu lautan yang luas, Dia dan ular mengelilinginya akan berada di tengah-tengah lautan itu, Dia terbangun setelah satu musim, dan Brahma akan menuliskan kisah baru.

Munneswaram Vishnu, simbolis teratai

Simbol Wisnu juga menggambarkan bunga teratai di pusar Wisnu (Wisnu-Nabhi), dimana Brahma duduk sedang menumbuhkan penciptaan. Wisnu digambarkan Padma-Nabha (Pusar Teratai) dan Brahma disebut Nabhija (Pusar kelahiran). Ada banyak Dewa dan Dewi lain dalam ajaran Hindu, Buddha dan Mesir, yang digambarkan dengan simbolis Teratai dengan tampilan berdiri atau duduk, ataupun mengenakan mahkota Teratai. Sesuai Purana, yang muncul dari pusar Wisnu bukan tangkai bunga teratai, tetapi benih Teratai. Secara simbolis setara dengan emas Gunung Meru, sumbu-mundi di alam semesta. Gunung Meru dianggap sebagai tempat tinggal para Dewa dan menurut mitologi istana Brahma berada di atas Meru sebagai pelindung dari delapan arah.

Kemungkinan, pemahaman luas tentang simbolis Wisnu, teratai air dan pohon kehidupan, telah dipengaruhi oleh kontak budaya antara Hindu dan peradaban lain, atau melalui proses perubahan budaya karena migrasi. Juga sangat memungkinkan bahwa simbolisme Wisnu, teratai dan ular, mencerminkan pemahaman tentang semesta yang diyakini masyarakat kuno, tapi sekarang telah dilupakan. 

Simbolis Teratai, Air Dan Pohon Kehidupan


Penggambaran simbolis Wisnu dalam agama Hindu cukup unik, tetapi simbol-simbol ini ternyata juga ditemukan dibeberapa agama kuno lainnya. Semua ini menjeaskan bahwa simbolisme Wisnu dikenal dalam budaya kuno hampir diseluruh dunia.

Monument 19-from La Venta

Mesoamerika, merupakan salah satu peradaban Olmec pertama yang diprediksi berkembang sekitar tahun 1600 SM, sebuah peradaban yang dianggap sebagai Ibu dari budaya Mesoamerika berikutnya. Dalam ukiran budaya Olmec  tahun 800 SM menggambarkan sosok Dewa yang duduk di gulungan ular besar. Ular telah lama dipuja sebagai simbol dari penciptaan diseluruh peradaban Mesoamerika, sama halnya dengan Ananta-Sesha di India. Dewa bersama ular tampaknya memegang wadah di tangannya, mungkin merupakan wadah bubuk yang digunakan orang Meksiko sebagai dupa. Hal ini dianggap sebagai salah satu pengorbanan dimana aroma yang keluar akan menyenangkan para Dewa. 

Kesamaan simbolis dan ukiran Mesoamerika dengan simbol Wisnu cukup jelas, sebuah representasi dari Wisnu diantara peradaban Olmec kuno. Hal ini juga dibuktikan pada artefak lain dari peradaban Mesoamerika, periode suku Maya penguasa Palenque, K'inich Janaab' Pakal (Dewa Pacal) yang dipuja sekitar tahun 683 M. Patung batu yang ditemukan dianggap sebagai bagian dari seni suku Maya, Periode Klasik sekitar 250 hingga 900 M. 

K'inich Janaab' Pakal, simbol teratai

Ukiran Mesoamerika menunjukkan keberadaan Dewa Pacal dalam posisi berbaring, dan diatasnya adalah Dunia Pohon (Wakah-Chan) suku Maya yang juga terdapat burung besar sedang bertengger (Itzam-Yeh). Dunia Pohon merupakan simbolik sumbu-mundi diantara peradaban Maya, terdapat 9 tingkat Dunia Bawah dan 13 tingkat Surga serta alam Terestrial. Secara simbolis setara dengan Gunung Meru, pohon dan gunung digunakan secara bergantian dalam kebanyakan mitologi budaya kuno untuk menyebut pusat semesta.

Di bawah simbol Dewa Pacal, terdapat salah satu kepala dari ular berkepala dua. Semua elemen simbolisme Wisnu muncul dalam ukiran ini, Dewa berbaring, Pohon Dunia dan Ular raksasa. Raja digambarkan mengenakan ornamen kura-kura di dada. Di bagian tepi menggambarkan tanda-tanda kosmologis termasuk matahari, bulan, dan bintang, yang menunjukkan bahwa seluruhnya diatur kerajaan langit.

Chac Mool

Begitu pula patung batu Chac Mool yang ditemukan di situs suku Maya, Meksiko Tengah, dan Semenanjung Yucatan. Augustus Le Plongeon memberi nama patung ini 'Chac Mool' di Chichen Itza pada tahun 1875, karena saat ini sejarawan masih tidak tahu sebutan sebenarnya dalam peradaban Maya. Patung pertama menggambarkan sosok manusia dalam posisi berbaring, dengan kepala berpaling ke satu sisi, dan dibaguan pusar terdapat lingkaran berlubang.

Patung Chac Mool juga ditemukan dengan hiasan kepala dan kalung, digambarkan sedang memegang pilar melingkar yang melekat pada pusar perutnya. Beberapa ahli sejarawan meyakini bahwa pilar ini terkait dengan gunung semesta, simbolis sumbu mundi semesta atau setara simbolis wadah benih teratai.

Aztec chacmool, simbolis teratai

Zelia Nuttall dari Harvard University menjelaskan bahwa dibagian bawah ditutupi dengan garis-garis air zigzag dan mewakili simbolis akar tanaman, kerang, dan katak, sangat berkaitan erat dengan simbolisme air. dengan kata lain bahwa patung Chac Mool digambarkan mengambang di atas air, sama halnya seperti Wisnu yang berada di lautan semesta yang juga dikenal sebagai Narayana. Patung ini juga terkait dengan kesuburan, melambangkan karangan bunga di telinga, jagung dan alang-alang (Nahuatl, Tollin) terpahat dibagian dasar. 

Dalam simbolisme teratai, khususnya wadah benih Teratai berisi biji kecil dengan kelopak bunga, gambaran ini juga dianggap sebagai simbol kesuburan diseluruh dunia kuno. John Major Jenkins menyebutkan dalam bukunya Galactic Alignment, bahwa Kuil Utara di Chichen Itza memiliki mural yang sangat menarik yang menggambarkan tingkat terendah, dimana Dewa besar sujud dengan tanaman merambat yang tumbuh dari perutnya. 

Simbolis Teratai Dan Air Dalam Buddhisme


Ajaran dipercaya Buddhisme muncul dari India, sangat alami jika mengadopsi beberapa simbol agama Hindu. Tentunya simbolisme Wisnu juga terkait dengan ajaran Buddha, dalam 'Bodh Gaya' dimana Buddha telah mencapai pencerahan duduk di bawah pohon Bodhi, terdapat patung Buddha duduk diatas gulungan ular Mucalinda, ditengah danau besar.

Mucalinda, Bodh Gaya

Wat Chedi Liem, simbolis teratai

Dalam naskah dan teks Buddhis, setelah mencapai pencerahan, Buddha menghabiskan waktu selama tujuh minggu bermeditasi di tujuh tempat yang berbeda, diatas simbolis teratai, didekat Pohon Bodhi. Sang Buddha menghabiskan minggu keenam setelah meditasi pencerahannya di kaki Pohon Mucalinda. Ketika Dia sedang bermeditasi, badai parah dan ular Mucalinda muncul dari sarang bawah tanah yang melingkarkan tubuhnya disekitar Buddha untuk melindunginya dari badai. 

Referensi

  • The Vishnu Purana, by Horace Hayman Wilson, 1840
  • The Mythic Image, by Joseph Campbell, November 1981
  • The Fundamental Principles of Old and New World Civilizations, Harvard University, by Zelia Nuttall, 1970
  • Munneswaram Vishnu, Monument 19-from La Venta, K'inich Janaab' Pakal, Chac Mool, Aztec chacmool, The first sermon depicted at Wat Chedi Liem in Thailand, Mucalinda Lake (Pond) in Bodh Gaya, images courtesy of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.