Ads Top

Pesan Misterius Dibalik Huruf Alif dan Ba, Perahu Dan Nahkoda


Bentuk perahu pada umumnya menyerupai sepasang huruf pertama dalam abjad Arab, yaitu huruf 'Alif' sesuai dengan simbolis tiang, dan huruf 'Ba' sesuai dengan bentuk lambung kapal. Tiang merupakan sebuah lambang yang sangat penting, ekstensi tiang dianggap maskulin. Sedangkan simbolis lambung melambangkan substansial, ekstensi yang melambangkan induk dari tiang. Dalam mikrokosmos manusia menganggap bahwa tiang sesuai dengan semangat, dan lambung sesuai dengan jiwa. Umumnya tiang perahu didukung oleh kaki tiang, karena simbolis ini sesuai dengan hati, sebuah titik kontak antara jiwa manusia dan semangat yang kuat mengarungi lautan spiritual.

Beberapa surah yang terkandung dalam Al-Quran mengandung ayat-ayat yang memberitakan tentang kapal. Ayat ini dianggap sufisme sebagai tanda bagi mereka yang meyakini pesan tertentu dibalik huruf Alif dan Ba. Huruf Alif dan Ba, membawa pesan yang berarti perahu, baik dalam bentuk dan fungsinya juga melambangkan kebenaran rohani. Atau tepatnya lebih dari satu kebenaran rohani dalam simbol, dimana defenisi ini diartikan dalam beberapa tingkat penafsiran. 

Pesan Dibalik Huruf Alif dan Ba


Perahu terdiri dari dua komponen dasar, dua diantaranta adalah tiang dan lambung kapal. Layar dianggap sebagai ekstensi fungsional dari tiang, sementara rangka dan kemudi merupakan ekstensi fungsional dari lambung kapal. Tiang yang menjulang vertikal memiliki arti yang sama dengan simbolis pohon, yang umumnya terbuat dari batang pohon. Penafsiran ini karena bentuknya mengarah ke pusat aksial, dan terhubung langsung dengan surga dari permukaan yang terendah (perairan lebih rendah dari daratan). Lambung sesuai dengan bentuknya yang merata di permukaan air secara horizontal, juga sebagai tempat perlindungan dan penopang tiang yang dianggap sebagai titik pusat sebuah perahu. 

misteri huruf alif dan ba, perahu mesir


Dari sudut pandang yang berbeda, struktur kayu yang membentuk tiang perahu terbuat dari pohon tunggal tanpa sambungan. Berbeda dengan lambung perahu yang terbuat dari beberapa struktur papan berbeda, dimana masing-masing papan juga berasal dari bagian pohon tunggal. Tiang perahu menggambarkan sifat unik tersendiri, dimana lambung justru mengungkap integritas dan harmoni dalam konstruksi perahu. Seperti halnya masyarakat Viking dan Mesir yang memiliki perahu sederhana, bentuk yang menarik dihasilkan dari garis melengkung dari susunan papan perahu.

Perjalanan Spiritual Seorang Nahkoda


Simbolisme fungsional perahu erat kaitannya dengan bahtera keselamatan, seperti halnya kisah bahtera Nuh, Isa yang berlayar menggunakan perahu, atau dengan kata lain bahwa perahu dianggap sebagai kendaraan seorang Nahkoda dalam mengarungi lautan spiritual. 

Fungsional ini tidak berbeda dengan kereta Arjuna ketika berada di Bhagavadgita. Perahu melambangkan pelindungan, sebuah jaminan bagi seorang Nahkoda untuk berlayar ke pusat spiritual. Perlindungan ini umumnya untuk menghindari perubahan-perubahan keberadaan di tengah lautan spiritual dan mengharapkan angin surga. 

Sudut pandang eksoteris, perahu telah menjadi keyakinan tersendiri dalam agama ortodoks. Dalam hal esoterik, perahu adalah sebuah inisiasi utuh dan murni, dimana seorang Nahkoda menjadi guru spiritual bagi penumpangnya. Bagaimanapun, ke arah mana tujuan sebuah perahu tergantung pada Nahkoda dimana keselamatan dan pencapaian tujuan penumpang merupakan tanggung jawab penuh yang dipikulnya. Arah angin sering berubah, badai menerjang lautan, ketika itu keputusan bijaksana harus diambil Nahkoda agar selamat mencapai tujuan. Bagaimanapun, seorang Nahkoda harus mengendalikan perahu, berlayar melibatkan keterampilan yang lebih besar, konsentrasi dan energi. Semua ini juga sama pengertiannya antara berlayar dengan bantuan angin dan mendaki gunung. Mendaki gunung biasanya menggunakan rute yang relatif dekat, dengan tujuan bersama untuk mencapai puncak. 

Perahu berlayar dengan menggunakan interaksi dua elemen, udara dan air. Pergerakan air akan membantu perahu bergerak ke tepi, sementara angin yang mendorong tiang perahu seperti memiliki kekuatan sayap burung. Kedua kekuatan eleman datang bersama-sama bagai sebuah perkawinan yang bisa dirasakan oleh seorang Nahkoda. Sebuah pesan yang tersembunyi dibalik huruf 'Alif' dan 'Ba', pesan misterius yang sebenarnya tidak bisa diungkapkan Sufisme.

Dalam menterjemahkan fungsionalis perahu dan tiang layar dalam kehidupan spiritual, seorang Nahkoda berdoa terus-menerus melalui kekuatan spiritual dan saling melengkapi tanggapan dari alam sekitarnya melalui jiwa. Arah angin pada perahu, seperti menuju ke atas ketika melewati jalur pegunungan, semuanya merupakan pendakian. Secara spiritualis, pencapaian ini perlahan-lahan semakin tinggi untuk mencapai tempat tertinggi, sebuah perjalanan untuk melintasi 'jalan yang lurus' (Shirath al-Mustaqim). Seperti halnya lautan yang tenang dan diam membisu, dia tak perlu mengatakan betapa hebat kekuatan yang dimilikinya.

Referensi

  • Rumi's Little Book of Life: The Garden of the Soul, the Heart, and the Spirit. By Rumi, translate by Maryam Mafi, 2012.
  • World's oldest depiction of a stern-mounted steering rudder (1420 BC). Image courtesy of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.