Ads Top

Suku Maya Ciptakan Perubahan Iklim Sejak 2000 Tahun Lalu


Baru-baru ini ilmuwan University of Texas di Austin, bukti yang ditemukan di dataran rendah tropis Amerika Tengah mengungkap bagaimana aktivitas suku Maya sekitar lebih dari 2000 tahun yang lalu. Situsi ini tak hanya memberi bukti kontribusi terhadap penurunan lingkungan saat itu, tetapi tampaknya tetap terus mempengaruhi kondisi lingkungan saat ini. 

Beberapa studi menunjukkan bahwa deforestasi dan penggunaan lahan lainnya berkontribusi terhadap pemanasan dan pengeringan iklim regional di Periode Klasik sekitar 1700 hingga 1100 tahun yang lalu. Banyak hutan yang masih dipengaruhi kegiatan suku Maya dilengkapi berbagai struktur, teras, dan lahan basah masih bisa ditemukan saat ini.

Dampak Lingkungan Suku Maya Berlangsung Lama


Melalui analisa dampak suku Maya terhadap iklim, vegetasi, hidrologi dan litosfer sejak 3000 hingga 1000 tahun yang lalu, ilmuwan mengusulkan bahwa suku Maya canggih dalam hal infrastruktur ekosistem yang mengubah perkotaan dan pedesaan dalam hutan tropis secara global.

Perubahan ekosistem suku Maya

Para ilmuwan mengkaji ulang data lama dan baru, dalam hal ini untuk membuktikan tingkat 'Mayacene' sebagai Mikrokosmos Anthropocene Awal, sebuah periode ketika aktivitas manusia mulai sangat mempengaruhi kondisi lingkungan. Sebagian besar sumber sejarah menjelaskan tentang Anthropocene dan dampak manusia terhadap iklim sejak revolusi industri. Tetapi tampaknya para ilmuwan melihat sejarah lebih dalam, mereka tidak ragu dalam memutuskan bahwa dampak manusia terhadap lingkungan telah berlangsung jauh lebih lama.

Ilmuwan mengidentifikasi adanya enam penanda stratigrafi atau 'Paku Emas' yang menunjukkan periode perubahan besar-besaran. Diantaranya termasuk batu liat, urutan tanah yang unik, sisa-sisa bangunan dan modifikasi landscape, dan tanda-tanda suku Maya yang disebabkan perubahan iklim. Menurut Sheryl Luzzadder-Beach, Paku yang ditemukan memberi wawasan tentang bagaimana dan mengapa suku Maya berinteraksi dengan lingkungan mereka, serta ruang lingkup kegiatan mereka.

Tanah liat Maya dan urutan erosi tanah menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan dan periode ketidakstabilan. Profil tanah didekat lahan basah mengungkapkan tingginya rasio isotop karbon karena pertanian dan produksi jagung, setidaknya peningkatan fosfor tiga sampai empat kali lipat diseluruh sedimen. Tetapi indikasi yang paling terlihat adanya dampak manusia ditemukan pada sisa-sisa bahan dan modifikasi landscape. Ilmuwan meyakini bahwa petunjuk ini mengungkap bagaimana suku Maya menggunakan pengelolaan air untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Luzzadder-Beach mengatakan bahwa dalam mempelajari sistem lahan basah, mereka terkejut menemukan kombinasi kontribusi manusia dan alam. Perubahan geokimia menjelaskan bahwa beberapa lahan basah terlihat alami, sementara yang lain terdapat lanscape yang digunakan untuk menanam tanaman untuk populasi yang besar. Hal ini menjelaskan bahwa suku Maya mengubah lingkungan mereka untuk menciptakan sistem luas untuk lebih banyak menanaman dan menanggapi naiknya permukaan air laut.

Referensi

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.