Ads Top

Benarkah An-Nisa' Manusia Pertama, Ibu Adam?


Kontroversi tentang manusia pertama di alam semesta masih terus diperdebatkan, benarkah Adam manusia pertama atau adakah manusia sebelum dirinya? Selama ini banyak orang meyakini bahwa Adam adalah manusia pertama yang di ciptakan Allah dari tanah dan diturunkan ke Bumi. Tapi Nazwar Syamsu membantahnya dan menyebut semua kisah tentang Adam sebagai manusia pertama telah di doktrin dari Bibel, sementara pengupasan ayat AlQuran sungguh jauh berbeda. Logika ini didasarkan pada ayat Ali Imran disebutkan:
Bahwa permisalan Isa disisi Allah adalah seperti Adam. Dia menciptakannya dari Sari Tanah, kemudian Dia katakan "Jadilah" maka jadilah dia (3:59)

Dalam buku Al-Qur'an Tentang Al-Insan, Nazwar Syamsu menjelaskan makna sebenarnya dari ayat-ayat Allah, bagaimana manusia pertama diciptakan dan bagaimana Adam dilahirkan sama seperti Isa tanpa seorang ayah, dialah manusia pertama yang disebut dalam satu surat AlQuran, An-Nisa', tak lain adalah ibu dari seluruh manusia modern yang ada di Bumi.

An-Nisa' Manusia Pertama

Selama ini, kisah penciptaan Adam dari tanah telah meluas dan diyakini sebagian besar umat manusia, terlebih lagi kaum muslim. Tetapi Nazwar Syamsu sangat jelas menolak anggapan ini dan dia telah menjelaskannya secara logika melalui pengupasan ayat-ayat AlQuran, memaknai kata demi kata. Menurutnya, kisah Adam diciptakan dari tanah sebagai manusia pertama sangat jelas mengikuti kisah Bibel, tidak sesuai dengan kisah yang diceritakan dalam AlQuran. Analisa ini merupakan intisari dari buku yang diterbitkannya pada tahun 1980-an, walaupun pada saat ini banyak orang yang tidak bisa menerima pendapatnya dan lebih memilih kisah yang sama diceritakan dalam Bibel.

Istilah 'Thiin' Menjelaskan Manusia Pertama


Didalam AlQuran ditemukan istilah kata 'Thiin' yang selama ini diterjemahkan sebagai tanah atau tanah liat, istilah ini jelas tertulis pada ayat 3:49, 5:110, 6:2, 7:12, 23:12, 28:38, 32:7, 37:11, 38:76, 51:33, dan 17:611 diantaranya adalah:

  • Dan Rasul kepada Bani lsrail "Bahwa aku sungguh datang padamu dengan pertanda dari Tuhan-mu, bahwa aku menciptakan untukmu dari Thiin seperti bentuk burung lalu aku tiup padanya maka dia jadi berupa burung dengan izin Allah, dan aku sembuhkan orang yang berpenyakit kulit dan berpenderita lepra, dan aku hidupkan yang mati dengan izin Allah, dan aku kabarkan padamu tentang apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu." Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah pertanda untukmu jika kamu beriman (3:49) 
  • Dia-lah yang menciptakan kamu dari Thiin, sesudah itu ditentukanNya ajal, dan ajal tertentu ada pada-Nya, kemudian itu kamu ragu-ragu (6:2)
  • Dia berkata: "Apakah yang menahanmun untuk tidak berstrjud ketika Aku perintahkan padamu?" Dia berkata: "Aku lebih baik dari padanya. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari Thiin." (7:12)  
  • Sesungguhnya Kami ciptakan manusia itu dari perkembangan Thiin (23:12)
  • Firaun berkata: "Wahai masyarakat, tidaklah aku ketahui padamu ada Tuhan selain Aku, maka nyalakanlah untukku Thiin hai Hamaan, dan jadikanlah untukku menara agar aku tembakkan kepada Tuhan Musa. Bahwa aku menyangkanya termasuk orang-orong pendusta." (28:38)
  • Yang membaikkan tiap sesuatu yang Dia ciptakan, dan Dia yang memulai penciptaan manusia dari Thiin (32:7)
  • Maka tanyakanlah kepada mereka, "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?" Bahwa Kami menciptakan mereka dari Thiin mendingin (37:11)
  • Agar Kami kirim atas mereka batu-batu dari Thiin yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas" (51:33-34)
  • Dan ketika Kami katakan pada malaikat: "Bersujudlah untuk Adam," maka mereka bersujud kecuali Iblis, dia berkata: "Apakah aku akan bersujud untuk orang yang Engkau ciptakan dari Thiin?" (17:61)

Istilah Thiin yang tercantum pada ayat tersebut tidak bisa diartikan dengan 'tanah' tetapi seharusnya Meteor. Meteor juga pernah dijatuhkan untuk membinasakan orang-orang berdosa di zaman Nabi Luth, dan sampai kini masih banyak meteor luar angkasa yang siap sedia menghantam manusia berdosa. Dalah hal ini juga dijelaskan pada ayat 11:83, 51:33-34. Ketika Firaun menyuruh orang membakar batu untuk ditembakkan kepada Tuhan Nabi Musa sebagai peluru berapi berbentuk Thiin atau meteor melayang cepat, lihatlah ayat 28:38. Memang waktu itu biasanya manusia berperang memakai pelating/pemanah yang pelurunya terdiri dari batu-batu menyala. Maka batu menyala yang dimaksudkan Firaun tak lain adalah Thiin.

Dalam ayat 17:161 secara jelas menyatakan bahwa Adam berasal dari meteor atau Thiin. Ayat ini bukanlah menyatakan Adam diciptakan dari Thiin, tetapi berasal dari meteor yang melayang dan bersinar, pecahan tanah yang jatuh ke Muntaha. Ketika Adam bersama istrinya diberangkatkan dari Sidratul Muntaha ke Bumi dengan penjagaan atau Barkah yang menyelamatkannya dari gesekan dengan molekul udara. Sewaktu Adam memasuki atmosfir Bumi, maka Barkah itu bersinar karena gesekan hingga berbentuk meteor jatuh ke Bumi. Pemberangkatan Adam dari Muntaha ke Bumi tentunya dengan ilmu Allah yang juga memperjalankan Ibrahim dan Muhammad, seperti yang dijelaskan pada ayat 6:75 dan 17:1. 

Berbeda dengan keadaan yang terkandung pada ayat 6:2, 7:12, dan 37:11, yang menerangkan asal-usul manusia dari Thiin atau meteor, begitu juga yang termuat pada ayat 23:12. Keempat ayat ini bukan menyatakan semua manusia dibentuk dari Thiin karena mereka semuanya dilahirkan oleh ibunya, kecuali manusia pertama. Manusia pertama yang dibentuk langsung dari Thiin dinyatakan pada ayat 32:7. Meteor merupakan pecahan planet termasuk pecahan Bumi, diantaranya ada yang masih melayang di angkasa selama jutaan tahun karena pecahan itu dulunya bergerak ke segala arah, ada pula yang telah jatuh ke permukaan Bulan-bulan, planet-planet, dan Bumi. Pecahan-pecahan planet tadi tertarik jatuh ke arah matahari dan setengahnya ke permukaan Bulan-bulan dan planet-planet lain. 

Pecahan itu awalnya bergerak ke segala arah, kebetulan jatuh di permukaan planet Muntaha, salah satu diantaranya diciptakan Allah menjadi manusia pertama. Manusia pertama itu mengalami Parthenogenesis dengan ketentuan Allah, yaitu melahirkan anak tanpa suami yang dinyatakan pada ayat 7:189. Dari kedua orang itu berkembanglah manusia di Muntaha dan seorang diantaranya bernama Adam dipindahkan ke Bumi bersama istrinya untuk menjadi nenek moyang manusia. Hal ini disebutkan pada Ayat 7:11 dan 17:61. Manusia Bumi bukan hasil evolusi monyet melainkan anak cucu manusia pertama di Muntaha, yang diciptakan Allah dari Thiin atau meteor yang telah mendingin. Bentuk dan rupa serta sifat manusia pertama masih dimiliki manusia modern tanpa perubahan.

Istilah Turaab, Sari Tanah Membentuk Manusia


Kata Turaab adalah istilah yang berarti 'Sari Tanah', penggunaan kata ini tertulis pada ayat 2:264, 3:59, 13:5, 16:59, 18:37, 22:5, 23:35, 23:83, 27:67, 30:20, 35:11, 37:16, 37:53, 40:67, 50:3, 56:47, dan 78:40. Ayat-ayat tersebut diantaranya: 

  • Bahwa permisalan Isa pada Allah seperti permisalan Adam. Dia menciptakannya dari Sari Tanah, kemudian Dia katakan "Jadilah" maka jadilah dia (3:59)
  • Dan berkatalah temannya yang selalu mengikutinya: "Apakah engkau kafir pada yang menciptakanmu dari Sari Tanah, kemudian dari nutfah, kemudian Dia menyempurnakan engkau sebagai lelaki?" (18:37)
  • Dan dari pertanda-pertanda-Nya bahwa Dia menciptakan kamu dari Sari Tanah, kemudian itu kamu jadi orang-orang yang bertebaran (30:20)
  • Allah menciptakan kamu dari Sari Tanah, kemudian dari nutfah, kemudian Dia jadikan kamu berpasang-pasangan, dan tiadalah yang dihamilkan perempuan begitupun yang dilahirkannya kecuali dengan ilmu-Nya. Dan tiadalah yang diberi umur menjalani umur kecuali dengan ketentuan. Bahwa yang demikian mudah saja atas Allah (35:11)

Dalam ayat 3:59 menerangkan permisalan Isa sama dengan permisalan Adam, yaitu permisalan yang sama, keduanya sama-sama diciptakan dari Sari Tanah, yaitu dari makanan yang mulanya tumbuh ditanah kemudian diproses dalam rahim ibu masing-masing. Jika Adam dari Sari Tanah maka Isa Almasih juga dari Sari Tanah, dan kalau Isa Almasih dilahirkan ibunya maka Adam juga dilahirkan dari ibunya. 

Tidak satupun ayat yang mengatakan manusia pertama penciptaannya dari Turaab, tetapi dari Thiin sebagai satu-satunya material dikatakan pada ayat 32:7. Maka sangat jelas bahwa manusia pertama di Muntaha diciptakan Allah dari Thiin atau meteor beku, sedangkan manusia lain semuanya diciptakan dari Turaab atau Sari Tanah lalu dilahirkan ibu masing-masing, seperti yang tertulis pada ayat 18:37, 30:20, 35:11 dan ayat lainnya.

Istilah Basyar Untuk Menyebut Gender


Basyar, yaitu istilah yang berarti 'orang' atau gender manusia, ditinjau dari tata bahasa Alquran maka Basyar termasuk muzakkar atau tampan sekalipun wujudnya adalah perempuan. Demikian pula 'insaan' tergolong muzakkar atau lelaki sekalipun wujudnya perempuan. Banyak sekali ayat Alquran yang memuat istilah Basyar, diantaranya sebagai berikut:

  • Basyar dalam bentuk single gender maskulin tetapi termasuk dalamnya perempuan ataupun lelaki dijelaskan dalam ayat 25:54 dan 74:31.
  • Basyar dalam bentuk plural gender maskulin terdiri dari sejumlah lelaki dan perempuan dalam ayat 14:11, 21:34, 30:20, dan 36:15. 
  • Basyar yang mulanya single maskulin kemudian menjadi single feminim, dan seterusnya berbentuk plural gender, dijelaskan dalam ayat 15:33, 15:34, 15:39, 38:71, 38:73, 38:74, 38:77, 38:82, dan 38:83. 

Dari semua istilah Basyar yang tercantum pada ayat-ayat itu berarti menyebutkan orang/sekelompok yang wujudnya mungkin satu atau banyak, mungkin lelaki atau perempuan ataupun gabungan kedua jenis sebagaimana yang berlaku pada istilah insaan. Penciptaan atas manusia banyak termuat dalam AlQuran dimulai dari Thiin atau meteor yang mendingin lalu menjadi manusia pertama pada ayat 32:7, kemudian dari Turaab atau Sari Tanah lalu dilahirkan oleh ibu mereka masing-masing. 

Kejadian yang termuat pada ayat 15:33 dan 38:71 bukan hanya terjadi pada manusia pertama saja, tetapi juga pada manusia seluruhnya dimana Iblis senantiasa melakukan siasat jahat. Kini diantara manusia itu banyak yang mengabdi pada Iblis atau keturunan bangsa jin seperti yang tertulis pada ayat 6:100, 18:50, 34:20, 34:41 dan 72:6. Mengenai meteor mendingin yang dijadikan manusia pertama, AlQuran menambahkan penjelasan lain yang artinya:
Dia menciptakan manusia (Insaan) dari benda jatuh seperti suar. Dan Dia ciptakan jin dari yang menghubungkan dari api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (55:14-16)

Dari semua ayat yang telah dijelaskan, tidak pernah dinyatakan bahwa manusia pertama adalah lelaki atau perempuan, semuanya hanya menerangkan asal-usul atau material yang menciptakan manusia pertama, kemudian manusia itu bergenerasi yang dilahirkan ibu mereka masing-masing.

An-Nisa', Wanita Dan Manusia Pertama Di Dunia


Istilah 'Nafs' yang berarti 'Diri' salah satunya tercantum pada ayat An-Nisa' (4:1) yang berbunyi:
Wahai manusia, insaflah pada Tuhan-mu yang menciptakan kamu dari satu diri, dan menciptakan daripadanya (Minhaa) suaminya, dan membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak. Dan insaflah pada Allah yang kamu meminta pada-Nya dan berkasih sayang. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Ayat itu menjelaskan bahwa manusia pertama adalah Perempuan, diterangkan dalam surat An-Nisa’ yang artinya 'Perempuan'. Dari perempuan pertama itu lahirlah anak lelaki melalui Parthenogenesis tanpa ayah. Anak ini kemudian menjadi suami perempuan itu hingga akhirnya manusia mulai berkembang. Lelaki dan Perempuan di planet Muntaha, dimana Adam dilahirkan oleh ibunya juga melalui Parthenogenesis seperti halnya Isa Almasih di Bumi yang dilahirkan ibunya tanpa suami. Istilah Nafs, walaupun bentuknya 'Singular Feminine Gender' dimana kemungkinan wujudnya lelaki atau perempuan sebagaimana yang berlaku pada Basyar dan Insaan. 

Logika ayat 4:1 sangat jelas menyatakan bahwa manusia pertama adalah Perempuan yang melahirkan seorang anak laki-laki melalui proses (kini disebut dengan Parthenogenese, yaitu kehamilan perempuan tanpa suami), semuanya dengan ketentuan Allah hingga berlaku secara Logis tanpa merusak ciptaan-Nya. Tidak seperti yang dinyatakan dalam Bible yang menjelaskan bahwa Adam ditidurkan lalu dibelah dadanya, diambil sebuah tulangnya lalu dijadikan istri yang kemudian dinamakan Eva atau Hawa
Dan bahwa dari mereka itu ada sebagian yang memutarbalikkan lidahnya tentang kitab agar kamu sangka dia dari kitab, padahal bukanlah dia dari kitab. Dan mereka mengatakan dia dari Allah padahal bukanlah dia dari Allah. Dan mereka mengatakan kedustaan tentang Allah, sedangkan mereka mengetahui (3:78)

Kisah AlQuran jelas jauh lebih logis yang bisa diterima dalam sains modern daripada Bibel, dimana dalil dan alasan ini juga tertulis pada ayat berikut:

  • Dia-lah yang menciptakan kamu dari 'satu diri' dan menjadikan daripadanya (Minhaa) suaminya untuk tinggal padanya. Maka ketika dia (suami itu) menutupinya, hamil-lah dia dengan kandungan ringan. Ketika telah memberat, kedua orang itu berdoa pada Allah Tuhan mereka: "Jika Engkau memberi kami seorang anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka ketika Dia memberi mereka seorang anak yang saleh, mereka jadikan untuk-Nya sekutu dengan anak yang Dia berikan kepada mereka itu. Mahasuci Allah tentang apa yang mereka persekutukan (7:189-190) 
  • Dia ciptakan kamu dari satu diri kemudian menjadikan daripadanya (Minhaa) suaminya, dan Dia turunkan untukmu delapan pasang ternak. Dia ciptakan kamu dalam perut ibumu sebagai ciptaan sesudah ciptaan dalam tiga kegelapan. Itulah Allah Tuhan-mu, kepunyaan-Nya kerajaan, tiada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (39:6)

Manusia pertama adalah perempuan, dia melahirkan seorang anak lelaki yang kemudian menjadi suaminya, atau 'Zawjhaa'. Istilah Zawjahaa pada ayat 4:1, 7:189 dan 39:6, biasanya diterjemahkan sebagai 'istrinya'. Tetapi menurut bahasa AlQuran istilah itu berarti Suaminya. Tetapi selama ini orang telah dipengaruhi oleh ajaran Bible mengenai kejadian Adam tercantum pada Genesis, hal inipun tidak dapat diterima para sarjanawan ilmiah. Sementara jika diperhatikan maka akan diketahui bahwa istilah Zawjahaa berarti 'suaminya' seperti yang tercantum pada ayat berikut:
Sungguh Allah mendengar perkataan perempuan yang membantah engkau tentang Suaminya (Zawjahaa) dan menuntut kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan. Bahwa Allah mendengar lagi melihat (58:1)

Adapula istilah yang artinya 'istrinya' seperti pada ayat 2:102 dan 21:90, tetapi istilah itu berbunyi Zawjuhuu (bukan Zawjahaa), sesuai dengan pengertian dan tata bahasa AlQuran. Penjelasan ini menegaskan bahwa manusia pertama di Tata Surya adalah seorang perempuan yang dinamakan dalam satu Surat Alquran, An-Nisa'.

Nazwar Syamsu menegaskan, sangat tidak beralasan menyatakan Adam diciptakan dari sebentuk tanah liat langsung menjadi manusia sebagaimana diperkirakan orang selama ini. Pernyataan demikian bertantangan dengan maksud ayat AlQuran, karena penjelasan seperti itu terkandung dalam Genesis, kitab pertama Bible.

Penjelasan Nazwar Syamsu tampaknya lebih menegaskan pada logika ilmu pengetahuan, terang saja buku yang diterbitkannya pada tahun 1980-an mendapat sorotan khalayak ramai. Padahal pada saat ini masyarakat di Indonesia umumnya belum bisa menerima logika karena kurang berkembangnya sains di masyarakat. Buku-buku yang ditulisnya murni menyadur AlQuran tanpa memasukkan hadist, tapi bukan berarti dia seorang yang ingkar hadist. Dia sangat mengerti pengetahuan, terlebih lagi dia sosok yang pernah belajar pada Syaikh Muhammad Jamil Jambek di Bukit Tinggi. Nazwar Syamsu sangat tegas menjelaskan bahwa penciptaan Isa sama seperti penciptaan Adam, melalui kandungan sang ibu.

Referensi


Al-Qur'an Tentang Al-Insan, karya Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia, 1982

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.