Ads Top

Bukti Bumi Hidup, Karbon Ditangkap Dan Disimpan Dalam Lautan


Sekarang ini perubahan iklim sering terjadi secara signifikan. Banyak para ilmuwan terus mencari upaya untuk menyelamatkan kehidupan di bumi dari iklim global. Terdapatnya karbon berlebih di atmosfer menjadikan dunia semakin panas dan dianggap menjadi pemicu perubahan iklim. Namun, alam memiliki caranya sendiri dalam mengurangi, menghilangkan dan menyimpan karbon tersebut dalam jangka panjang. Melalui sistem sungai di dunia, sungai-sungai tersebut membawa bahan organik yang terurai dan karbon di bebatuan yang terkikis dari darat menuju laut. Ini merupakan bukti bumi hidup dan berproses dalam menjaga dirinya dari kehancuran dan kerusakan.

Sungai dunia tersebut bertindak sebagai penyeimbang, sebuah sistem yang bersiklus di bumi, bertugas membilas karbon dari darat ke lautan dan membantu mengurangi jumlah karbon yang kembali ke atmosfer. Karbon tersebut beberapa dari tanaman yang membusuk dan material tanah lainnya yang tercuci di sungai kemudian terbawa ke laut. Ada juga beberapa beberapa berasal dari karbon yang telah lama tersimpan dalam lingkungan dalam bentuk batu atau karbon tua yang terkikis oleh cuaca dan arus sungai.

Pada umumnya, tanaman akan mengkonversi co2 yang ada di udara menjadi karbon organik melalui sistem fotosintetis. Namun, sebagian besar karbon tersebut pada akhirnya akan kembali ke atmosfer ketika bahan tanaman terurai. Dengan kata lain hewan yang memakan tumbuhan mati dan terurai. Dn sebagian kecil dari bahan ini akan berakhir di sungai kemudian terbawa ke laut dimana sebahagian akan mengendap ke dasar laut, terkubur dan terputus dari atmosfer selama jutaan tahun. Kemudian karbon yang terendap tersebut akan membuat jalan kembali ke permukaan dalam bentuk bebatuan.


Add caption


Secara harfiah bukti bumi hidup dapat kita lihat dari penemuan ini dimana alam bertindak untuk mengurangi jumlah karbon. Para ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic INstitution (WHOI) melakukan penghitungan estimasi pertama dari berapa banyak dan dalam bentuk apa karbon organik dibawa ke laut oleh sungai. Estimasi tersebut akan membantu ilmuwan untuk membuat model dalam memprediksi bagaimana karbon dapat terbawa dari sungai global yang mungkin bergeser pada perubahan iklim bumi. Namun perlu dijelaskan bahwa sistem sirkulasi bumi ini dimana sungai membawa karbon ke laut tidak pada skala dimana akan dapat menyelamatkan manusia dari masalah CO2. Hingga saat ini para ilmuwan masih belum mengetahui berapa banyak karbon di sungai dunia secara rutin terbawa ke laut.

Para ilmuwan seperti Bernhard Peucker-Ehrenbrink, dan Timothy Eglinton (saat ini di ETH Zutich) telah mengumpulkan data-data pada sedimen yang mengalir dari 43 sistem sungai di seluruh dunia. Sungai-sungai tersebut juga mencakup berbagai iklim, vegetasi, kondisi geologi, dan tingkat gangguan manusia. Dari data tersebut 80 persen karbon tertangkap oleh sungai.

Dari pengukuran aliran sedimen sungai ini, tim peneliti menghitung sejumlah partikel karbon yang mengandung tanaman dan puing batu yang masing-masing sungai bawa. Mereka memperkirakan bahwa sungai-sungai di dunia setiap tahunnya mengangkut 200 megaton (200 juta ton) karbon ke laut. Jumlah ini sama dengan sekitar 20 persen dari total massa karbon di atmosfer. tidak terlihat sangat banyak, tetapi lebih dari 1000 sampai 10.000 tahun, jumlah ini terus bertambah hingga sejumlah besar karbon (20 dan 200 persen) diekstrak dari atmosfer.

Saat ini ilmuwan belum mengetahui berapa banyak karbon yang bersumber dari biosfer atau petrogenic (bebatuan) yang terbawa oleh sungai menuju laut. Mereka juga menemukan cara baru untuk membedakan untuk pertama kalinya sumber karbon yang - baik dari batuan terkikis atau dari tanaman membusuk dan material tanah. Dengan menganalisis jumlah karbon-14, isotop radioaktif, dalam partikel sungai. Pada karbon-14, jenis karbon ini akan meluruh dalam waktu sekitar 60.000 tahun, sehingga yang ada hanya dalam bahan yang berasal dari makhluk hidup, dan bukan batu. Mengurangkan sebagian partikel yang tidak mengandung karbon-14, para ilmuwan menghitung persentase yang berasal dari biosfer terestrial: sekitar 80 persen.

Dalam membawa karbon dari daratan menuju ke lautan sepenuhnya dikendalikan oleh kapasitas sungai untuk bisa memobilisasi dan membawa partikel. Dalam hal ini, erosi berperan penting dalam pergerakan karbon di darat. Semakin banyak erosi terjadi di sungai maka semakin banyak pula karbon yang akan terbawa ke laut. Pada saat yang sama, sungai juga mengikis batuan yang mengandung karbon menjadi partikel yang terbawa ke hilir. Proses pengikisan akan membuat karbon keluar ke udara. Oksidasi karbon yang sebelumnya terkunci akan  menjadi karbon dioksida yang dapat bocor kembali ke atmosfer.

Hingga saat ini para ilmuwan masih belum memahami peran sungai global dalam siklus karbon planet. Penelitian lanjutan akan memberikan permodelan geokimia pada wawasan baru yang terhubung antara karbon global dan siklus air serta akan meningkatkan kemampuan para ilmuwan untuk memprediksi bagaimana sungai yang membawa karbon dapat berubah karena perubahan iklim bumi. Paling tidak temuan ini menjadi acuan bersama dalam memberikan kontribusi ilmu pengetahuan. Seolah-olah penelitian ini melihat bahwasannya ini merupakan bukti bumi hidup dan membuat kita berpikir untuk bisa menjaganya.

Referensi

Study Reveals How Rivers Regulate Global Carbon Cycle,  May 13, 2015,  by Woods Hole Oceanographic Institution.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.