Ads Top

Giordano Bruno, Filsuf Martir Yang Dieksekusi Gereja Roma


Bruno telah lama dihormati sebagai martir kebenaran ilmiah, pada tahun 1889 sebuah monumen didirikan di lokasi eksekusi yang menyatakan perasaan untuk Bruno. Dia dikabarkan telah melihat alam semesta, melihat masa lalu dan teori yang digunakan ratusan tahun berikutnya. Dia menentang otoritas Gereja dan menolak untuk mengakui kesalahan keyakinan filosofis selama delapan tahun di penjara Venesia dan Inkuisisi Roma. Hidupnya menjadi saksi pengetahuan dan kebenaran yang menandai periode sejarah Renaissance, periode yang begitu banyak mengungkap seni modern, pemikiran, dan ilmu pengetahuan. Tahun 1600, Gereja Katolik Roma mengeksekusi Giordano Bruno atas dasar kejahatan bid'ah, dia dibakar hidup-hidup di tiang pancang. 

Filippo Bruno, dia lahir di Nola Italia pada tahun 1548, dia masuk sekolah Biara Saint Domenico saat berusia 13 tahun. Giordano Bruno kemudian menjadi seorang imam Dominikan pada tahun 1565, tetapi melarikan diri 11 tahun kemudian karena ide yang dituangkan sangat mengejutkan. Tulisannya tak terhitung ditulis dalam bahasa Italia atau Latin, sehingga Theosofi mengklaim Giordano Bruno sebagai seorang mistik dan martir. Banyak orang mengtakan bahwa dia 'Rosicrucian' dengan kebangkitan agama Mesir berbasis ajaran mereka. Bruno dianggap petunjuk pertama Freemason di Inggris yang membawa misteri Mesir, dia juga seorang pelopor dalam studi Semantik, dan dia merupakan karakter yang disebut sebagai 'The Nolan' dalam kisah James Joyce, Finnegans Wake.

Visi Giordano Bruno, Penjelajah Waktu


Orang-orang modern mengklaim Bruno sebagai cikal bakal gerakan Gaian, Gaia adalah nama kuno untuk menyebut bumi, diman Gaian dianggap sebagai makhluk kafir dalam agama yang hidup dengan kecerdasan universal. Bruno penganut Panteisme, dia percaya bahwa semua alam hidup dengan semangat ilahi, kecerdasan dan kesadaran. Yang paling menarik,  Bruno menganggap alam adalah Tuhan, dan Tuhan adalah alam.

Karya yang diungkap Bruno menghidupkan kembali Heliocentrisme (dasar filsuf Yunani awal) yang telah dimulai sejak Aristarchus dari Samos sekitar tahun 260 SM. Bahkan sebelumnya, Pythagoras telah mengajarkan bahwa bumi itu bulat pada tahun 580 SM. Ptolemy juga telah mengajarkan hal yang sama, tetapi dia menganggap bumi adalah pusat alam semesta. Kosmologi berpusat pada bumi diungkapkan Aristoteles juga menjadi doktrin yang diterima selama ratusan tahun dalam pemikiran yang ditegakkan Gereja Katolik waktu itu.

Giordano Bruno

Menurut sejarah Gereja Katolik, Heliocentrisme justru mengancam kredibilitas Kitab Suci yang diyakini sebagai otoritas tertinggi dalam segala hal, termasuk ilmu. Tidak ada penafsiran baru Alkitab diperbolehkan. Kalimat pertama dari bumi sebagai pusat dijelaskan dalam Kejadian: "Pada mulanya, Allah menciptakan bumi dan langit." Menurut Kitab Suci, Dia meletakkan bumi pertama kali dan menempatkan benda lainnya di langit untuk kepentingan umat manusia.

Giordano Bruno membuat gambar kosmik berbagai sistem dalam pengetahuan kuno. Dia menggabungkannya kedalam sistem doktrin Panteistik kuno dari Mesir, Yunani, Hindu, Persia, dan fisika dasar animistik abad ke-21. Berdasarkan hal ini, dia dianggap penjelajah waktu karena idenya menyentuh orang-orang dari masa lalu serta masa depan abad ke-21. Sebagai contoh, nubuat Bruno menyatakan 'Teori Banyak Dunia' dalam mekanika kuantum, bahwa alam semesta terbagi menjadi banyak dunia sebagai peristiwa yang terungkap dalam waktu. Dia pernah menyatakan:
Saya bisa membayangkan jumlah tak terbatas dunia seperti bumi, masing-masing memiliki Taman Eden. Semua ini Taman Eden, setengah Adam dan tidak membutuhkan pengetahuan, tapi setengah hati. Tapi setengahnya tak terhingga, sehingga jumlah dunia tak terbatas turun dari kasih karunia dan akan ada jumlah tak terbatas penyaliban. Oleh karena itu, ada satu Yesus yang pergi dari satu dunia ke dunia lain, atau ada jumlahnya tak terbatas. Karena Yesus mengunjungi wilayah yang jumlahnya tak terbatas dan tak terbatas waktu. Oleh karena itu, Allah telah membuat jumlah Kristustak terbatas.

Bruno mengambil informasi masa lalu dan masa depan secara bersamaan bagaikan lipatan tirai yang tak terbatas. Dunia fisik mengungkap sesuatu tak terbatas, tertanam dalam ruang yang penuh dengan dunia lain yang mungkin terlihat diantaranya dalam gelombang probabilitas mekanika kuantum. Kondisi dunia seperti itu bagai kebetulan, dalam satu dari kedua kemungkinan bisa saja nyata.

Teori Kuantum dan Relativitas Einstein menjelaskan, kita hidup dalam 'Banyak Dunia' di alam semesta, dimana semua momen berasal dari masa lalu, masa kini, dan masa depan, ada secara bersamaan sebagai bagian dari keberadaan permanen tunggal. Bruno juga mengatakan tentang Tuhan dan Waktu:
Pikiran tunggal, yaitu Firman-Mu, mencakup semua dan masing-masing dalam dirinya sendiri, ucapan-Mu tak bisa bermacam-macam, sebaliknya berubah... Dalam kekekalan di mana menurut pendapat-Mu, semua bertepatan demi satu waktu, dengan masa sekarang dan keabadian. Ada,... karena itu, tidak ada masa lalu atau masa depan dimana masa depan dan masa lalu bertepatan dengan saat ini.

Giordano Bruno juga mengungkap ide atom dan partikel yang lebih kecil lagi, sebuah unit yang dibagi, sebuah unit pemikiran, ketika dia mengungkapkan semua ini dalam tulisannya:
Atom, diluar yang kita tidak bisa dihindari, meskipun dalam pemikiran mungkin dibagi lebih jauh lagi, sehingga ada disetiap gambar, dalam setiap benda semacam itu terdapat sejumlah atom tertentu.

Saat ini, fisikawan kuantum menunjukkan pemikiran itu, tindakan manusia adalah kekuatan yang melahirkan kemungkinan dalam dunia materi. Ilmuwan Harold McGowan mengusulkan 'Thoughtron' menjadi atom mungil yang terkandung dalam segala sesuatu. Dalam bukunya 'The Thoughtron Theory of Life and Matter', McGowan mengusulkan Thoughtron sebagai partikel elementer terkecil, dan akan menjadi jembatan mental antara dunia pemikiran dan realitas formal.

Giordano Bruno telah melihat matematika dan geometri dalam metode sejati ilmu alam, dia menjelaskan bahwa, jumlah adalah prinsip alam dan menghasilkan pemahaman aktifitas itu, dan angka akan mengungkap pemahaman. Tetapi Bruno tidak bisa membayangkan filsafat alam, jumlah, geometri, diagram, tanpa menanamkannya kedalam arti ilahi. Filosofinya tidak pernah terpisah dari ke-ilahi-an, meskipun dia menolak ajaran dogmatis, dia dianggap orang suci.

Pada tahun 1543 Giordano Bruno berusia 5 tahun, Nicholas Copernicus menerbitkan risalah matematika 'De Revolutionibus' yang membenarkan teori Pythagoras yang berpendapat bahwa bumi itu bulat. Copernicus kembali mendirikan Heliocentrism Yunani kuno, Aristarchus dari Samos (Aristarchus of Samos) dengan membuktikan secara matematis bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Tetapi Bruno menuduh Copernicus tidak sepenuhnya memahami arti penemuan, hanya berdasarkan matematika. Gambaran ilahi yang diperoleh Bruno mengungkap ketidakterbatasan dunia mengambil alih ide Copernicus. Bruno menolak batas-batas sistem Copernican yang mengemukakan alam semesta sebatas sebuah bola tak bergerak dan bintang hanya di luar tata surya. Dia berpendapat bahwa matahari bukan pusat alam semesta, bahkan dia berspekulasi bahwa dunia lain juga dihuni. 

Galileo Galilei Ikuti Jejak Giordano Bruno


Pada tahun 1588, Galileo Galilei mulai mengajarkan teori Copernicus di Universitas Pisa. Kemudian pada tahun 1609, Galileo menemukan bulan Jupiter melalui teleskop buatan tangan, berdasarkan penemuan teleskop yang digunakan oleh seseorang dari Belanda, teori Copernicus digantikan esoteris, berbagai bukti visual telah ditemukan. Galileo kemudian dibawa ke Roma dan diinterogasi oleh Inkuisisi pada tahun 1615, dipaksa untuk menyatakan sistem Copernican secara ilmiah palsu, dan dia terpaksa berjanji untuk berhenti mengajarkannya. Galileo mengabaikan janjinya, dan kembali ke Florence melanjutkan dengan karyanya, penerbitan temuan ini berlangsung 16 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1632.

Galileo dipanggil kembali ke Roma oleh Inkuisisi pada tahun 1633, dan dipaksa untuk mengakui kesalahan Heliocentrisme dibawah ancaman penyiksaan, kali ini dia menjadi tahanan rumah sampai menjelang kematiannya tahun 1642. Galileo mengundang Inkuisitor untuk melihat melalui teleskop dan melihat sendiri bulan Jupiter yang berputar di sekitarnya, tetapi mereka menolak untuk melakukannya. Heliocentrisme secara resmi dihentikan lebih dari 20 tahun kemudian pada tahun 1664, ketika Paus Alexander VII melarang semua buku yang menegaskan adanya pergerakan bumi.
Gereja Katolik Roma enggan mengakui bahwa Galileo Galilei benar, hal ini hanya mendukung teori Copernicus. Inkuisisi Kudus telah memaksa Galileo menarik kembali ide-idenya dibawah ancaman penyiksaan ditahun 1633. Tapi tidak termasuk seperti kasus Bruno, tulisan-tulisannya masih dalam daftar teks terlarang Vatikan. 

Seratus tahun sebelum temuan ini, Giordano Bruno berada di Perancis dan Jerman dan mengajar Heliocentrism di Oxford, Inggris, jauh sebelum abad ke-16. Bruno dan Galileo memiliki banyak kesamaan, keduanya dari Italia, keduanya menganut Heliocentrism 1580-an, meskipun Bruno mengajarkannya beberapa tahun sebelumnya dan keduanya membenci otoritas Inkuisisi. Tetapi Galileo tidak menyebutkan Bruno karena berbahaya bahkan berbicara tentang teorinya, Bruno tidak ahli matematika dan dia bukan seorang astronom. Dia adalah anggota pendeta Dominika dan memiliki keberanian untuk mengungkap teorinya yang tak terbatas pemikiran.

Ptolemaic geocentric, Giordano Bruno

Pada tahun 1584, saat iu usianya 36 tahun, ​​Bruno berbicara di depan sekelompok ilmuwan di London. Dia mengatakan kepada mereka ruang angkasa yang dipenuhi dengan sistem tata surya tak terbatas, masing-masing memiliki matahari dan planet yang berputar. Dia mengajarkan bahwa planet bersinar disebabkan cahaya yang dipantulkan, tapi matahari adalah pusat cahaya. Dia mengatakan tentang bintik-bintik matahari, yang telah dipelajari Nicolas de Cusa, dan pergerakan sistem tata surya dalam ruang angkasa. Filsafat Bruno mengatakan, semuanya tidak diam tetapi bergerak, dari atom terkecil ke sistem bintang terbesar.
Pada tanggal 16 Februari 1600, Gereja Katolik Roma mengeksekusi Giordano Bruno, filsuf Italia atas dasar kejahatan bid'ah. Dia dibawa dari selnya pada pagi hari ke Campo dei Fiori-Roma dan dibakar hidup-hidup di tiang pancang. Otoritas Gereja takut akan ide yang diungkapkannya, para algojo diperintahkan untuk mengikat lidahnya. Sepanjang hidupnya Bruno memperjuangkan sistem astronomi Copernican yang menempatkan matahari di pusat tata surya.

Giordano Bruno dianggap menentang otoritas Gereja dan menolak untuk mengakui kesalahan keyakinan filosofis selama delapan tahun di penjara Venesia dan Inkuisisi Roma. Hidupnya menjadi saksi pengetahuan dan kebenaran yang menandai periode sejarah Renaissance, periode yang begitu banyak mengungkap seni modern, pemikiran, dan ilmu pengetahuan.

Referensi

  • De Umbris Idearum: On the Shadows of Ideas, by Giordano Bruno (Author), Scott Gosnell (Translator), 2013.
  • Giordano Bruno and the Hermetic Tradition, by Frances A Yates, University of Chicago, 1964.
  • Giordano Bruno by the Roman Inquisition, Ptolemaic geocentric conception of the universe. Image courtesy of Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.