Ads Top

Kisah Urashima Taro Hidup 300 Tahun, Bertemu Putri Bergaun Hijau


Salah satu legenda Jepang yang terkenal menceritakan tentang seorang nelayan bernama Urashima Taro. Kisah seorang nelayan yang diundang ke istana Raja Laut Ryugu selama tiga hari sebagai balas jasa setelah menyelamatkan seekor penyu. Tetapi ketika dia kembali ke desa, semua orang yang ditemui sangat asing, tidak dikenal, dan menganggapnya telah tiada tiga ratus tahun lalu. Dalam catatan sejarah Provinsi Tango (Tango no kuni fudoki) menceritakan tentang delapan bidadari yang turun dari langit. Kisah Urashima Taro disebut dalam Nihon Shoki dan Man'yoshu, saat ini dikenal dalam versi Otogizoshi zaman Muromachi. 

Ada beberapa misteri dalam legenda ini, diantaranya menganggap bahwa Urashima Taro telah melompati ruang waktu, dimensi berbeda yang dilalui selama tiga hari setara tiga ratus tahun kehidupan normal di bumi. Dalam kisah, dia menyimpan kotak misterius, Tamatebako, yang membuatnya tetap awet muda. Kemudian sosok putri yang dinikahi Urashima Taro berparas cantik, berambut panjang dan bergaun hijau, sosok yang digambarkan hampir sama dengan legenda ratu penguasa pantai selatan. Toyotama-hime atau lebih dikenal sebagai Otohime, adalah Dewi dalam mitologi Jepang yang disebutkan dalam Kojiki serta Nihon Shoki, dia adalah putri cantik dari Dewa Laut, Ryujin. 

Legenda Urashima Taro Dan Putri Otohime


Legenda menceritakan seorang nelayan kecil di pantai Jepang desa Mizu-no-ye, provinsi Tango, orang-orang menyebutnya Urashima Taro. Ayahnya seorang nelayan dan keterampilan yang dimemilikinya lebih dari dua kali lipat daripada ayahnya, Urashima dianggap sebagai nelayan yang paling terampil dan bisa menangkap lebih banyak Bonito dan Tai dalam satu hari dalam seminggu. Dalam sejarah hidupnya, Urashima tidak pernah mengalami sakit apapun, baik besar atau kecil. Masa kecilnya, teman-temannya selalu menertawakan karena tidak akan pernah bergabung dengan mereka bermain-main menggangu hewan, tapi selalu berusaha untuk menjaga hewan.

Suatu hari ketika senja di musim panas, dia pulang memancing dan melihat sekelompok anak-anak berteriak dan berbicara. Sepertinya anak-anak itu sangat bergembira, dan Urashima Taro naik ke sebuah puncak untuk melihat apa yang sedang terjadi. Beberapa anak laki-laki tertawa riang menyiksa kura-kura, tubuhnya ditarik dua orang anak, sementara anak ketiga memukulnya dengan tongkat, dan anak keempat memukul cangkang dengan batu. 

Urashima merasa sangat prihatin dan memutuskan untuk menyelamatkan kura-kura, dia berbicara kepada anak-anak tersebut dengan cara membujuknya, memberi sejumlah uang kepada mereka. Pada akhirnya dia berhasil mendapatkan kura-kura, Urashima membelai punggung kura-kura dan berkata:
"Oh, nasibmu sungguh menyedihkan! Kau aman sekarang! Mereka mengatakan bahwa bangau hidup selama seribu tahun, namun kura-kura selama sepuluh ribu tahun. Kau mempunyai kehidupan terpanjang daripada setiap makhluk di dunia ini, dan kau berada dalam bahaya besar ditangan anak-anak itu. Sekarang aku akan membawamu kembali ke lautan, jangan biarkan dirimu tertangkap lagi, karena tidak mungkin ada satu kesempatan dilain waktu."

Dia berjalan secepatnya menuju ke pantai dan berdiri diatas batu, kemudian menempatkan kura-kura kedalam air, hewan itu akhirnya pulang dan menghilang dari pandangan.

Keesokan paginya, Urashima beraktifitas seperti biasa, dia naik ke perahu dan pandangannya melamun menuju ke lautan. Dia segera meninggalkan kapal nelayan lain jauh dibelakangnya sampai mereka menghilang dari pandangan. Entah bagaimana, dia tidak tahu mengapa, dia merasa senang luar biasa pagi itu, dan dia berharap kehidupannya seperti kura-kura yang dibebaskan sehari sebelumnya yang mampu mencapai usia ribuan tahun. 

Tiba-tiba dia terkejut dari lamunannya dengan mendengar namanya dipanggil: "Urashima, Urashima!" suara itu jelas seperti lonceng dan lembut seperti angin musim panas, panggilan namanya seakan-akan melayang diatas lautan. Dia berdiri dan melihat ke segala arah, awalnya berpikir bahwa salah satu kapal lain sedang menyusul, tapi tidak ada tanda-tanda perahu. Urashima Taro bertanya-tanya, siapa yang memanggilnya begitu jelas, dia mencari kesegala arah dan melihat kura-kura datang ke sisi perahu, kura-kura yang diselamatkan sehari sebelumnya.
"Nah,... kura-kura, apakah kau yang memanggil namaku?"
Kura-kura mengangguk kepalanya beberapa kali dan berkata: "Ya, itu suaraku. Kemarin hidupku telah diselamatkan, dan aku datang untuk memberikan ungkapan terima kasih dan memberitahumu, betapa aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu kepadaku. Urashima Taro, apakah benar kau belum pernah melihat Istana Raja Laut? Kau telah melewatkan salah satu pemandangan paling indah diseluruh alam semesta. Tempat ini jauh dibawah laut, tetapi jika aku membawamu kesana kita akan segera mencapainya. Itupun jika kau ingin melihat istana Raja Laut dan akan menjadi pemandumu, naiklah ke punggungku, aku akan membawamu."

Urashima melihat cangkang kura-kura berubah besar dimana seseorang bisa dengan mudah duduk dipunggungnya. Mereka terjun ke laut, Urashima tidak pernah bosan atau pakaiannya basah dengan air. Akhirnya, di kejauhan muncul gerbang megah dan di belakang pintu gerbang terlihat atap istana Rin Gin.

Urashima Taro Menetap Tiga Hari Di Istana Raja Laut


"Urashima Sama, Urashima Sama! selamat datang di istana laut, rumah Raja Naga Laut. Kami menyambutmu yang datang dari sebuah negara yang jauh. Dan kau, Kura-kura, kami sangat berhutang budi padamu karena telah membawa Urashima kesini." 
Ketika memasuki sebuah pintu, seorang putri keluar, dia lebih cantik daripada manusia dan pakaiannya berwarna hijau merah, benang emas berkilauan terlihat pada lipatan gaunnya. Rambutnya hitam indah melalui bahunya seperti putri raja ratusan tahun yang lalu, dan ketika dia berbicara suaranya terdengar seperti musik di atas air. Kecantikannya membuat Urashima terheran-heran dan tidak bisa berbicara. 
"Urashima Taro, aku menyambutmu di kerajaan ayahku, kemarin kau membebaskan kura-kura, dan aku telah mengirimkan ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan hidupku, akulah kura-kura itu. Sekarang, jika kau tinggal selamanya di tanah awet muda, dimana musim panas tidak pernah mati dan dimana kesedihan tidak pernah datang, dan aku akan menjadi pengantinmu jika kau mau, dan kita akan hidup bersama bahagia selamanya!"

Pesta pernikahaan putri Otohime diselenggarakan dengan meriah, ketika pesta itu usai mempelai pria berjalan melalui istana dan melihat semua keindahan dan keajaiban. Istana ini dibangun dari karang dan dihiasi dengan mutiara, keindahan dan keajaiban tempat itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kerajaan itu memiliki pemandangan empat jenis musim berbeda dalam satu waktu, di timur terlihat ceri dan plum bermekaran, burung bulbul bernyanyi dan kupu-kupu beterbangan diantara bunga. Di selatan terlihat pohon hijau musim panas, di barat terlihat musim gugur seperti suasan langit matahari terbenam, di utara terlihat tanah berwarna putih perak dengan pepohonan tertutup salju dan es.

Tiga hari berlalu, pikiran Urashima Taro teringat kampung halamannya dan memutuskan untuk menemui orang tuanya. Dia berkata kepada istrinya:
"Oh sayang! Seharusnya aku tidak tinggal disini, karena aku memiliki seorang ayah dan ibu dirumah. Apa yang terjadi pada mereka selama ini? Mereka pasti cemas karena aku tidak kembali seperti biasa, aku harus kembali."

Misteri Kotak Tamatebako, Rahasia Awet Muda Urashima Taro


Kemudian Putri Otohime mulai menangis, tapi Urashima tetap ingat orang tuanya dan menurut tradisi Jepang, tugas kepada orang tua lebih kuat dari segala sesuatu yang lain, lebih kuat dibandingkan kesenangan atau cinta, dan keputusannya tidak akan berubah. Sang putri berkata:
"Tidak ada yang bisa dilakukan. Aku akan mengirimkanmu kembali kepada ayah dan ibumu. Aku akan memberikan ini sebagai tanda cinta, kumohon ambil-lah. Ini adalah Tamate-bako (Tamatebako), berisi sesuatu yang sangat berharga. Kau jangan membuka kotak ini apapun yang terjadi! Jika kau membukanya, sesuatu yang mengerikan akan terjadi padamu! Sekarang,... berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membuka kotak ini!" 

Sebuah kotak perhiasan indah diikat dengan tali sutra dan jumbai sutra merah diserahkan kepada Urashima, dia berjanji untuk tidak akan pernah membuka kotak itu apa pun yang terjadi. Kemudian Urashima Taro kembali ke pantai diantar seekor kura-kura besar, sama seperti ketika dia datang.

Otohime, Tamatebako, Urashima Taro

Ketika dia tiba di desa, semua orang memandangnya, pantai itu masih terlihat sama, tetapi orang-orang yang dilihatnya memiliki wajah sangat berbeda. Berharap bertemu kedua orang tuanya, tapi semua itu sia-sia, penghuni rumahnya tak dikenalnya sama sekali. Urashima bertanya kepada penduduk desa, apa yang terjadi dengan orang tuanya dan kemana mereka pergi. 

Penduduk desa: "Apakah kau Urashima Taro?"
"Ya" kata Urashima, "Aku Urashima Taro!" 
Penduduk desa: "Ha, ha!,... kau tidak sedang bercanda kan? Memang benar ada seorang pria bernama Urashima pernah tinggal di desa ini, tapi itu cerita lama, tiga ratus tahun lalu. Dia tidak mungkin hidup sekarang! Semua itu tertulis dalam sejarah desa."
"Tolong,... jangan membuat lelucon, aku sangat bingung. Aku Urashima Taro, dan aku tidak hidup tiga ratus tahun lalu. Empat atau lima hari yang lalu aku tinggal di tempat ini."

Urashima berdiri melihat sekelilingnya, sangat bingung, dan memang penampilan semuanya berbeda dengan yang diingatnya sebelum dia pergi, dan perasaan seperti apa yang dikatakan orang itu mungkin benar. Dia merasa berada dalam mimpi yang aneh. Beberapa hari yang lalu dia menghabiskan waktu tiga hari di istana Raja Laut. Tetapi menurut penduduk desa dia telah tiada ratusan tahun lalu, dimana desa telah menulis ceritanya turun menurun. 

Urashima Taro merasa tidak ada gunanya tinggal lebih lama lagi, dia harus kembali kepada istrinya yang cantik, berjalan kembali ke pantai, membawa kotak Tamatebako yang telah diberikan kepadanya. Tapi dia tidak bisa menemukan jalan kembali, dan tiba-tiba teringat kotak Tamatebako. 
"Sekarang aku tidak punya rumah, aku telah kehilangan segala sesuatu yang kusayangi disini. Jika aku membuka kotak itu, pasti akan menemukan sesuatu yang akan membantu menunjukkan jalan kembali kepada Putri cantik. Tidak ada yang lain yang bisa kulakukan sekarang,..."

Perlahan-lahan dia melepaskan ikatan tali sutra merah, mengangkat tutup kotak berharga Tamatebako. Awan ungu kecil yang indah keluar dari kotak berupa tiga gumpalan lembut, sesaat menutupi wajahnya dan kemudian menghilang seperti menguap. Urashima yang saat itu seperti pemuda tampan berusia dua puluh empat tahun, tiba-tiba menjadi sangat tua. Punggungnya membungkuk, rambutnya berubah putih, wajahnya berkerut, kemudian Urashima Taro jatuh dan meninggal di pantai.

Referensi


Japanese Fairy Tales, by Yei Theodora Ozaki, Published 1908
The beautiful goddess Otohime presents Urashima Taro with a mysterious box that he is never to open. Illustration by Edmund Dulac (1916). Public domain via Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.