Ads Top

Materi Gelap Telan Energi Gelap, Alam Semesta Akan Berakhir


Luar angkasa memang terlihat gelap dari Bumi, walaupun beberapa warna ikut menghiasi alam semesta berupa gas dan debu antariksa. Baru-baru ini, ilmuwan menjelaskan hipotesis terkini yang menjelaskan sifat materi gelap dan energi gelap, mungkin akan menentukan masa depan alam semesta.

Para ilmuwan yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini berasal dari Portsmouth dan Roma, dimana mereka telah menemukan petunjuk bahwa materi gelap perlahan-lahan menghilang, ditelan energi gelap. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters, American Physical Society. Kosmolog berpendapat bahwa data astronomi terakhir yang mengamati energi gelap sedang tumbuh karena berinteraksi dengan materi gelap, dan tampaknya memperlambat pertumbuhan struktur dalam alam semesta.

Materi Gelap Menelan Energi Gelap


Menurut Profesor Dragan Huterer dari University of Michigan, sangat sedikit yang mengerti tentang materi gelap dan energi gelap. Bagaimanapun dirinya terkejut dengan hasil penelitian ini, analisis mereka sangat berbeda daripada model standar yang paling sederhana dengan tidak ada interaksi. 

Sejak memasuki akhir tahun 1990-an, para astronom meyakini bahwa sesuatu telah menyebabkan perluasan alam semesta sehingga mempercepat perkembangannya. Penjelasan paling sederhana adalah ruang hampa atau vakum yang memiliki kepadatan energi dan merupakan konstanta kosmologi. Model sederhana tidak bisa menjelaskan, sehingga berbagai penelitian astronomi tentang pertumbuhan struktur kosmik, galaksi dan kelompok galaksi, tampaknya tidak seperti yang diharapkan.

Materi Gelap telan Energi Gelap

Dalam studi ini dijelaskan pula bahwa materi gelap menyediakan dasar hipotesis untuk struktur yang tumbuh di alam semesta. Galaksi dibangun dari materi gelap, dan menjelaskan bahwa partikel materi gelap alam semesta tengah menguap dan memperlambat pertumbuhan struktur. Kosmologi mengalami pergeseran paradigma pada tahun 1998 ketika para ilmuwan mengumumkan bahwa tingkat alam semesta mengembang sedang dipercepat. Gagasan tentang energi gelap konstan diseluruh ruang waktu atau konstanta kosmologi, menjadi model standar kosmologi. 

Tetapi saat ini para ilmuwan Portsmouth dan Roma meyakini bahwa dunia pengetahuan telah menemukan penjelasan yang lebih baik, termasuk perpindahan energi antara energi gelap dan materi gelap. Mereka memeriksa data dari beberapa survei astronomi, termasuk salah satunya adalah data perangkat Sloan Digital Sky Survey, dan pertumbuhan struktur diungkapkan melalui survei untuk menguji model energi gelap yang berbeda.
Menurut Profesor David Wands, seorang direktur Portsmouth's Institute of Cosmology and Gravitation, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sifat-sifat dasar ruang waktu. Dalam skala kosmik akan menjelaskan tentang alam semesta dan bagaimana nasib semesta dimasa mendatang. Jika energi gelap tumbuh dan materi gelap menguap, maka seluruh makhluk hidup akan berakhir, kosong, alam kehidupan hampir tidak ada sama sekali.

Profesor Wands menjelaskan bahwa kedua ilmuwan yang meneliti telah menghabiskan waktu beberapa bulan selama musim panas dan melihat konsekuensi pengamatan terbaru. Analisis saat ini didukung data yang jauh lebih banyak tersedia dibandingkan pada tahun 1998. Model yang dijelaskan kali ini menegaskan, bahwa model standar yang digunakan secara umum tidak lagi sesuai untuk menggambarkan keberadaan energi gelap di alam semesta.

Referensi


Universe may face a darker future, 31 October 2014, by University of Portsmouth. Journal Ref: Indications of a Late-Time Interaction in the Dark Sector. Physical Review Letters, 2014; 113 (18) DOI: 10.1103 / PhysRevLett.113.181301

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.