Ads Top

Situs Bawah Laut Eropa Berusia 300 Ribu Tahun


Selama beberapa tahun terakhir, sekelompok ilmuwan asal Eropa terus mempelajari sisa-sisa pemukiman manusia prasejarah yang saat ini terendam di bawah laut. Diantaranya termasuk beberapa situs bawah laut yang diduga tenggelam puluhan ribu tahun lalu. Penemuan dan analisis ini merupakan bukti penting peninggalan prasejarah, bidang ilmiah baru mungkin akan muncul yang menggabungkan keahlian dari berbagai disiplin ilmu termasuk arkeologi dan oseanografi, misi ini disebut Continental Shelf Prehistoric Research. 

Organisasi European Marine Board (EMB) terdiri dari para ahli 11 negara Eropa dan dipimpin oleh Dr Nicholas Flemming dari Inggris National Oceanography Centre. Mereka menerbitkan rekomendasi dan anlisa setelah meneliti situs bawah laut selama 12 bulan. Makalah ini memberi gambaran yang komprehensif dalam studi warisan budaya yang tenggelam sebagai sumber tak ternilai bagi pembuat kebijakan, penyandang dana dan ilmuwan. 

Analisis Dan Pemetaan Situs Bawah Laut Perairan Eropa


Penelitian ini berkembang pesat dan terfokus pada tujuan yang dicanangkan Dewan Kelautan Eropa (EMB) melalui makalah berjudul 'Land Beneath the Waves: Submerged Landscapes and Sea-Level Change'. Makalah ini menjelaskan bagaimana kondisi selama terjadinya zaman es terakhir sekitar 1 juta tahun, permukaan laut turun hingga 120 meter dan daerah kontinen (wilayah yang tenggelam) meluas 40 persen ke daratan Eropa, dimana wilayah ini merupakan tempat berkembangnya vegetasi, fauna, dan peradaban manusia. 

Situs Bawah Laut

Banyak ditemukan sisa-sisa peradaban dan artefak prasejarah di situs bawah laut perairan Eropa. Sekitar 1,8 juta tahun yang lalu beberapa wilayah tenggelam diantaranya termasuk dekat dengan Laut Hitam, pantai utara Spanyol, pantai Inggris setidaknya 0,8 juta tahun yang lalu, daratan yang mencakup beberapa rute Afrika ke Eropa, dan daerah dimana makhluk hidup selamat selama terjadinya Zaman Es.
Setidaknya lebih dari 2500 artefak prasejarah terendam, dimulai dari periode 5000 tahun hingga 300,000 tahun lalu, dimana semua ini telah ditemukan di perairan pesisir dan cekungan laut terbuka seluruh Eropa. Hanya beberapa wilayah berhasil dipetakan penyelam atau dinilai untuk pelestarian budaya yang hilang. Situs bawah laut berisi informasi tentang pelayaran kuno, struktur sosial dan teknologi eksploitasi sumber daya pesisir sebelum adanya pertanian sekitar 10,000 tahun yang lalu. 
Dalam mempelajari dan menganalisa manusia prasejarah melewati perubahan iklim permukaan laut, ilmuwan menggabungkan pemeriksaan artefak bawah laut dengan model palaeoclimate, rekonstruksi lapisan es dan kurva permukaan laut, survei dan penggalian situs bawah laut dengan teknik modern.

Makalah yang dikeluarkan EMB menegaskan bahwa peninggalan prasejarah situs bawah laut sedang mengalami kehancuran disebabkan erosi alam dan gangguan industri. Menurut para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, peradaban prasejarah Eropa yang tenggelam perlu dikaji terutama yang berada diskala cekungan laut.

Sampai saat ini, komunitas riset yang ada jarang ditemukan dan penekanan diperlukan untuk melatih arkeolog kelautan. Komunitas yang ada berusaha mempromosikan situs bawah laut Eropa dalam bentuk kerjasama dengan ilmuwan, ahli perubahan iklim dan pemodel numerik. Banyak penemuan awal yang didanai industri, perannya diperkuat dengan meningkatkan kerjasama dengan badan warisan budaya nasional dan akademisi. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan analisa dan pemetaan, melindungi, dan jika perlu menggali artefak yang tertimbun dalam sedimen bawah laut.

Referensi


Tracing our ancestors at the bottom of the sea, 03 October 2014, by European Science Foundation. Desilo achaeological underwater site at Hutovo Blato, image courtesy of Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.