Ads Top

Siapakah Yang Menghukum Mati Syekh Siti Jenar Dan Al-Hallaj?


Dalam perbincangan kami dengan seorang guru besar Sufi di salah satu wilayah Suamtera Utara, sempat bercerita tentang kehidupan para sufi terdahulu. Salah satunya mengenai Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar, dikenal sebagai sosok sufi yang dihukum mati. Tapi, siapakah sebenarnya yang menghukum mati, jika benar,.. dimana makam Syekh Siti Jenar?

Menurut KH Muhammad Sholikhin, dalam bukunya 'Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo', setidaknya dia menyebutkan ada tujuh versi kematian Syekh Siti Jenar. Diantaranya dihukum mati oleh Sultan Demak, dihukum Sunan gunung Jati, dihukum Sunan Giri, dan versi cerita dihukum mati oleh Wali Songo. Tetapi pada kenyataannya, tidak ada kejelasan pasti yang dituliskan dalam berbagai buku yang pernah diterbitkan. 

Mungkin, kisah kedua ulama Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar merupakan salah satu kontroversi tersendiri dikalangan umat muslim. Percakapan kami cukup panjang beberapa hari lalu dengan seorang guru sufisme PPDH yang tak ingin identitasnya disebutkan, dia menceritakan kisah sebenarnya tentang orang-orang yang membunuh utusan Allah, tepat seperti yang dikisahkan dalam Quran. 

Misteri Hukum Mati Syekh Siti Jenar Dan Al-Hallaj


Sejak masuknya kolonisme ditanah air, para penjajah tidak hanya merampas kekayaan ibu pertiwi, tetapi juga telah merusak literatur dan sejarah bangsa. Diantaranya kisah para pahlawan yang menentang kolonial, sementara orang-orang yang dekat dengan pemerintahan penjajah kisahnya diubah sebaik mungkin. Banyak fakta yang ditemukan bahwa sejarah perjuangan di Indonesia di palsukan, salah satunya perjuangan Sisingamangaraja XII, dimana pengusutan silsilah menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang muslim.

Sulit dipercaya, agama yang dianut Sisingamangaraja XII awalnya adalah agama asli Batak. Tetapi sejak zaman Belanda terdengar isu Sisingamangaraja XII seorang muslim, yang pertama menyebarkan isu ini adalah Rheinische Missionsgesellschaft, missionaris Belanda. Pada waktu itu Singamangaraja XII mulai menyalin kerjasama dengan pihak Aceh yang menganut ajaran Islam (tasawuf) untuk memerangi kekuasaan kolonial Belanda diwilayah Sumatera. Tetapi setelah kematiannya, mengapa makam Sisingamangaraja XII diberi nisan salib? Padahal pada saat dia menjalani hidup sebagai muslim tidak ada masalah sama sekali dengan rakyatnya yang berbeda agama, mereka rukun sebelum masuknya kolonilisme Belanda.

Pemerintahan kolonial Belanda menyadari kekuatan besar ditanah air, mereka tidak hanya mencuri kekayaan alam, bahkan tradisi dan legenda orang-orang terkenal diubah kisahnya. Mereka menerapkan divide et impera, sebuah cara yang lebih halus dengan menggunakan makam Sisingamangaraja XII untuk memecah belah wilayah Batak. Tentunya masyarakat beragama saling terpecah menjadi beberapa kelompok yang akan mempermudah penjajahan kolonialisme. 
Jadi, sebenarnya kisah pemalsuan religi ditanah Batak tidak ada kaitannya dengan Islam, dimana mereka sebelumnya tidak mempermasalahkan dan hidup rukun, semua ini tak lain hanya taktik penjajah untuk menguasai tanah Batak.

Bagaimana kisah Syekh Siti Jenar? Adakah keterlibatan kolonilisme dalam mengubah kisah sembilan wali? Kolonialisme tetap berusaha mengubah kisah walaupun pada waktu itu penjajah belum sepenuhnya memasuki wilayah Indonesia. Mereka menyadari, kekuatan besar dibalik penyebaran agama Islam, suatu saat akan mempersulit pemerintahan kolonial dalam menguasai kekayaan tanah air.

hukum pancung, hukum mati syekh siti jenar

Adalah fitnah besar menuduh para ulama sekaligus wali yang menghukum mati Syekh Siti Jenar. Sebuah taktik yang dilancarkan penjajah yang berusaha untuk memecah bangsa termasuk dari sudut religi yang memaksa umat pengikutnya saling terpecah, pengikut ajaran Syekh Siti Jenar, pengikut ajaran sunan, terus berkembang menjadi berbagai kelompok dan berlanjut sampai saat ini dimana tubuh Islam terbagi-bagi.

Ketika kolonilisme memasuki tanah air, mulai terbentuk opini-opini baru sebagai suatu siasat, kemudiaan mereka mulai mencetak buku yang kemudian disebar dan diajarkan dalam pendidikan umum. Tidak heran, fakta sejarah perjuangan bangsa banyak yang tidak sesuai dengan kisah para tetua ataupun guru yang diceritakan secara turun menurun kepada mereka. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Syekh Siti Jenar? Pembicaraan kami berlanjut dan Kyai menegaskan bahwa sistem yang mereka (kolonial) ciptakan telah berhasil merasuki bangsa. 

Ketika Musa tak sadarkan diri selama 40 hari, bukan dalam arti kata pingsan, mengigau, ataupun sejenisnya. Segala perbuatan dan ucapannya bukan berasal dari dirinya, melainkan Kalam Allah yang tidak bisa dibantah dan harus terlaksana ataupun terucap, maka tertulislah ayat-ayat dari-Nya. Musa sadar, dia tahu apa yang dilakukannya tapi tidak bisa dihentikan, sebagaimana disebutkan dalam Quran:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya (Saad, 38:71-73)

Tidak hanya Musa, semua nabi menerima persitiwa yang sama akan berlangsung selama 40 hari, setiap perkataannya adalah Kalam, dimana Allah telah menjadikan manusia sebagai Wahdaniyah pada dirinya. Inilah yang diyakini kaum sufisme, "Aku lebih dekat dari urat nadimu", bahwa di dalam diri manusia terdapat Jiwa Yang Suci. 

Tetapi, pada waktu masa Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar, masih banyak orang yang belum memahami konsep sufi dan para wali utusan Allah. Mereka mengira bahwa ajaran yang diturunkan tidak sesuai dengan syariat, sehingga menimbulkan kontra dan keputusan sesat untuk menghakimi wali.
Fitnah besar telah dituduhkan kepada sembilan wali menghukum mati Syah Siti Jenar, berlangsung selama masa penjajahan hingga saat ini. Tidak mungkin para wali berani menghukum mati Syekh Siti Jenar dimana dirinya sedang menerima Kalam Allah, dan mereka (para wali) sangat mengerti apa yang dirasakan sama seperti Musa. 

Mereka yang tidak mengerti tentang hakikat dan makrifat tidak akan memahami fenomena yang terjadi, sehingga orang-orang (umat) yang menguasai hukum-hukum syariat menghukum mati Syekh Siti Jenar dan Al-Hallaj. Ketika Syekh Siti Jenar dihukum dan darah keluar dari tubuhnya, jasadnya raib, dari dzat kembali ke dzat. Dan itu terbukti sampai sekarang, tidak pernah ada makam Syekh Siti Jenar.

Dalam pembicaraan kami dengan sang guru sufisme, kisah ini sudah diturunkan sejak para guru terdahulu, dimana pada waktu itu banyak kalangan tasawuf ikut membela tanah air dan menyadari politik adu domba yang lancarkan penjajah, bahkan masih melekat sampai sekarang. Tidak hanya kisah Syekh Siti Jenar, tetapi hampir semua pejuang bangsa pada waktu itu telah diubah ceritanya. Setelah kemerdekaan, perpustakaan didirikan dan diisi dengan buku dan catatan yang diambil dari cetakan penjajah, terus berlanjut sampai sekarang.

The Beheading, painting by Enrique Simonet in 1887, image courtesy of Wikimedia Commons - Public Domain.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.