Ads Top


Dokumen Takenouchi, Misteri Naskah Kuno Jepang Ditulis Dewa

Jepang, mungkin tidak memiliki kisah terkenal seperti Mesir, Sumeria dan Babilonia. Tapi Jepang memiliki naskah kuno yang mencatat sejarah umat manusia dan Bumi, naskah ini disebut Dokumen Takenouchi. Selama lebih dari 2000 tahun yang lalu, dokumen Takenouchi menjadi karakter Kana modern dicampur dengan karakter Cina. Dokumen Takenouchi ditulis ulang oleh Takenouchino Matori (Hegurimo Matori), sementara dokumen asli diyakini telah ditulis dalam karakter ilahi (tulisan para Dewa). Dokumen Takenouchi ditranskripsi dari teks kuno bahkan mungkin lebih tua dari peradaban yang pernah ditemukan. 

Fakta sejarah yang tercatat dalam Dokumen Takenouchi dianggap luar biasa, diantaranya legenda Sumera-Mikoto yang turun ke bumi dari dunia yang lebih tinggi di Ameno-Ukifune. Pemerintah dunia terletak di Jepang dan Sumera-Mikoto menyatukan seluruh dunia, dimana para guru besar dunia, Alexander Agung, Musa, Isa, Shakyamuni Buddha, Confucius dan Lao-Tsu, bahkan Muhammad, disebutkan telah menginjak tanah Jepang untuk belajar ajaran-ajaran kuno. Semua manusia terlahir dari ras lima warna yang merupakan cabang dari ras Jepang. Beberapa tahun terakhir, arkeolog secara bertahap mengungkapkan keberadaan peradaban kuno yang kesemuanya disebutkan dalam Dokumen Takenouchi. Artikel ini dibagi menjadi tiga post yang nantinya menceritakan secara bertahap keseluruan ini naskah kuno dari Jepang.

Dokumen Takenouchi, Naskah Kuno Jepang


Kapan dan dimana dokumen asli pernah ditulis masih belum diketahui, tetapi diyakini periode pertama sekitar akhir abad ke-5 Masehi ketika Hegurino Matori (keturunan Takenouchi Sukune) merevisi dokumen pencampuran karakter Kanji dan Kana (tulisan Jepang modern). Penulisan ini Ini terjadi 200 tahun sebelum Kojiki (salah satu naskah tertua Jepang). 

Takenouchi no Sukune, Dokumen Takenouchi

Dokumen Takenouchi dipertahankan Takenouchi no Sukune, salah satu keluarga Takenouchi keturunan Takenouchino Matori, putra pahlawan legendaris Jepang. Naskah asli diturunkan dari generasi ke generasi di Kosokotaijingu, Gunung Omijin di Toyama. Tidak jelas bagaimana Takenouchino Matori menerjemahkan bahasa Dewa, tetapi menurut transkripsi modern bahwa dokumen Takenouchi menggambarkan sejarah semua bangsa ketika Era para Dewa berkuasa. 
Dokumen Takenouchi berisi catatan sejarah, nenek moyang keluarga Sumera datang ke bumi dari dimensi yang lebih tinggi menggunakan Ameno-Ukifune, semacam pesawat angkasa. Peradaban berasal dari Jepang kuno, keturunan keluarga Sumera kemudian dikirim ke seluruh dunia, mereka merupakan ras dari lima warna kulit berbeda. 
Anehnya, tradisi yang digambarkan dalam dokumen Takenouchi memiliki kesejajaran dengan doktrin Barat tertentu yang baru mulai terungkap pada tahun 1928 ketika pertama kali diperkenalkan. Peneliti teks kuno Takenouchi telah mengidentifikasi sebuah pesawat kuno yang digunakan Kaisar Jepang, pendaratan pesawat ini tersebar diseluruh dunia dan piramida di hutan Jepang, dimana pesawat ini diklaim ada sampai sekarang.

Kisah Awal Dunia Dalam Dokumen Takenouchi


Menurut legenda, dokumen asli ditulis dalam karakter ilahi ribuan tahun lalu oleh para Dewa. Teks yang tidak biasa menceritakan kisah kemanusiaan dengan cara yang belum pernah diceritakan sebelumnya, mulai dari awal penciptaan sampai munculnya agama kristen. Dokumen Takenouchi berbicara tentang masa lalu dimana manusia hidup damai dan harmoni, bersatu dibawah kekuasaan Sang Pencipta.

Naskah ini menyebutkan dunia kuno yang berkembang dalam empat periode waktu yang berbeda sekitar 300 miliar tahun yang lalu. Isi dokumen Takenouchi antara lain menyebutkan:
  • Tujuh generasi Dewa Surgawi periode Tenjin (tiap generasi memiliki 7 sub-generasi Tenjin)
  • Era Joko atau Koto, terdiri dari 25 generasi
  • Dinasti Fukiaezu, terdiri dari 73 generasi
  • Dinasti Kanyamato mencakup 125 generasi, sejak tahun 660 SM hingga sekarang.
Selama periode generasi ketujuh, berbagai makhluk mengembangkan teknologi termasuk transportasi dan menulis, pengendalian cuaca, teknologi pertanian dan teknologi otomatis. Generasi ketujuh awalnya dimulai awal dengan silsilah Kaisar, Sumera-Mikoto. Dokumen Takenouchi mejelaskan bahwa 'Sumera-Mikoto' merupakan 'Anak Matahari' karena dianggap keturunan Dewa Matahari.
Kisah yang tertulis menyebutkan bahwa dunia awalnya adalah lautan lumpur dan membentuk alam selama 22 miliar tahun. Dewa dan Dewi pertama muncul, langit dan bumi dipisahkan kemudian matahari dan bulan diciptakan. Secara bertahap, Bumi terbentuk selama 6 periode generasi, pada generasi kelima para Dewa melahirkan 'Dewa pencipta' makhluk pertama yang mengisi dunia yang diturunkan ke Gunung Kurai di Jepang, dia bertubuh cemerlang. 
Anak Dewa Matahari mendirikan Dinasti Kuno, setelah 8 miliar tahun putra dan putri mereka dikirim ke seluruh dunia untuk mendirikan bangsa masing-masing. Dalam dokumen Takenouchi disebutkan bahwa penciptaan manusia tidak mengikuti evolusi. Tetapi para Dewa menciptakan manusia dan anak-anak Dewa menciptakan lima jenis manusia berkulit putih, merah, biru, kuning dan hitam yang kemudian tersebar keseluruh bumi. Dalam hal ini, Jepang dianggap menjadi pusat dunia dimana para dewa menciptakan ras.

Pusat Pemerintahan Dunia Berada Di Jepang


Koto Era merupakan rahim penciptaan pemerintahan dunia bersatu dibawah pemerintahan kaisar dewa pertama, Sumera-Mikoto. Sumera-Mikoto membagi dunia menjadi 16 wilayah, Jepang sebagai pusatnya, kemudian menunjuk seorang raja untuk memerintah dimasing-masing wilayah. Sebagai bukti, lambang Sumera-Mikoto terdiri dari 16 kelopak bunga Krisan (chrysanthemum) yang melambangkan dunia dan 16 wilayah. Lambang ini dikenal Chrysanthemum Flower Seal dan masih digunakan sampai sekarang sebagai Imperial Seal Jepang, tercetak pada passpor.

Imperial Seal Jepang, 16 kelopak bunga Krisan

Lambang ini digunakan anggota keluarga Kekaisaran Jepang, dan dibawah Konstitusi Meiji pada tahun 1890 hingga 1947, tidak ada yang diizinkan untuk menggunakan Imperial Seal kecuali Kaisar Jepang. Uniknya, lambang 16 kelopak bunga Krisan juga ada di pintu Ishtar Babilonia, terlihat rekonstruksi menggunakan batu bata asli dan sekarang berada di Museum Pergamon, Berlin. Tak hanya kerajaan Babilonia, Istana Alhambra Spanyol, Roma, Mesir, dan di tempat lain, juga masih menggunakan lambang yang sama. 

Dalam naskah Takenouchi disebutkan pusat pemerintahan dunia terletak di Pegunungan Hida, Jepang. Kuil Kosokotaijingu dianggap paling suci yang didedikasikan untuk nenek moyang umat manusia, dibangun dengan logam anti karat yang disebut Hihiiro-Kane, dan pada waktu itu semua ras manusia mengunjungi kuil untuk merayakan dalam festival tahunan.

Dokumen Takenouchi Asli Disembunyikan?


Dokumen Takenouchi diduga disita pemerintah dan kemudian hilang, akibatnya banyak spekulasi mengenai akurasi dimana naskah mungkin saja diragukan. Menurut Ichiro Yamane, dokumen Takenouchi adalah naskah propaganda yang ditulis oleh militer Jepang untuk membenarkan Kaisar Jepang menguasai dunia. 

Ada saat-saat ketika seseorang harus menarik diri untuk menghindari penganiayaan agama, ataupun tuduhan penghujatan. Saat-saat ketika nenek moyang keluarga Takenouchi, para imam Kuil Koso Kotai Jingu, dimana mereka setia menjaga rahasia harta suci, bahkan mempertaruhkan hidupnya. Keluarga Takenouchi berusaha mengembalikan harta suci yang telah berada dibawah perlindungan mereka ke tempat layak dengan silsilah Sumera-Mikoto.

Tetapi ketika Dokumen Takenouchi diungkapkan kepada publik, pandangan dunia sejarah akan terbalik. Tidak hanya agama dan lembaga pendidikan, tetapi juga mekanisme politik dunia dan ekonomi direstrukturisasi. Para pemimpin dunia dimasa lalu mengkhawatirkan hal ini terjadi, sehingga menyangkal keberadaan Dokumen Takenouchi. 

Artikel berikutnya membahas tentang kisah perjalanan Adam-Hawa, Alexander Agung, Musa, Isa, Muhammad, dan tokoh sejarah lainnya ke Jepang menurut teks kuno Takenouchi. Dan bentuk Ameno-Ukifune, Kendaraan Anti Gravitasi Jepang Kuno yang digunakan Sumera-Mikoto juga dijelaskan dihalaman berikutnya.

Referensi


Takenouchi Documents - Hidden History Of Mankind And Earth, by Wado Kosaka. Takenouchi no Sukune Meets the Dragon King of the Sea (1879-81), Japan Passport, image courtesy of wikimedia commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.