Ads Top

Kepunahan Spesis Terjadi 1000 Kali Lebih Tinggi Di Era Manusia


Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan ilmu pengetahuan semakin capat beberapa kali lipat daripada sepuluh tahun yang lalu. Seperti penelitian kali ini, para ilmuwan berpendapat berdasarkan perubahan gravitasi Bumi dianggap menjadi penyebab utama kepunahan spesis. Mereka menemukan bahwa spesies yang mati dan punah sekitar 1000 kali lebih sering saat ini daripada sebelum adanya manusia.

Menurut Jurriaan de Vos, seorang peneliti postdoctoral Brown University sekaligus profesor Duke University, bahwa kepunahan spesis sekitar 1000 kali lebih sering saat ini daripada yang pernah terjadi 60 juta tahun sebelum kedatangan manusia. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Conservation Biology. Tim ilmuwan berpendapat, sangat sulit memahami seberapa buruk tingkat kepunahan spesies diseluruh dunia yang pernah terjadi sejak kepunahan massal pertama tanpa mengetahui penyebab sebelum munculnya peradaban manusia. Dugaan ilmimah terkini menyatakan bahwa tingkat kepunahan spesis pra-manusia (sebelum adanya manusia) sekitar 10 kali lebih rendah, berarti setelah adanya manusia di Bumi tingkat kepunahan sepsis saat ini dianggap 10 kali lebih buruk.

Kepunahan Spesis Lebih Buruk Setelah Adanya Manusia 


Ada sedikit keraguan dalam pemikiran ilmuwan, manusia tidak hanya menjadi saksi saat tingkat kepunahan spesis melonjak. Makalah ini juga mengikuti studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Science, yang ditulis oleh Pimm, Yope dan timnya untuk melacak dimana spesies terancam atau terbatas pada rentang kecil diseluruh dunia. Dalam kebanyakan kasus, penyebab utama kepunahan spesis disebabkan pertumbuhan populasi manusia dan konsumsi per-kapita, meskipun makalah ini juga mencatat bagaimana manusia juga ikut berperan dalam konservasi lingkungan. 

Studi Pimm menekankan bahwa tingkat kepunahan saat ini merupakan krisis yang lebih parah daripada yang dipahami sebelumnya. Menurut Pimm, selama 20 tahun terakhir tingkat kepunahan massal spesies yang terjadi sangat tinggi. Studi ini dikeluarkan berdasarkan perkiraan yang lebih baik dari tingkat normal, bagaimana spesies cepat atau lambat akan punah kalau bukan karena tindakan manusia, berarti bahwa krisis kepunahan saat ini jauh lebih buruk dibandingkan sebelum adanya peradaban manusia.

Dunkleosteus, kepunahan spesis

De Vos mengharapkan penelitian mereka akan memperkuat urgensi untuk melestarikan apa yang tersisa dan untuk mencoba mengurangi dampak yang saat ini diperburuk manusia. Menurut perhitungan ilmuwan sebelumnya pada tahun 1990-an, tingkat penyebab kepunahan normal dimulai dari 0.1 kepunahan per 1 juta spesies setiap tahun. Sebaliknya, tingkat kepunahan saat ini lebih dari 100 kepunahan per satu juta spesies setiap tahunnya, 1000 kali lebih sering terjadi.
Perkiraan ini meningkat dimana sebelumnya sebagian besar berdasarkan catatan fosil. Fosil merupakan sumber informasi penting tetapi kekurangannya pada representasi proporsional hewan laut bertubuh keras, dan hanya mengidentifikasi hewan atau genus tanaman tetapi tidak menghhitung spesies turunannya.

Studi ini menganalisa bukti dari pohon kekerabatan evolusi (filogeni) tumbuhan dan hewan. Filogeni dibangun dengan mempelajari DNA, melacak bagaimana kelompok spesies telah berubah dari waktu ke waktu, menambahkan garis keturunan genetik baru dan menghilangkan turunan yang tidak terpilih. Cara ini memberikan rincian bagaimana spesies mengalami tingkat kepunahan dari waktu ke waktu.

Jumlah spesies di bumi belum menurun dalam sejarah geologi, hal ini bisa dikatakan konstan atau meningkat. Tingkat rata-rata dimana kelompok spesis berkembang lebih tinggi daripada tingkat kelompok spesis lain yang menghilang melalui kepunahan. Keseluruhan penelitian ini dikompilasi dalam studi filogeni molekuler tentang bagaimana spesies begitu cepat mengalami diversifikasi (tingkat kepunahan).

De Vos mencatat bahwa peningkatan keanekaragaman spesies pada gilirannya mencapai puncaknya saat ini karena spesies terakhir belum punah. Seperti sebuah ledakan populasi spesies baru, cepat atau lambat juga akan mengalami kepunahan spesis. Dengan membandingkan bahwa kemunculan spesies baru dengan pola historis yang terlihat jelas dalam filogeni, tim ilmuwan mampu membuat model prediksi tingkat kepunahan spesis terdahulu dan prediksi mendatang.

Kemudian, ilmuwan mengasah model mereka dengan cara menguji data simulasi tingkat kepunahan spesis yang sebenarnya, dan model hipotesis akhir memberikan hasil yang akurat. Pengujian model hipotesis ini untuk melihat bagaimana perkembangan spesis ketika asumsi tertentu salah dan rata-rata model hipotesis kepunahan dianggap benar. Semua data melalui tiga pendekatan menghasilkan hipotesis penyebab tingkat kepunahan spesis tepat diurutan 0,1 kepunahan per satu juta spesies per tahun.

Referensi


Extinctions during human era worse than thought, 02 September 2014, by Brown University. Journal Ref: Estimating the Normal Background Rate of Species Extinction. Conservation Biology, 2014. Dunkleosteus, a placoderm from the Devonian, image courtesy of Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.