Ads Top


Mengapa Orang Tibet Mampu Bertahan Dengan Oksigen Rendah?

Bagaimana fisik manusia yang hidup di dataran tinggi Tibet mampu bertahan dengan kondisi oksigen rendah? Sebuah lingkungan dimana orang lain tengah berjuang untuk bertahan hidup, orang Tibet berkembang dengan oksigen tipis di ketinggian rata-rata 14800 kaki. 

Salah satu studi University of Utah telah menemukan penyebab adaptasi genetik, dasar pasangan DNA perubahan tunggal yang sudah terjadi sejak 8000 tahun lalu. Studi ini menjelaskan bagaimana kontribusi kemampuan orang Tibet bertahan hidup dalam kondisi oksigen rendah. Hasil analisis ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature Genetics edisi 17 Agustus 2014.

Mutasi Genetik Orang Tibet Sejak 8000 Tahun Lalu


Menurut Josef Prchal MD, seorang profesor penyakit dalam dari University of Utah, penemuan ini membantu ilmuwan memahami aspek unik tentang adaptasi manusia di dataran tinggi Tibet dan lebih memahami evolusi manusia. Awalnya, kisah ini dimulai sejak adanya diplomasi kebudayaan. Prchal pernah berwisata beberapa kali ke Asia untuk bertemu dengan para pejabat China dan perwakilan dari pengasingan Tibet di India, hal ini untuk mendapatkan izin untuk merekrut subyek penelitian. Tapi mereka menolak menyumbangkan darah  orang Tibet untuk penelitian genetik.

Orang Tibet, Ladakh

Setelah kembali ke AS, Prchal menemukan penduduk asli Tibet (Tsewang Tashi MD) baru bergabung dengan Huntsman Cancer Institute di University of Utah sebagai sesama klinis. Ketika Prchal meminta bantuannya, Tashi menyetujuinya. Tashi mengatakan, bahwa semua implikasi ini tidak hanya untuk ilmu pengetahuan secara keseluruhan, tetapi juga untuk memahami apa artinya menjadi orang Tibet. Prchal juga menerima surat yang ditunggu-tunggu didukung Dalai Lama, dua faktor yang berperan dalam melibatkan kepercayaan orang Tibet dimana mereka secara sukarela bergabung dalam penelitian ini.
DNA orang Tibet memiliki kisah menarik sekitar 8000 tahun yang lalu, gen EGLN1 diubah oleh pasangan basa DNA tunggal. Saat ini, 88 persen orang Tibet memiliki variasi genetik dan hampir tidak terkait erat dengan orang Asia dataran rendah. Adaptasi genetik cenderung menyebabkan perubahan lain pada tubuh yang belum dipahami, salah satu dari berbagai perubahan genetik yang belum teridentifikasi secara kolektif mendukung kehidupan manusia didataran tinggi.
Prchal berkolaborasi dengan para ahli seluruh dunia untuk menentukan keuntungan menjadi orang Tibet. Mereka tanpa adaptasi, oksigen rendah menyebabkan darah orang Tibet menjadi tebal dengan sel darah merah pembawa oksigen yang berfungsi sebagai pemberi makan jaringan dalam tubuh, dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang pada manusia yang hidup normal, seperti gagal jantung. Variasi genetik ini ternyata telah melindungi orang Tibet dengan mengurangi over-respon terhadap oksigen yang rendah.

Implikasi dari penelitian ini melampaui evolusi manusia, karena oksigen memainkan peran utama dalam fisiologi manusia dan penyakit. Prchal mengatakan, pemahaman ini sangat mendalam terkait bagaimana adaptasi dataran tinggi bisa mengarah pada pengobatan baru berbagai penyakit, termasuk kanker. Orang Tibet bisa beradaptasi lebih baik untuk hidup di dataran tinggi, awalnya mereka akan mengalami sedikit penyesuaian dan selanjutnya akan terbiasa.

Referensi


8,000-Year-Old Mutation Key to Human Life at High Altitudes, 17 August 2014, by University of Utah Health Sciences. Journal Ref: A genetic mechanism for Tibetan high-altitude adaptation. Nature Genetics, 2014. Monks at Hemis Gompa, Ladakh, image courtesy of Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.