Ads Top


Cuaca Ekstrim Global Terjadi Sejak Tahun 2000

Seluruh dunia saat ini sedang mengalami perubahan iklim, diantaranya cuaca ekstrim di musim panas seperti gelombang panas di Amerika Serikat yang melanda petani jagung dan mengakibatkan kebakaran hutan pada tahun 2012, bencana ini telah mencapai jumlah yang luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir. Pemanasan global buatan manusia dapat menjelaskan peningkatan secara bertahap periode panas yang parah, tetapi perubahan durasi yang diamati dari beberapa peristiwa tidak begitu mudah dijelaskan.

Bencana ini telah dikaitkan dengan mekanisme baru, ilmuwan menduga bahwa perubahan cuaca ekstrim disebabkan gelombang besar terjebak di atmosfer. Analisis data baru menunjukkan bahwa peristiwa gelombang yang terperangkap tersebut memang meningkat. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy US of Sciences (PNAS).

Gelombang Atmosfer Terjebak, Pemicu Cuaca Ekstrim


Menurut Dim Coumou, bencana cuaca ekstrim berdampak tinggi telah menyerang sebagian besar wilayah dunia. Manusia telah menciptakannya sendiri, memanaskan atmosfer dengan memancarkan CO2 dari bahan bakar fosil, namun peningkatan gelombang panas yang menghancurkan Eropa atau Amerika Serikat tampaknya tidak proporsional. Salah satu alasannya, mungkin disebabkan perubahan pola sirkulasi atmosfer. Tetapi, dengan menganalisis dataset besar berdasarkan cuaca global, para ilmuwan menemukan hubungan yang menarik.

Cuaca Ekstrim Global

Bagian penting dari gerakan udara global di pertengahan garis lintang biasanya mengambil bentuk gelombang yang bergerak diseluruh dunia, disebut Rossby Waves. Ketika gelombang Rassby bergerak ke utara, maka akan mengisap udara hangat dari daerah tropis ke Eropa, Rusia, atau Amerika Serikat. Ketika Rossby bergerak ke selatan, akan melakukan hal yang sama dengan membawa udara dingin dari Arktik. 

Tetapi ilmuwan menunjukkan bahwa dalam periode cuaca ekstrim, beberapa gelombang hampir terhenti, sementara kurangnya cuaca hangat memiliki dampak kecil, efek pada manusia dan ekosistem bisa saja parah ketika periode ini lebih panjang. Di balik ini, ada mekanisme resonansi halus yang menjebak gelombang di pertengahan garis lintang dan menguatkannya. Ilmuwan menggunakan analisis data lanjutan, studi baru menunjukkan bahwa ketika kondisi resonansi tertentu terpenuhi, suasana cenderung mengembangkan gelombang anomali yang secara perlahan merambat dengan amplitudo besar, biasanya terkait dengan cuaca ekstrim didaratan. 

Yang paling penting bahwa fenomena cuaca ekstrim lebih sering terjadi setelah tahun 2000, diperkirakan sudah hampir dua kali lebih sering seperti sebelumnya. Bukti perubahan aktual dalam aktivitas gelombang planet Bumi sejauh ini tidak jelas, tapi bisa diketahui dengan pola dan ilmuwan telah menemukan bukti kuat adanya peningkatan peristiwa resonansi ini.
Menurut ilmuwan peristiwa ini akan terus meningkat, teori dan data baru menunjukkan adanya hubungan dengan proses yang terjadi di Kutub Utara. Sejak tahun 2000, wilayah Arktik memanas sekitar dua kali lebih cepat, salah satu alasannya disebabkan es mencair cepat, sinar matahari dipantulkan kembali ke angkasa, sementara laut terbuka dan menghangatkan cuaca. Pencairan es dan salju sebenarnya karena gaya hidup manusia menggunakan gas rumah kaca dari bahan bakar fosil. 
Akibatnya wilayah Arktik menghangat lebih cepat, perbedaan suhu daerah lain menurun. Tetapi sebenarnya perbedaan suhu ini sebagai pendorong utama dari pola sirkulasi atmosfer yang pada gilirannya mempengaruhi cuaca ekstrim. Gelombang planet Bumi menggambarkan bagaimana komponen saling terkait dalam sistem Bumi, dan masih belum dipastikan sampai kapan perubahan ini terus berlangsung.

Referensi


Trapped atmospheric waves triggered more weather extremes, 11 August 2014, by Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) via EurekAlert! Journal Ref: Quasi-resonant circulation regimes and hemispheric synchronization of extreme weather in boreal summer. PNAS, August 11, 2014. Image credit: Shutterstock

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.