Ads Top

Perkebunan Kelapa Sawit Mengancam Kualitas Air Tawar


Produk turunan kelapa sawit saat ini banyak ditemukan dalam ribuan produk, mulai dari selai roti, sampo, sabun dan krim pencukur, yang membuat produk minyak sawit merupakan industri bernilai miliaran dolar. Indonesia diperkirakan memproduksi hampir setengah produksi minyak sawit dunia, memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, juga merupakan salah satu penghasil emisi gas rumah kaca karena konversi hutan menjadi lahan perkebunan.

Menurut penelitian ilmuwan dari Stanford University dan University of Minnesota, kualitas air secara signifikan terkikis dan risiko yang terkait dengan perkebunan kelapa sawit. Mereka memperingatkan ancaman terhadap air tawar sungai yang digunakan jutaan orang untuk konsumsi air minum, pangan dan mata pencaharian. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Biogeosciences berisi temuan mengejutkan tentang intensitas dan dampak perkebunan kelapa sawit.

Pembukaan hutan tropis untuk menanam pohon kelapa sawit melepaskan sejumlah besar karbon dioksida, gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim. Konversi ekosistem hutan yang beragam untuk tanaman monokultur akan merendahkan atau menghancurkan habitat satwa liar. Perkebunan kelapa sawit juga telah dikaitkan dengan kondisi berbahaya dan kasar bagi buruh.

Dampak Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Lingkungan


Pembukaan lahan dan manajemen perkebunan, termasuk pupuk dan aplikasi pestisida, serta pengolahan buah kelapa sawit untuk membuat minyak sawit mentah akan menghasilkan sedimen, nutrisi dan zat berbahaya lainnya hanyut ke sungai melalui pengairan perkebunan. Penghapusan vegetasi di sepanjang sungai menghancurkan kehidupan tanaman dimana organisme bergantung dan bertahan hidup. Lisa M Curran, seorang profesor antropologi ekologi Stanford mengatakan, meskipun sebelumnya dikatakan bahwa emisi karbon berasal dari konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan kelapa sawit mengubah ekosistem air tawar drastis selama beberapa dekade.

Perkebunan Kelapa Sawit, air tawar

Indonesia diperkirakan memproduksi hampir setengah produksi minyak sawit dunia, negara kita dianggap sebagai hutan tropis terbesar ketiga di dunia, juga merupakan salah satu penghasil emisi gas rumah kaca karena konversi yang sangat cepat pada hutan dan lahan gambut yang kaya karbon menjadi perkebunan. Dari tahun 2000 sampai tahun 2013, tanah Indonesia yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit lebih dari tiga kali lipat. Sekitar 35 persen dataran rendah terlindungi di Kalimantan kemungkinan akan dibuka untuk kepentingan budidaya kelapa sawit di tahun-tahun mendatang.
Para peneliti terfokus pada sungai kecil yang mengalir melalui perkebunan kelapa sawit, pertanian rakyat dan hutan didalam dan sekitar Taman Nasional Gunung Palung. Mereka menemukan bahwa suhu air di sungai yang baru-baru ini dibersihkan hampir mencapai 4 derajat Celcius, lebih hangat daripada sungai hutan. Konsentrasi sedimen mencapai 550 kali lebih besar, dan adanya lonjakan metabolisme dimana sungai mengkonsumsi oksigen.
Dampak dari perubahan penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit pada perikanan, wilayah pesisir, dan terumbu karang, masih belum jelas karena penelitian ini yang pertama kali dalam hal memeriksa efek perkebunan kelapa sawit pada ekosistem air tawar. Sementara komunitas lokal sangat prihatin dengan sumber air tawar mereka, namun dampak jangka panjang dari perkebunan kelapa sawit di sungai air tawar sepenuhnya telah diabaikan sampai sekarang. 

Carlson mengatakan, penelitian ini menunjukkan bahwa konversi penebangan hutan dan pembukaan lahan pertanian bagi petani kecil untuk perkebunan kelapa sawit mungkin hampir sama bahayanya dengan membuka hutan yang utuh. Konversi lahan yang luas untuk perkebunan kelapa sawit dapat menyebabkan runtuhnya ekosistem air tawar dan kesulitan sosial serta ekonomi yang signifikan di suatu daerah.

Ilmuwan mengharapkan, penelitian ini akan menyoroti isu-isu dampak perkebunan kelapa sawit dan membawa suara keprihatinan masyarakat pedesaan yang secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Menurut Carlson dan Curran, solusi manajemen potensial termasuk mempertahankan tutupan vegetasi alami disamping sungai dan merancang perkebunan kelapa sawit lebih teratur, sehingga jaringan jalan yang padat tidak bersinggungan langsung dengan saluran air. 

Referensi


Oil palm plantations threaten water quality, Stanford scientists say, 30 June 2014, by Stanford University. Journal Ref: Influence of watershed-climate interactions on stream temperature, sediment yield, and metabolism along a land use intensity gradient in Indonesian Borneo. Journal of Geophysical Research: Biogeosciences, 2014.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.