Ads Top


Asal Usul Planet Merkurius Dari Tabrakan Benda Raksasa

Asal usul planet Merkurius telah menjadi pertanyaan yang sulit dalam ilmu planet karena komposisinya sangat berbeda dari bulan dan planet terestrial lainnya. Ukurannya kecil, planet paling dalam disistem surya ini memiliki lebih dari dua kali fraksi logam besi daripada planet terestrial lainnya. Inti besi naik sekitar 65 persen dari total massa Merkurius, sedangkan inti bumi dengan perbandingan 32 persen dari massa planetnya.

Planet Merkurius yang diduga kaya logam telah menciptakan teka teki kelahirannya. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience edisi 06 July 2014, Merkurius dan benda-benda logam didalamnya luar biasa kaya daripada benda lainnya di tata surya, mungkin peninggalan ini disebakan tabrakan di awal penciptaan tata surya yang membangun beberapa planet.

Pemodelan Komputer Terbentuknya Planet Merkurius 


Ada beberapa hipotesis gagal memprediksi bagaimana pembentukan Merkurius, tak satu pun teori mereka sampai sekarang mampu menjelaskan bagaimana planet Merkurius kehilangan mantel sementara tetap mempertahankan tingkat signifikan Volatil, yaitu unsur yang mudah menguap seperti air, timbal dan sulfur. Planet Merkurius memiliki substansial lebih volatil dibandingkan dengan bulan, ilmuwan terkemuka berpikir pembentukan Merkurius tidak ada hubungannya dengan dampak raksasa yang telah memecahkan mantel.

Tabrakan Merkurius

Dalam menjelaskan misteri komposisi kaya metal di planet Merkurius, ilmuwan dari University of Bern telah mengembangkan hipotesis baru yang melibatkan tabrakan, di mana Proto-Merkurius kehilangan setengah mantel ketika bertabrakan dengan benda lain yang ukurannya lebih besar dari proto-Venus atau proto-Bumi. Satu tabrakan atau lebih bisa berpotensi mengeluarkan isi mantel Proto-Mercury, meninggalkan sebagian besar logam besi untuk pembentukan planet, termasuk retensi volatil yang juga dapat menjelaskan adanya tabrakan terlihat dibeberapa meteorit mantel yang terlempar.
Asphaug dan Reufer telah mengembangkan skenario statistik bagaimana planet bergabung dan berkembang berdasarkan pengertian umum, bahwa Mars dan Merkurius merupakan dua peninggalan terakhir dari 20 populasi planet yang sebagian besar bertabrakan, diantaranya tabrakan Theia menambah ukuran Bumi. Sementara planet Mars diperkirakan tidak pernah bertabrakan dengan planet atau benda angkasa lain sejak pembentukannya. Dan Merkurius menghantam planet yang lebih besar dua atau tiga kali berturut-turut. 
Pemodel dinamis umumnya telah menolak gagasan bahwa tabrakan menjadi hal penting karena mereka akan menambah ukuran planet menjadi lebih besar. Argumen ini sangat tidak mungkin bisa menjelaskan bukti tabrakan bisa mempertahankan keberadaan planet Merkurius di sistem surya. Menurut Reufer, tabrakan raksasa menempatkan sentuhan akhir pada planet Merkurius. Implikasi dari skenario dinamis menjelaskan, pada akhirnya  Merkurius kehilangan mantel dimana tabrakan menyapu lapisan diatasnya. 

Pemodelan telah mengungkapkan masalah mendasar dengan ide implisit untuk menjelaskan teori modern tentang asal usul planet Merkurius. Proto-planet berkembang secara efisien dan semakin besar, penggabungan materi terjadi setiap kali bertabrakan dengan benda lain. Simulasi ini sangat relevan untuk menjelaskan dampak meteorit, seperti mantel Merkurius yang hilang dan terlontar keluar angkasa. 

Referensi


Planet Mercury a result of early hit-and-run collisions, 06 July 2014, by Arizona State University. Journal Ref: Mercury and other iron-rich planetary bodies as relics of inefficient accretion. Nature Geoscience, 2014. Artist's concept of collision at HD 172555, image courtesy of NASA/JPL.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.