Ads Top


Lempeng Tektonik Benua Bergerak Cepat Sejak Superbenua Rodinia Pecah

Studi terakhir menunjukkan tingkat pergerakan lempeng tektonik benua mungkin tidak konstan dari waktu ke waktu, khususnya pergerakan lempeng benua. Temuan ini bisa memberi penjelasan baru pada pola yang diamati dengan kecepatan evolusi dan berimplikasi pada penafsiran model iklim. 

Lempeng tektonik atau kerak benua dianggap sebagai arsip sejarah bumi yang berisi informasi mengenai formasi batuan, atmosfer dan catatan fosil kuno. Tetapi tidak jelas kapan dan bagaimana pola pergerakan lempeng benua pertama yang terbentuk sejak 4,5 miliar tahun lalu.. Studi ini lempeng tektonik benua diperkenalkan dalam konferensi geokimia Goldschmidt 2014 yang berlangsung pada 13 Juni 2014 di Sacramento, California, Amerika Serikat.

Perubahan Gerakan Lempeng Tektonik Benua


Studi ini juga didukung oleh Profesor Kent Condie dari New Mexico Tech, Amerika Serikat. Dia menunjukkan bukti tingkat pergerakan lempeng tektonik benua tidak konstan tetapi dapat dipercepat dari waktu ke waktu. Profesor Condie meneliti bagaimana superbenua terbentuk dan terputus. Sementara studi lain berpendapat, interpretasi data dari berbagai analisa geokimia isotop, paleontologi dan paleoklimatologi, sebagian besar bergantung pada asumsi bahwa tingkat pergerakan kerak atau lempeng tektonik benua adalah konstan.

Superbenua Rodinia (Rusia, yang berarti Ibu Pertiwi) adalah hipotesis benua yang berisi sebagian besar atau seluruh daratan bumi. Menurut rekonstruksi lempeng tektonik Rodinia terbentuk antara 1,1 hingga 750 juta tahun yang lalu pada Era Neoproterozoic. Model ini merupakan salah satu dari dua model konfigurasi dan sejarah kerak benua periode Prakambrium Akhir, yang lainnya termasuk Paleopangea. Superbenua Rodinia juga telah dianggap sebagai salah satu dari dua superbenua besar dalam sejarah bumi.

lempeng tektonik Superbenua Rodinia, lempeng tektonik benua

Hipotesis superbenua Rodinia menyatakan bahwa benua ini telah terputus sejak periode Neoproterozoic, fragmen benua berkumpul kembali untuk membentuk Pannotia sekitar 600-550 miliar tahun yang lalu. Berbeda dengan Pannotia, fragmen ini sangat sedikit diketahui dan bagaimana konfigurasi yang tepat dalam sejarah geodinamika. Bukti paleomagnetik diperkuat dengan beberapa petunjuk potongan fosil purba dari kerak bumi.

Menurut Profesor Condie, hasil penelitian ini mungkin perlu dikaji ulang, ilmuwan saat ini sangat membutuhkan data lebih lanjut tentang periode waktu kritis untuk memahami lebih lanjut tentang kendala yang terjadi pada kecepatan pergerakan lempeng tektonik dan frekuensi tabrakan antara blok benua. 

Profesor Peter Cawood, salah satu pemimpin tim penelitian ini dari University of St Andrews, Inggris, telah meneliti beberapa langkah pergerakan benua dan proses geologi dari beberapa penelitian sebelumnya. Dalam studi ini ilmuwan menemukan bahwa sejak 1,7 hingga 0,75 miliar tahun lalu. Masa-masa ini disebut Periode Pertengahan Bumi (Middle Age), dimana Bumi dianggap sangat stabil dari segi lingkungan. Aktivitas lempeng tektonik benua terjadi lebih sedikit, tidak ada fluktuasi besar pada komposisi atmosfer begitu pula yang terjadi dibeberapa perkembangan fosil kuno. 

Analisis ini sangat kontras dengan apa yang telah terjadi dikedua periode waktu, yaitu priode zaman es besar dan peridoe perubahan kadar oksigen. Periode pertengahan Bumi bertepatan dengan pembentukan superbenua Rodinia, tampaknya telah stabil sepanjang periode waktu itu. Menurut Profesor Cawood, stabilitas lempeng tektonik benua mungkin disebabkan pendinginan bertahap pada kerak bumi dari waktu ke waktu. 
Sebelum 1,7 miliar tahun yang lalu, kerak bumi dianggap substansial lebih panas, artinya pergerakan lempeng benua mungkin telah diatur oleh pola yang berbeda. Dan ketika memasuki 0,75 miliar tahun lalu, kerak Bumi mencapai titik pendinginan yang cukup untuk membentuk lempeng tektonik modern (sampai saat ini) khususnya memungkinkan zona subduksi untuk membentuk lempeng bergerak satu sama lain. 
Peningkatan aktivitas lempeng tektonik benua merupakan awal perubahan termasuk pecahnya lempeng Rodinia dan perubahan tingkat elemen utama pada atmosfer dan laut. Situasi ini mungkin telah mendorong perubahan evolusi pada bentuk lempeng saat ini.

Referensi


Studies show movements of continents speeding up after slow 'middle age', 13 Juni 2014, by European Association of Geochemistry via EurekAlert!.  A proposed reconstruction of the supercontinent Rodinia for 1.1 billion years ago, image courtesy of Wikimedia Commons.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.