Ads Top

Benarkah Alam Semesta Tidak Berkembang Setelah Big Bang?


Berdasarkan pengukuran tingkat kecerahan pada ratusan galaksi, bahwa alam semesta tidak berkembang sama sekali. Penelitian ini dikerjakan tim astrofisikawan yang dipimpin Eric Lerner dari Lawrenceville Plasma Physics. Studi ini menguji salah satu prediksi yang dijelaskan dalam teori Big Bang, bahwa geometri biasa tidak bekerja pada jarak yang jauh.

Objek alam semesta termasuk galaksi, sistem tata surya, akan terlihat redup dan lebih kecil dimana kecerahan permukaan masing-masing objek diukur per-satuan luas dan tetap konstan. Sebaliknya, teori Big Bang menjelaskan bahwa dalam memperluas alam semesta seharusnya tampak redup tapi lebih besar. Dengan kata lain, kecerahan permukaan menurun berdasarkan jarak. Selain itu, cahaya ditarik sebagai bentuk perluasan alam semesta, melanjutkan peredupan cahaya. Studi ini diterbitkan dalam International Journal of Modern Physics D edisi May 2014.

Uji Teori Bing Bang, Alam Semesta Tidak Berkembang

Jika alam semesta memperluas galaksi, seharusnya galaksi paling jauh memiliki tingkat kecerahan ratusan kali lebih redup dipermukaan objek dibanding galaksi terdekat. Tentunya hal ini membuat galaksi dan bintang tidak terdeteksi dengan teleskop, tapi hal itu tidak tidak terjadi dalam pengamatan sampai saat ini.
Tim ilmuwan membandingkan ukuran dan kecerahan ribuan galaksi yang berjarak dekat dan sangat jauh. Mereka memilih galaksi spiral yang paling bercahaya sebagai bahan perbandingan, sesuai dengan sampel luminositas rata-rata yang berjarak dekat dan jauh. Apa yang mereka temukan, bertentangan dengan prediksi teori Big Bang, dimana mereka menemukan bahwa tingkat kecerahan permukaan galaksi dekat dan jauh sangat identik.

Gugus bintang NGC 1850

Temuan ini konsisten dengan geometri biasa yang diharapkan, jika alam semesta tidak berkembang dan bertentangan dengan peredupan kecerahan pada permukaan yang diprediksi. Menurut Lerner, hipotesis sebelumnya tentang galaksi jauh lebih kecil dan memiliki kecerahan permukaan intrinsik ratusan kali lebih besar dimasa lalu. Peredupan Big Bang membatalkan kecerahan yang lebih besar disemua jarak untuk menghasilkan ilusi dari kecerahan konstan.

Penerapan uji kecerahan permukaan pertama kali diusulkan oleh fisikawan Richard C Tolman  pada tahun 1930. Berdasarkan hipotesis ini, tim ilmuwan harus menentukan luminositas sebenarnya dari galaksi sehingga akan ditemukan kesesuaian antara galaksi dekat dan galaksi terjauh. Ilmuwan harus menghubungkan jarak ke galaksi dengan pergeseran cahaya merah. Mereka berhipotesis bahwa jarak sebanding dengan pergeseran cahaya merah disemua jarak seperti yang diverifikasi, hal ini juga berlaku pada kasus galaksi terdekat.

Hubungan antara jarak pergeseran cahaya merah dan data kecerahan supernova digunakan untuk mengukur hipotesis ekspansi yang dipercepat alam semesta. Rumus sederhana ini sebagai prediksi teori perkembangan alam semesta yang meliputi koreksi kompleks dalam hipotesis materi gelap dan energi gelap.

Jika alam semesta tidak berkembang, pergeseran cahaya merah dengan jarak terjauh seharusnya disebabkan oleh beberapa fenomena lain, sesuatu yang terjadi pada cahaya itu sendiri karena perjalanan melalui ruang angkasa. Tetapi Lerner tidak berspekulasi tentang penyebab pergeseran cehaya merah, pergeseran cahaya merah tidak terkait dengan ekspansi alam semesta, hal ini bisa diamati dengan pesawat dan teleskop ruang angkasa.

Referensi


UV surface brightness of galaxies from the local Universe to z ~ 5, Eric J Lerner,  International Journal of Modern Physics D, published online 01 May 2014 via Cornell University Library. Double Cluster NGC 1850: Second Brightest Star Cluster in the Large Magellanic Cloud, image courtesy of Hubblesite Galery.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.