Ads Top


Benarkah Asal Usul Kehidupan Di Bumi Berasal Dari Dasar Laut?

Banyak ilmuwan terus menggali darimana asal usul kehidupan di Bumi, dan beberapa teori berpendapat asal mula kehidupan di Bumi dimulai sekitar 3,8 miliar tahun yang lalu. Tetapi semua teori yang pernah tercetus masih dalam perdebatan, khususnya dalam memecahkan bagaimana awal kehidupan dimulai.

Salah satu kemungkinan terbesar disebabkan reaksi metabolisme sederhana yang muncul didekat dasar laut kuno yang bersuhu hangat. Lingkungan ini dianggap sebagai lompatan materi non-hidup menjadi makhluk hidup dan terus berkembang selama miliaran tahun. Hal ini berdasarkan penelitian tim ilmuwan asal Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), penelitian pertama yang menguji asumsi dasar hipotesis keberadaan metabolisme pertama didunia, sehingga bisa menjadi titik fokus untuk membuktikan asal usul kehidupan di planet lain.

Ilmuwan Buktikan: Asal Usul Kehidupan Di Bumi Berasal Dari Dasar Laut


Ada teori lain yang menyebutkan bahwa asal usul kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa, diantaranya hipotesis jatuhnya komet atau meteor ke Bumi mungkin telah membawa kehidupan mikroba. Dari sini juga sering terdengar asal usul materi genetik pertama atau dikenal sebagai hipotesis RNA. Tapi, bagaimana jika kehidupan disekitar kita berasal dari lingkungan di Bumi sendiri?

Dalam sejarah penelitian, ditahun 1977 para ilmuwan menemukan komunitas biologis tak terduga yang berada di sekitar lubang hidrotermal dasar laut. Sebuah tempat yang jauh dari sinar matahari dan berkembang dalam lingkungan kimia kaya hidrogen, karbon dioksida, dan belerang, yang dimuntahkan dari Geyser. Di sinilah asal usul seluruh kehidupan di Bumi dari lingkungan hidrotermal dilengkapi materi yang dibutuhkan untuk kehidupan mikroba pertama.
Senyawa karbon mengandung sulfur sederhana yang disebut Methanethiol, prekusor biologi enzim Acetyl juga terdapat dalam tubuh manusia. Ilmuwan menduga bahwa Methanethiol bisa menjadi 'zat awal' yang membentuk kehidupan metobolisme hingga makhluk berbentuk fisik.
Karbon dioksida, hidrogen, sulfida dan bahan umum dalam cairan hidrotermal biasanya berupa asap hitam. Ilmuwan berpendapat, menciptakan methanethiol dari materi di lubang hidrotermal dasar laut seharusnya merupakan proses yang mudah. Untuk menganalisis hipotesis ini, ilmuwan langsung menguji sebuah lubang hidrotermal dimana lingkungan itu diperkirakan kaya methanethiol. Sampel cairan hidrotermal diambil dari 38 lingkungan berbeda termasuk Mid-Atlantic Ridge, Guaymas Basin, East Pacific Rise, Mid-Cayman Rise, selama tahun 2008 dan 2012.

Kehidupan Bumi Dasar Laut, hidrotermal, Methanethiol

Tetapi anehnya, dalam lingkungan rendah hidrogen mereka menemukan methanethiol lebih banyak daripada dugaan sebelumnya, sangat bertentangan dengan teori yang seharusnya menciptakan methanethiol. Hal ini menandakan bahwa 'metabolisme pertama' telah bereaksi pada sistem hidrotermal awal yang kaya hidrogen melalui kimia karbon, kemungkinan belerang sangat sulit ditemukan miliaran tahun lalu.

Methanethiol terbentuk dalam cairan suhu rendah dibawah sekitar 200 derajat Celcius, dimana cairan hitam panas bercampur dengan air laut dingin dibawah dasar laut. Munculnya zat lain dalam cairan hitam tersebut diantaranya amonia, zat ini ternyata memanaskan bahan organik mikroba yang tersedia. Suhu bawah laut pada waktu itu terlalu panas sehingga menyebabkan produksi methanethiol dalam jumlah sangat besar.

Menurut Reeves, mereka sangat setuju bahwa lingkungan hodrotermal masih dianggap sebagai tempat yang sangat menguntungkan bagi kehidupan spesis baru ataupun sangat sempurna mendukung kehidupan awal di Bumi. Jutaan tahun lalu berbagai spesis lautan dimusnahkan dalam kepunahan massal terbesar dunia, tetapi bukan tidak mungkin akan ada spesis baru muncul dari bawah laut karena methanethiol terus berproduksi sampai saat ini.

Referensi


Study Tests Theory that Life Originated at Deep Sea Vents, 09 April 2014, by Woods Hole Oceanographic Institution. Joournal Ref: The origin of methanethiol in midocean ridge hydrothermal fluids. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2014.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.