Ads Top

Peradaban Dunia Diambang Kehancuran, Benar Atau Hoax?


Keadaan yang terlihat saat ini mendorong kehancuran peradaban dunia dalam hitungan dekade, hal ini disebabkan meningkatnya ketidakstabilan dan tekanan pada sumber daya yang ada di Bumi. Para ilmuwan terus berusaha mencari jalan keluar dan memprediksi masa depan peradaban dunia, salah satunya menggunakan model teoritis untuk memprediksi yang akan terjadi pada dunia industri di abad berikutnya. Teori ini berdasarkan perhitungan matematika, perkiraan konservatif mungkin akan sangat buruk dan sangat cepat. 

Seperti yang dilansir Guardian, ilmuwan alam dan sosial bekerjasama dengan NASA Goddard Space Flight Center untuk memecahkan prediksi kehancuran peradaban dunia dimasa mendatang, dan hasil penelitian dipublikasi pada jurnal Ecological Economics. Tapi sayangnya, dalam pencarian jurnal tersebut tidak muncul nama Safa Motesharri berikut hasil risetnya. Benarkah penelitian ini ada, atau Hoax?

Meragukan: NASA Ungkap Kehancuran Peradaban Dunia Di Depan Mata


Ini bukan pertama kalinya para ilmuwan memperingatkan bencana global yang berpotensi menghancurkan peradaban dunia. Ada beberapa prediksi global yang disebabkan perpecahan didalam masyarakat, kelaparan dan dunia tanpa hukum mungkin akan segera terjadi. 

Beberapa ancaman yang pernah diprediksi ilmuwan pada tahun lalu diantaranya adalah serangan cyber pada jaringan listrik, biterorisme, kekurangan pangan, pandemi, bencana iklim, dan yang paling menarik dari perkembangan teknologi komputer adalah fitnah. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa komputer semakin cerdas dan kemungkinan permusuhan akan lebih mudah ditabur dari teknologi komputer.

Peradaban Dunia, Romawi

Dari sejarah yang telah terjadi bisa terlihat bagaimana kehancuran peradaban canggih di Romawi, Han , Kota Harappa, dan Kerajaan Gupta. Sejarah mencatat bahwa masyarakat elit mendorong bisnis berkembang sehingga pendekatan itu mendatangkan peringatan bencana yang sebenarnya sudah bisa diduga.

Berdasarkan model Manusia dan Alam Dinamis (Handy), matematikawan Safa Motesharri menyatakan bahwa proses kejayaan dan kehancuran sebenarnya merupakan siklus berulang yang ditemukan disepanjang sejarah dunia. Motesharri mengeksplorasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan kehancuran peradaban dunia, mulai dari analisis pertumbuhan penduduk terhadap perubahan iklim dan menemukan penyebab perpecahan didalam masyarakat. 

Perpecahan yang akan terjadi di masyarakat disebabkan peregangan sumber daya dan strata ekonomi menjadi terpecah, elit dan masa biasa. Model yang digunakan sangat mirip dengan keadaan dunia saat ini, peradaban dunia tampaknya berada di jalur berkelanjutan dalam waktu yang cukup lama. Bahkan menggunakan tingkat deplesi optimal, semua ini telah dimulai oleh kaum elit yang berjumlah sangat kecil.
Kaum elit akhirnya mengkonsumsi sumber daya terlalu banyak yang mengakibatkan kelaparan diantara masyarakat, pada akhirnya menyebabkan runtuhnya peradaban dunia.
Menurut Motesharri, skenario terburuk kasus kehancuran peradaban tidak bisa dihindari dan menyerukan tindakan seharusnya sudah dimulai. Semua ini bertujuan agar kaum Elit Dunia segera mengembalikan keseimbangan ekonomi. Populasi harus mencapai keseimbangan dan tingkat deplesi alam berkurang, sementara sumber daya didistribusikan secara adil dan merata.

Berita yang beredar dibeberapa situs besar seperti Huffington Post, Guardian, Independence, semuanya menyajikan cerita yang hampir sama tetapi tidak menyertakan link dan judul makalah. Berita ini justru membesar, dan sejauh ini banyak ilmuwan yang juga menerbitkan makalah palsu dan meragukan untuk mempopulerkan penelitian mereka.

Image courtesy Forum Romanum via Wikimedia Commons

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.