Ads Top

Sosialisasi Manusia Gunakan Api Sejak 300,000 Tahun Lalu


Sejak kapan manusia menggunakan api sebagai pemanas, sosialisasi sekaligus perapian tempat tinggal mereka? Menurut studi terbaru kali ini disebutkan bahwa manusia sebenarnya mulai mengendalikan fungsi api untuk kebutuhan sehari-hari dan sosialisasi sejak 300,000 tahun lalu.

Studi ini berdasarkan temuan situs arkeologi Qesem Cave dekat Rosh Ha'ayin, dimana bukti mengisyaratkan pembakaran berulang-ulang selama periode berkelanjutan. Pada saat itu diyakini manusia prasejarah sudah memiliki struktur sosial yang sangat canggih dan kapasitas intelektual sudah mulai dikembangkan.

Manusia Gunakan Api Untuk Sosialisasi


Hipotesis terdahulu yang diungkapkan ilmuwan University of Toronto dan Hebrew University menduga bahwa manusia pertama kali menemukan api sekitar satu juta tahun yang lalu. Tetapi pendapat ini belum cukup menjawab teka teki 'kapan pertama kali manusia menggunakan api untuk kebutuhan sehari-hari dan sosialisasi?' Jika arkeolog mampu menjawab, maka kemungkinan besar kemunculan pertama budaya manusia akan terselesaikan. Banyak ilmuwan sampai saat ini masih memperdebatkan penggunaan api, tapi tidak cukup bukti untuk dikenalkan dalam ilmu pengetahuan.

Salah satu tim ilmuwan asal Israel baru-baru ini menemukan bukti di gua Qesem, sebuah situs arkeologi dekat dengan Rosh Ha'ayin. Bukti ini menggambarkan sejarah awal penggunaan api pertama kali untuk kebutuhan sehari-hari dan sosialisasi dimulai sejak 300,000 tahun lalu. Penggalian situs gua Qesem sudah berlangsung sejak tahun 2000, penelitian ini dipimpin oleh profesor Avi Gopher dan Ran Barkai dari Tel Aviv University, Dr Ruth Shahack dari Kimmel Center for Archeological Science.

manusia gunakan api, gua Qesem

Selama bertahun-tahun arkeolog berusaha mengumpulkan sampel untuk dianalisis dan mengidentifikasi bahan arkeologi, termasuk abu kayu yang berada di tengah gua Qesem. Dengan bantuan spektroskopi inframerah, mereka mampu menentukan bahan yang dicampur dengan abu merupakan potongan tulang dan tanah yang telah dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi. Tim ilmuwan menguji abu morfologi dengan meng-ekstrasi sepotong sedimen yang diambil dari perapian lalu di iris menjadi sangat tipis. Irisan ini ditempatkan dibawah mikroskop guna mengamati komposisi yang tepat dari bahan deposit dan mengungkapkan bagaimana bahan terbentuk.

Metode ini mempu membedakan banyak mikro strata abu, bukti ini digunaan berulang-ulang sepanjang periode. Dari sini jelas menunjukkan bahwa pada waktu itu manusia menggunakan api besar untuk kebutuhan sehari-hari dan sosialisasi sejak 300,000 tahun lalu. Temuan tersebut kini dipublikasikan dalam jurnal Archeological Science.

Kemudian, disekitar kawasan perapian (termasuk di dalam gua Qesem) arkeolog menemukan peralatan batu yang digunakan untuk memotong daging. Peralatan batu tersebut ditemukan hanya beberapa meter dari perapian dan memiliki bentuk berbeda-beda yang kemungkinan dirancang untuk kegiatan lain. Di dalam dan sekitar luar gua Qesem ditemukan tulang hewan yang dibakar, sehingga menggambarkan manusia telah menggunakan api untuk memanggang hewan buruan mereka.

Menurut Shahack, ragam kegiatan rumah tangga telah menjadi bagian berbeda dari kehidupan di gua hingga sosial yang khas terlihat pada manusia modern, jadi gua terlihat seperti Base Camp. 
Temuan ini dianggap arkeolog berguna untuk memperbaiki titik balik dalam perkembangan budaya manusia, terlihat jelas kapan manusia gunakan api pertama kali untuk sosialisasi dan memasak daging dalam bentuk api unggun, sekaligus menjadi tempat pertemuan antar manusia.
Perkembangan sosial dan kognitif manusia sudah dimulai sejak 300,000 tahun lalu, ini merupakan tanda-tanda perubahan subtansial dalam perilaku manusia dan biologi. Hal ini menandai adanya perubahan tampilan wilayah dan budaya baru dari manusia sebelumnya 400 ribu tahun lalu.

Referensi


300,000-Year-Old Hearth Found, 27 January 2014, by Weizmann Institute of Science. Journaol: Evidence for the repeated use of a central hearth at Middle Pleistocene (300 ky ago) Qesem Cave, Israel. Journal of Archaeological Science, 2014.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.