Ads Top

Fosil Tiktaalik Roseae Ungkap Evolusi Kaki Belakang Ampfibi


Temuan fosil Tiktaalik Roseae berupa pelvis dan sirip perut parsial telah mengungkap misteri evolusi kaki belakang amfibi yang berasal dari bagian sirip belakang. Tiktaalik Roseae merupakan spesis transisi antara ikan dan hewan berkaki pertama yang pernah hidup 375 tahun lalu. Fosil ini telah dijelaskan para ilmuwan dalam jurnal yang dirilis PNAS pada 13 Januari 2014.

Teori sebelumnya menegaskan bahwa pergeseran hewan berkaki (khususnya buaya) disebabkan terjadinya perubahan pada sirip bagian depan pada ikan yang memiliki empat sirip atau lebih, terlebih pada evolusi Tetrapoda. Menurut Neil Shubin PhD dan Robert R Bensley, salah satu profesor anatomi University of Chicago, perubahan sirip belakang menjadi kaki mulai terjadi pada spesis ikan, bukan pada spesis yang memiliki anggota tubuh lengkap (amfibi yang berevolusi). 

Temuan Fosil Belakang Tiktaalik Roseae


Tiktaalik merupakan salah satu spesis transisi paling dikenal antara ikan dan tetrapoda darat, atau saat ini lebih dikenal sebagai nenek moyang buaya. Fosil bagian depan pertama kali ditemukan pada tahun 2004 oleh Shubin dan selama bertahun-tahun para ilmuwan berusaha meneliti lebih lanjut untuk mengungkap fakta sebenarnya tentang evolusi dan perkembangan kehidupan amfibi. Tiktaalik lebih mirip seperti persilangan antara ikan dan buaya, panjang tubuh diperkirakan mencapai 9 kaki dan hidup di lingkungan air tawar dangkal.

Tiktaalik Roseae, evolusi kaki belakang amfibi

Tiga kerangka fosil Tiktaalik ditemukan dalam batuan sungai Ellesmere Island Kanada yang terbentuk di periode akhir Denovian. Hewan ini memiliki paru-paru primitif serta insang, hal ini dianggap sangat berguna di perairan dangkal dimana suhu air yang lebih tinggi akan menurunkan kadar oksigen. Tulang rusuk yang kuat membuat Tiktaalik mampu berkelana di luar habitat, bentuk leher memberikan kebebasan dalam berburu mangsa baik di darat maupun di air dangkal.
Spesis Tiktaalik Roseae memiliki lobus bersirip ikan dengan bentuk kepala datar dan bergigi tajam. Ciri-ciri umumnya bersisik, memiliki insang dan sirip, juga memiliki fitur tetrapoda seperti kesamaan leher dan tulang rusuk serta paru-paru primitif. Tetapi secara khusus spesis yang besar memiliki bahu, siku dan pergelangan tangan parsial yang memungkinkan dan mendukung berjalan di tanah.
Analisa terdahulu mungkin hanya menjelaskan spesimen bagian depan Tiktaalik Roseae. Tetapi analisa itu telah berubah karena adanya penemuan fosil terbaru disalah satu situs bagian utara Kanada. Fosil baru dinosaurus ini mengungkap bagian belakang berisi pelvis serta sirip perut parsial, selain itu spesimen bagian panggul masih lengkap sehingga fosil Tiktaalik Roseae menjadi lengkap karena penggabungan bagian depan dan belakang.

Ukuran bahu Tiktaalik Roseae hampir mirip dengan tetrapoda awal, dimana spesis memiliki soket pada sendi pinggul yang menonjol dan terhubung ke tulang paha. Garis-garis otot menjelaskan adanya kekuatan dan fungsi sirip digunakan untuk maju, tetapi tidak ada ditemukan tulang femur. Garis pinggul sangat berbeda dengan data terdahulu yang di peroleh dari keturunan vertebrata berkaki. Tiktaalik Roseae dianggap sebagai spesis kombinasi dari fitur primitif dan maju, hewan ini menggunakan sirip dengan cara lebih sugestif.

Tiktaalik Roseae masih merupakan spesis ikan, sirip bagian belakang tidak hanya digunakan untuk berenang atau mendayung, tetapi juga untuk berjalan di lingkungan darat. Persamaannya bisa dilihat seperti hewan Lungfish Afrika yang saat ini memiliki pelvis besar, mereka hidup dan berjalan di dasar air.

Referensi


Discovery of new Tiktaalik roseae fossils reveals key link in evolution of hind limbs, publish 13 January 2014 by University of Chicago Medical Center. Journal: Pelvic girdle and fin of Tiktaalik roseae, via PNAS. Image: Tiktaalik Roseae, credit: University of Chicago, Neil Shubin

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.