Ads Top


Bahan Kimia Terbarukan, Solusi Baru Tingkatkan Biofuel

Biofuel masa depan mungkin akan terus disempurnakan, baru-baru ini ilmuwan menemukan kimia terbarukan yang diperoleh dari bahan tanaman. Peneliti dari University of Wiconsin berhasil mengembangkan suatu proses untuk menciptakan aliran gula matang terkonsentrasi yang akan digunakan untuk biofuel.

Energi kimia terbarukan itu ternyata berasal dari platform gula, rencana berkelanjutan akan menjadi sumber energi terbarukan di masa mendatang. Mungkin sebagian besar konsumen bahan bakar akan mengalami kesulitan dalam menjalani masa konversi, tentunya akan ada biaya tambahan atau mungkin peralatan usang tidak akan mampu menggunakan energi terbarukan. Setidaknya produk-produk mesin mendatang juga ikut menyarankan bahan bakar Biofuel seperti etanol selulosa.

Valerolactone Gamma (GVL), Bahan Kimia Terbarukan Biofuel


Beberapa tahun terakhir beberapa negera telah mengkonversi lahan pertanian untuk digunakan sebagai sumber bahan baku biofuel. Diantaranya Jerman yang telah mengeluarkan kriteria untuk memperketat pengembangan, penggunaan tanah dan produksi bahan baku organik. Kriteri Uni Eropa menyebutkan penggunaan biomassa menyepakati 25 kriteria ekologis, sehingga hutan tropis, rawa dan sabana tidak boleh diambil alih fungsinya untuk dijadikan lahan pertanian. 

Penetepan ini disebabkan semakin banyak produsen yang menebang hutan guna untuk meningkatkan produk biofuel karena tingginya permintaan. Salah satunya pengembangan lahan kelapa sawit dan perkebunan tebu tetapi juga merusak merusak kualitas tanah dan merugikan lingkungan manusia. Diharapkan dengan pengembangan kimia terbarukan mampu meningkatkan produksi biofuel tanpa harus memperluas lahan pertanian, terlebih mempercepat pertumbuhan tanaman dengan merusak kualitas tanah.

Pengembangan teknologi kimia terbarukan untuk mengembangkan biofuel didanai oleh National Science Foundation dan Departemen Energi AS (Great Lakes Bioenergi Research Center). Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Science pada 17 januari 2014 yang menjelaskan bagaimana mereka mengembangkan Valerolactone Gamma (GVL) untuk mendekonstruksi tanaman dan menghasilkan kimia gula yang secara biologis dapat ditingkatkan menjadi biofuel. Rencananya pada akhir tahun ini kimia terbarukan siap dikembangkan untuk biofuel.

Kimia Terbarukan Biofuel

Oleh karena GCL terbuat dari bahan tanaman, khususnya sumber terbarukan dan lebih terjangkau daripada metode konversi yang membutuhkan bahan kimia mahal, atau sering menggunaan enzim. Mendaur ulang GVL sangat mudah hanya dengan pemisahan energi rendah, larutan gula dihasilkan dari mikroorganisme sehingga bahan kimia sampingan tidak menghambat ragi dan tidak membuatnya beracun.
Proses penggunaan kimia terbarukan mampu mengubah bahan awal 85 hingga 95 persen yang dapat diberikan pada ragi sebagai zat pembantu proses fermentasi entanol. 
Tim peneliti menggunakan bahan aditif karbon dioksida cair untuk membuat solusi pemisahan, hal ini terlihat seperti minyak dan cuka. Kimia terbarukan ini dianggap aman dan tidak beracun sehingga aditif bisa dipisahkan dengan cara sederhana, kemudian GVL bisa digunakan kembali. Dari segi ekonomi, proses ini menunjukkan teknologi kedepan bisa menghasilkan etanol dengan penghematan biaya sekitar 10 persen dibandingkan metode pengembangan biofuel saat ini.

Menurut James Dumesic dan Michel Boudart, mereka telah meneliti penggunaan GVL sebagai pelarut dalam konversi biomassa bahan kimia terbarukan (furan) selama beberapa tahun terakhir. Studi ini memberikan kondtribusi baru untuk landskap biofuel yang menghasilkan empat aplikasi paten dan memperoleh pengakuan atas potensi komersial GVL dari Program Accelerator WRF. Program uji ini juga membantu lisensi teknologi tinggi potensial lebih cepat dengan mengatasi rintangan tertentu dengan menargetkan dana dan saran ahli dari mentor bisnis berpengalam dibidang terkait.

Pengujian ini akan berlangsung, Program Accelerator berfungsi sebagai peneliti utama untuk proyek 18 bulan yang melibatkan pembangunan reaktor biomassa efisiensi tinggi. Tentunya pembangunan reaktor menggunakan GVL agar mampu menghasilkan aliran gula konsentrasi tinggi dan Lignin. Karbohidrat dan Lignin yang dihasilkan dari reaktor akan dikirimkan ke kolaborator ilmiah, kemudian diubah menjadi bahan kimia terbarukan berharga dan bahan bakar biofuel.

Jika proyek ini nantinya berhasil mencapai target pengurangan biaya dalam produksi gula, lignin dan etanol, banyak produsen biofuel berharap bahwa hal ini mampu membantu sektor ekonomi konsumen (khususnya daya beli) jauh dibawah harga bahan bakar fosil.

Referensi


Renewable chemical ready for biofuels scale-up, publish 16 Januari 2014 by University of Wisconsin Madison. Journal ref: Nonenzymatic Sugar Production from Biomass Using Biomass-Derived-Valerolactone. Science, 2014

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.