Ads Top

Mengapa Sebagian Bintang Lebih Besar Daripada Matahari?


Fakta ilmiah yang kita ketahui saat ini, bahwa bintang besar di luar galaksi Bima Sakti setidaknya memiliki ukuran delapan kali massa matahari. Misteri ini membuat berbagai ilmuwan fisika dan astronomi bertanya-tanya, bagaimana bintang-bintang itu lebih besar sementara sebagian besar bintang di Bima Sakti jauh lebih kecil.

Jonathan Tan seorang astrofisikawan dari University of Florida, gainesville, menerbitkan makalah tentang bintang-bintang besar dan matahari yang mengikuti mekanisme universal dalam pembentukannya, sehingga salah satu yang membedakan ukuran disebabkan awan induknya. Model yang dijelaskan dalam paparan ilmiah Jonathan Tan memberikan gambaran tentang pembentukan bintang, hal ini mampu menjelaskan sebagian misteri besar penciptaan bintang di galaksi Bima Sakti. Keberadaan awan yang lebih besar mungkin dibutuhkan untuk mengetahui pembentukan bintang besar.

Pengaruh Awan Dan Gravitasi Pada Ukuran Bintang 


Dalam mencari jawaban misteri luar angkasa, para ilmuwan melakukan survei inti menggunakan teleskop Atacama Large Milimeter Array (ALMA) dibeberapa wilayah paling gelap, dingin, dan awan angkasa terpadat di galaksi untuk mengetahui bagaimana terjadinya pembentukan bintang. Benda angkasa yang diamati tersebut dikenal sebagai Dark Clouds yang bisa diamati pada jarak 10 ribu tahun cahaya ke arah konstelasi Aquila dan Scutum. ALMA merupakan fasilitas astronomi internasional dan bagian dari program kemitraan Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur yang bekerjasama dengan Republik Chile. Sistem operasional ALMA digunakan oleh ESO (Eropa), National Radio Astronomy Observatory (Amerika Utara), dan National Astronomical Observatory of Japan (Asia Timur).

bintang sirius, bintang besar

Bintang yang terbentuk di galaksi Bima Sakti rata-rata terdiri dari 71 persen hidrogen dan 27 persen helium, jika diukur dengan massa maka sebagian kecil elemen gas terkadang lebih berat. Porsi unsur utama diukur dalam rasio kandungan besi dari atmosfer bintang, karena besi merupakan unsur umum dan garis penyerapan relatif mudah diukur. Awan molekul membentuk bintang yang terus diperkaya unsur-unsur utama dan pengukuran komposisi kimia dari sebuah bintang dapat digunakan untuk mengetahui usia, karena bagian kimia yang lebih berat bisa menjadi indikator kemungkinan adanya sistem planet.
Inti awan galaksi yang diamati sangat besar dan padat, sehingga gravitasi sudah tidak mampu untuk menekan gas pendukung yang memungkinkan awan tersebut membentuk bintang baru. Apabila sebuah bintang belum mulai bersinar, maka benda ini akan menjadi petunjuk bahwa suatu benda yang lebih besar mungkin telah tercipta di awan tersebut. 
Proses pembentukan pada inti bintang yang masih kecil akan memberi petunjuk adanya beberapa gaya yang menyeimbangkan tarikan gravitasi, awan mengatur pembentukan bintang dan sangat memungkinkan menumpuk beberapa materi utama sehingga ukurannya mampu lebih besar dari pada matahari. Kebanyakan bintang, atau rata-rata ukuran bintang seperti matahari mulai bersinar dan diyakini lebih padat dan konsentrasi massa hidrogen dan helium relatif rendah, sementara elemen lain di dalam awan molekul lebih besar. 

Setelah kernel awan mulai muncul dari gas yang berada disekitarnya, materi mulai mengikuti tarikan gaya gravitasi ke wilayah tengah dengan cara relatif melalui disk akresi yang berputar-putar. Dimana pada akhirnya proses ini nantinya bisa membentuk planet, dan setelah massa cukup terakumulasi fusi nuklir mulai bekerja pada inti, saat inilah bintang baru terlahir. Tentunya, beberapa materi tambahan sangat diperlukan untuk mengimbangi proses pemisahan normal, jika galaksi memiliki populasi bintang yang cukup beragam. Atau kemungkinan adanya dua model terpisah dari pembentukan bintang, dimana satu bintang seperti matahari dan yang satunya akan menciptakan bintang ukuran besar

Para astronom menggunakan teleskop untuk melihat ke dalam inti awan untuk mencari jejak kimia unik yang melibatkan isotop deutreum, hal ini untuk mengetahui suhu awan dalam menganalisis apakah bintang telah terbentuk. Deutreum dianggap sangat penting karena ikatan cenderung  pada molekul tertentu dalam kondisi dingin. Ketika bintang menghidupkan dan memanaskan gas di sekitarnya, deutreum akan cepat menghilang dan segera digantikan dengan isotop hidrogen yang lebih umum terjadi pada bintang aktif.

Pengamatan pada teleskop ALMA mendeteksi jumlah deutreum berlebihan, situasi ini menjelaskan bahwa awan dingin dan tidak memiliki bintang. Fenomena tersebut menunjukkan beberapa materi telah memisahkan inti dan menghabiskan waktu dalam membentuk bintang besar. Mungkin saja hal ini terjadi karena adanya medan magnet yang kuat untuk menopang awan. Banyak benda angkasa ditemukan yang mirip dengan proses pembentukan bintang seperti matahari, tetapi skalanya lebih besar puluhan atau ratusan kali dari massa matahari.

Referensi


Starless Cloud Cores Reveal Why Some Stars Are Bigger Than Others,  by National Radio Astronomy Observatory (20 December 2013). Image A white dwarf star in orbit around Sirius via Wikipedia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.