Ads Top


Bumi Akan Kehilangan Air Laut Drastis Masa Mendatang

Sejak iklim Bumi meningkat dalam beberapa tahun terakhir, berbagai analisa dan tanda tanya tentang kehidupan akhir Bumi mulai diteliti berbagai ilmuwan. Salah satunya adalah prediksi tentang air laut yang menghilang, menguap seiring berjalannya waktu, meningkat sejak era industri. Prediksi ini memperkirakan air laut akan menguap drastis dalam beberapa dekade mendatang jika tidak ada antisipasi serius.

Kenaikan iklim Bumi pada luminositas, sebuah proses yang sangat lambat dipengaruhi sistem surya akan menyebabkan suhu bumi meningkat selama beberapa ratus tahun ke depan. Tim dari Laboratoire de Météorologie Dynamique menyatakan bahwa proses ini menyebabkan air laut menguap secara keseluruhan. Model iklim tiga dimensi yang diperkenalkan mampu membuat simulasi fenomena (prediksi) cairan di permukaan bumi akan menghilang sekitar satu miliar tahun mendatang. Dugaan ini memperluas perkiraan sebelumnya yang menyebut Bumi akan kehilangan lautan dalam waktu ratusan juta tahun, prediksi jauh lebih lama disertai antisipasi.

Air Laut Menguap Drastis


Penelitian ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang evolusi planet Bumi, tetapi juga memungkinkan dalam menentukan kondisi yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan air di planet lain yang dengan mirip Bumi. Luminositas pada Matahari sama seperti pada bintang umumnya, proses sangat lambat selama keberadaannya menyinari planet. Luminositas adalah tenaga radian yang dikeluarkan dalam bentuk foton, meningkat 7 persen setiap satu miliar tahun. Karena radiasi matahari lebih tinggi membuat iklim bumi akan menjadi lebih hangat selama rentang waktu Geologi (dalam urutan ratusan juta tahun). Secara independen, pemanasan iklim sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia yang telah berlangsung selama puluhan tahun. 

air laut kering

Sejak dimulai era industri, perubahan iklim bumi meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Dimana kebutuhan industri pada awalnya menciptakan emisi karbon dioksida dalam jumlah besar, khususnya bahan bakar batu bara dan kayu. Sejak masa-mas ini, jumlah uap air terus meningkat di atmosfer yang menyebabkan permukaan lautan menjadi hangat sehingga air menguap lebih cepat. Uap air merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan pada permukaan bumi.

Atas dasar itu, para ilmuwan memprediksi bahwa pemanasan iklim yang terjadi di permukaan Bumi telah menyebabkan lautan mendidih dan lapisan es mencair, penguapan membuat Bumi kehilangan sebagian besar air laut. Konsekuensi lain, bahwa efek rumah kaca akan memasuki keadaan tidak stabil sehingga mustahil permukaan bumi untuk mempertahankan suhu rata-rata 15 derajat Celcius. Fenomena ini juga menjelaskan mengapa planet Venus berubah menjadi sangat panas dari waktu ke waktu, secara tidak langsung menganalisis evolusi iklim exoplanet.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, kapan giliran situasi ini terjadi pada Bumi? Hingga saat ini sangat sulit untuk memperkirakan kapan Bumi kehilangan air laut, fenomena yang selama ini terjadi hanya diselidiki menggunakan astrofisika sederhana atau hanya menggunakan model satu dimensi. Model satu dimensi dianggap gagal dalam memperhitungkan faktor-faktor utama, seperti awan dan musim yang silih berganti. Model iklim yang digunakan untuk memprediksi iklim permukaan bumi selama dekade mendatang tidak sesuai pada saat suhu tertinggi. Jadi menurut model satu dimensi, Bumi akan kehilangan semua air laut di permukaan dan berubah menjadi planet Venus dalam waktu 150 juta tahun mendatang.

Tetapi tim dari Laboratoire de Météorologie Dynamique telah merancang sebuah model 3 dimensi yang dapat memprediksi bagaimana lingkungan teresterial akan berubah dibawah pengaruh peningkatan yang signifikan dalam fluks matahari, semua ini akan menyebabkan penguapan air laut ke atmosfer. 
Model ini menjelaskan titik kritis yang akan terjadi ketika fluks matahari rata-rata mencapai 375 W/m2 dengan suhu permukaan sekitar 70 derajat Celcius, diperkirakan air laut menghilang terjadi dalam waktu satu miliar tahun mendatang. Sementara pada saat ini fluks matahari rata-rata mencapai 341 W/m2.
Lautan diperkirakan akan mulai mendidih dan efek rumah kaca akan meningkat hingga memasuki keadaan seperti planet Venus, Bumi semakin mendekat ke matahari. Perbedaan ini tentunya disebabkan adanya sirkulasi atmosfer, sementara panas dari garis khatulistiwa menuju pertengahan garis lintang akan memasuki iklim panas. Salah satu solusinya adalah mengurangi efek rumah kaca, penggunaan zat yang menghasilkan karbon dioksida, karena daerah ini merupakan yang paling mungkin mengalami iklim terpanas.

Peningkatan fluks matahari memberikan efek pada sirkulasi atmosfer, seperti pengeringan di beberapa daerah subtropis bahkan antisipasi bisa memungkinkan kestabilan iklim selama beberapa ratus juta tahun sebelum Bumi mencapai titik prediksi mengerikan. Efek perlindungan awan atau kemampuan mensaring radiasi matahari secara langsung ke permukaan bumi, teknik ini akan membantu untuk mendinginkan dimana nantinya iklim cenderung menurun selama jutaan tahun dibanding dengan saat ini yang dipenuhi efek gas rumah kaca. Jadi, dimasa mendatang kita bisa saja tidak melihat matahari karena ilmuwan lain sudah berencana membuat awan yang akan menutupi seluruh langit, rencana mengurangi air laut menguap ke atmosfer.

Referensi

When will the Earth lose its oceans? Image simulations of the Earth's surface temperatures at the spring equinox, with an increasingly luminous Sun in the future via CNRS. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.